Sabtu, 24 September 2011
MARKISEMKUL: Mari Kita Semangat Kuliah
Baiklah. MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Layaknya postingan-postingan sebelumnya, aku masihlah penulis amatiran. Atau mungkin lebih tepatnya tukang ketik amatiran. Tapi tak apalah, lagi-lagi tidak ada salahnya mencoba.
Tak terasa sudah seminggu juga aku jauh dari rumah. Karena dihadapkan langsung dengan sibuknya dunia kuliah, waktu terasa berjalan begitu cepat sehingga rasanya baru kemarin aku balik ke Depok. Sebenarnya kuliah juga gak terlalu sibuk, hanya waktu saja yg mungkin bosan berlama-lama denganku sehingga ia berlalu begitu cepat tanpa kusadari.
Rasa rindu ini kadang-kadang menghinggapiku. Menjalar di tubuhku. Mengitari dan berkeliling di hatiku. Andai saja aku sekarang berada di rumah. Rindu terbesarku adalah kepada sang Ibunda. I miss my Mom. Mama tercinta. Kasih sayangnya tiada duanya, apalagi tiga. Lalu kepada Ayah rindu ini bersarang. Ayah paling hebat di dunia. Hanya kasih sayang Mama yg bisa menandingi besarnya cinta beliau kepadaku. Betapa aku merindukan mereka.
Oke, cukuplah 2 paragraf saja aku menuliskan rasa rinduku. Bisa-bisa semangat kuliah lesu gara-gara salah mengelola rasa rindu. Saatnya beralih topik.
Dan ternyata masih banyak saja orang yang kutemui mengeluh tentang kuliah, malas untuk kuliah. Jujur saja akupun pernah merasakannya. Namun coba kita renungkan sejenak. Kurang bahagia apalagi hidup kita bisa mengecap manisnya ilmu di bangku kuliah. Kurang apalagi?? Coba kita lihat sedikit saja ke bawah. Banyak teman-teman kita yang berebut ingin merasakan nikmatnya mereguk ilmu seperti kita tetapi terhalang biaya. Banyak teman-teman kita yg bersedia menggantikan kita untuk duduk di kelas dan mendengarkan dosen mentransfer ilmu. Tetapi mereka tidak bisa, mereka kurang beruntung. Dan mungkin lagi-lagi mereka terbentur masalah biaya. Maka pantas bagi kita untuk bersyukur, sangat-sangat bersyukur. Bukankah Sang Maha Pemberi menjanjikan nikmat yg banyak bagi orang-orang bersyukur? Ga percaya? Ini nih janji-Nya :
“Jika kamu bersyukur, akan Kutambahkan nikmatKU kepadamu. Akan tetapi jika kamu kufur sesungguhnya azabKU amat pedih” (QS.14/Ibrahim:7)
Tuhan aja udah janji, pastilah Dia menepati. Siapa lagi yang paling menepati janji di dunia ini selain Allah Sang Mahakuasa? Kalau udah begitu, ga ada alasan lagi untuk tidak bersyukur. Dan dalam hal ini, syukur ga cukup diungkapin dengan kalimat 'Alhamdulillaah' aja. Rasa syukur itu bisa diwujudkan dengan semangat ngikutin kuliah. Semangat ngerjain tugas kuliah dan gak mengeluh untuk menjalani itu semua. Hati-hati bagi yg suka mengeluh, karena pada ayat di atas orang-orang yg suka mengeluh alias gak bersyukur bisa-bisa malah ditambah kesulitannya. Tetapi tenang aja, karena kalau kita mensyukuri kuliah, nikmat kita akan ditambah. Bisa aja nanti IPK kita juga di tambah. Hehehe. Amiiiin
Sekarang mari lihat wajah orangtua kita, yang tersenyum bangga melihat kita diterima di perguruan tinggi negeri. Betapa bersyukurnya mereka. Betapa bangganya mereka melihat kita. Jujur saja, aku takkan melupakan senyum bangga Ayah ketika beliau mengetahui bahwa aku lulus SNMPTN dan bisa berkuliah di sini. Aku juga takkan bisa melupakan tangis haru Mama sambil memelukku untuk meluapkan rasa bangga dan kegembiraannya. Aku takkan melupakan itu semua, teman. Aku juga takkan bisa melupakan rasa risau di wajah Ayah ketika mengetahui bahwa biaya untuk kuliahku ternyata cukup mahal. Dan akhirnya tersenyum menenangkanku agar tidak usah mengkhawatirkan masalah biaya. Walaupun sebenarnya aku tahu, masalah biaya itu sempat mengganjal di hati beliau. Lantas setelah semua kebanggaan dan segala hal yg telah dilakukan oleh kedua orangtuaku, masih pantaskah aku untuk malas kuliah? Jujur saja, sebenarnya aku malu. Aku malu bahwa rasa malas untuk kuliah kadang terbersit di otakku. Aku malu karena terkadang menyia-nyiakan semua pengorbanan mereka
Di manapun kita kuliah, orangtua kita pasti menaruh harapan besar pada kita. Oleh karena itu teman, jangan menyia-nyiakan kuliah kita, pengorbanan orangtua kita. Harapan mereka terlalu besar untuk kita sia-siakan. MARKISEMKUL : Mari Kita Semangat Kuliah!!!
