Senin, 10 Oktober 2011

Garis Finish dan Angka 19

Assalamu'alaikum saudara-saudari beriman. Semoga kita selalu budiman.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Aku masih belajar bagaimana mengetik ide di layar laptop secara asik, menarik tanpa intrik.

Terima kasih untuk Sang Pengasih karena masih memberikanku waktu untuk tetap hidup di dunia ini. Terima kasih karena usiaku kini bertambah. Terima kasih karena kini aku berada di penghujung umur belasan. Ya, aku baru saja berulang tahun yang ke 19. Umurku bertambah setiap detik. Tetapi angka yg kini '19' itu hanya bertambah 1 kali setiap tahun. Dan kini aku mulai menua. Terdengar berlebihan.

Salahsatu hal yang paling menyenangkan ketika berulangtahun bagiku adalah begitu banyak do'a yg mengalir untuk kita. Ah andai saja setiap hari adalah hari ulang tahunku.

Dan di ulang tahun kali ini aku kembali berada jauh dari rumah. Sama seperti tahun sebelumnya. Di ulang tahun kali ini tidak ada hal yg lebih spesial selain ucapan dari Mama tercinta di ujung telepon sana yang menangis haru mengucapkan selamat untukku.

"Rasanya Mama pengeeen kali meluk Fuza sekarang, Selamat ulang tahun ya Nak, hiks.. hiks." Mama terisak di ujung telepon sana. Dan aku terdiam di sini memendam rindu yang terasa sesak di dada.

Umurku bertambah, jatah hidupku di dunia semakin berkurang. Entah sampai kapan aku masih bisa bernafas. Hidup di dunia ini seperti balapan saja. Kita mungkin seperti berlomba menuju kematian, dengan garis finish yang sama dan catatan waktu yg berbeda. Banyak orang yang telah mendahuluiku mencapai garis finish yang bernama 'kematian' itu. Sementara aku masih mengikuti perlombaan yang bernama 'kehidupan' ini di angka 19 tahun.

Tak terasa memang ternyata aku sudah 19 tahun hidup di dunia ini. Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri terhadap makna hidupnya. Dan begitu juga aku. Aku jadi teringat dengan perkataan Rasulullah mengenai makna hidup di dunia ini.

” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Hidup di dunia tidak sendirian. Hidup menurutku bukan hanya untuk diri sendiri. Kita juga hidup untuk orang lain. Dan manusia yang hidupnya paling bermakna adalah manusia yang bisa memberikan banyak manfaat  bagi orang lain.

Dan di angka 19 ini aku masih berusaha untuk bisa memberikan 'sesuatu' untuk orang lain. Dan di angka 19 ini aku masih belajar untuk lebih banyak memberi daripada hanya terus menerima.

Aku tidak tahu apakah perjalanan hidupku ini masih akan berlanjut ke angka-angka yang lebih tinggi dari 19. Atau mungkin akan terhenti seperti orang-orang yang telah mendahuluiku menuju garis finish yang bernama kematian itu.

Aku ingin sebelum aku mencapai garis finish hidupku nanti, setidaknya aku telah meninggalkan banyak hal yang bermakna bagi orang lain.

Selamat bertambah umur Fuza. Selamat menjalani sisa hidup ini dengan hal yg bermakna

Sabtu, 01 Oktober 2011

Malas Itu Rugi

Assalamu'alaikum saudara-saudari budiman. Semoga hidup selalu aman.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Aku masih tukang ketik amatiran. Sukurlah kalau kau masih mau membaca hasil ketikanku

Sudah lama juga tidak posting lagi. Namanya juga anak kuliah, banyak tugas menumpuk, dan kemarin baru saja selesai UTS (Ujian Tengah Semester). Dan kini akhirnya aku bisa menulis lagi, bercerita lagi di sini.

Berbicara tentang UTS, wah aku masih harus banyak belajar. Memang benar kata Om Mario, orang-orang yg malas saat ini akan dipaksa bekerja keras di kemudian hari. Dan itu yang aku rasakan. Aku yg malas untuk mengulang bahan kuliah selama ini,   terpaksa harus begadang sampai larut malam untuk mengulang semua materi kuliah dari awal semester. Dan ini kulakukan ketika UTS menjelang. Para sesepuh menyebutnya SKS, Sistem Kebut Semalam. Malah kadang singkatan itu menjadi Sistem Kebut Sejam, bayangkan apa yang bisa kita pelajari jika waktu hanya tinggal 1 jam sebelum UTS dimulai.

Sukurnya hampir semua mata kuliah yang diujikan diperbolehkan 'open book'. Allah memang Maha Penyayang.

Intinya, jadi orang malas itu tidaklah enak, pasti merugi. Ruginya selangit. Jadi orang malas itu efeknya besar, dampaknya luas. Jauhilah malas dekatilah rajin. Rajin pangkal sukses, malas pangkal gagal.

Yasudahlah, sekian dulu posting kali ini, jangan lupa lihat kiri dan kanan kalau menyeberang jalan. Hidup itu pilihan. Sekian