Senin, 19 September 2011
Ketika Semangat Naik Turun
MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Layaknya penulis amatiran, aku masih bingung akan menulis apa. Tapi seperti biasa, tak ada salahnya dicoba.
Pernahkah kau merasa semangat begitu menggelora? Yaitu semangat menggelora untuk meraih mimpi-mimpi yg telah kita catat dalam otak kecil kita. Pasti pernah. Kalau tidak pernah, sisi manusiawimu patut kuragukan. Aku juga pernah merasakannya. Rasa semangat itu muncul bersamaan dengan rasa optimis yg juga menggelora. Ya, kau juga pasti pernah merasakannya. Dan saat kau sedang merasakan perasaan itu, semua hal dan mimpi yg terpatri di otakmu serasa akan mudah untuk diagapai dan dicapai. Semua impian terasa menjadi sangat realistis.
Tahukah kau teman? Perasaan semangat seperti ini biasanya muncul ketika aku selesai berdo'a. Sang Mahakuasa mungkin meniupkan rasa optimis di dadaku ketika aku selesai mengutarakan impian-impianku yg banyak sekali. Dan memang Dia lah sumber rasa semangat itu. Setiap aku selesai berdo'a, aku selalu berpikir dan akhirnya meyakini bahwa segala impian dan do'aku pasti bisa tercapai dengan segala kuasa dan kehendak yg Dia miliki. Maka saat itulah aku merasa semangat dan optimis menggelora di dalam dada bahwa semua impianku akan terwujud. Pada titik ini, segala rasa pesimis hilang seketika dari dada ini. Dan itulah enaknya kalau kita mempunyai keyakinan akan keberadaan-Nya. Semua hal terasa mungkin untuk terwujud.
Tetapi seiring berjalannya waktu, kau pasti pernah merasakan semangat dan optimis yang menggelora itu meredup. Semua hal yg waktu itu terasa sangat mudah digapai lama kelamaan malah semakin terasa sulit. Memang begitulah impian, pasti ada tantangan yg kadang menghalanginya. Tetapi jika rasa ini dibiarkan terus meredup malah akan mengubah rasa optimis menjadi pesimis. Dan impian hanya akan menjadi mimpi kosong. Tenang teman, aku juga pernah merasakannya. Kita senasib.
Dan jika semangat sedang ngedrop begitu, aku akan kembali mengingat satu hal. Sebenarnya siapa sih yg paling berkuasa di atas bumi ini? Dari siapa sih sebenarnya rasa semangat yg muncul dalam diri kita? Siapa sih yg berkuasa atas impian-impian kita? Yap, benar sekali. Dia adalah Sang Pencipta. Sang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan kalau sudah menyadari hal ini, ada satu ayat yg langsung terlintas di benakku
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Jika teringat dengan ayat ini, maka biasanya rasa optimisku akan perlahan-lahan naik kembali dan akhirnya semangat menggelora lagi. Allah bahkan udah janji dengan seluruh hamba-Nya, kalau kita meminta sesuatu kepada-Nya pasti dikabulkan. Tidak mungkin tidak. Ini janji Tuhan lho. Masih mau meragukan juga?
Intinya sih, jangan pernah pesimis menggapai impian. Kita tinggal meminta aja kok sama Tuhan, dan pasti dikabulin. Tetapi ya jangan lupa juga menjalankan semua keinginan-Nya. Masa kita aja yg kemauannya pengen diturutin, tetapi menuruti keinginan Tuhan malah ogah. Kan gak fair jadinya. Dan jangan lupa juga berusaha, karena Allah juga akan menjawab do'a kita sesuai dengan usaha yg kita lakukan. Kalau udah tau begini, masih pesimis juga?
Kamis, 15 September 2011
Kembali Kuliah, Maba, dan Sarjana
MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Seperti biasa, bingung juga mau nulis apa. Tapi yasudahlah. Apa salahnya dicoba.
Dan akhirnya aku sampai juga di kota Depok. Kota tempatku melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Cukuplah aku bersedih dan berkeluh kesah akibat jauh dari kota kelahiran. Saatnya menatap hari-hari menuntut ilmu di kota orang dengan penuh optimis menggelora di dada. Terdengar berlebihan.
Perjalanan dari Medan-Jakarta sungguh melelahkan. Pesawat yg kutumpangi delayed kira-kira 1,5 jam. Sukurlah pramugarinya lumayan cantik, tetapi tetap saja tidak bisa menggantikan waktu yg terbuang percuma. Beginilah nasib angkot udara di negara kita, susah tepat waktunya, walaupun tidak terlepas dari perilaku penumpangnya yg sering terlambat check in. Tapi yasudahlah. Capek juga mengeluh. Biarlah nanti aku beli pesawat terbang sendiri.
Dan hari ini adalah hari pertama kuliahku, yg sebenarnya sudah dimulai 2 hari yg lalu. Tetapi apalah daya, pada hari itu raga ini masih di Medan. Harga tiket pesawat (yg sering delayed itu) belum bersahabat pada hari pertama masuk kuliah. Dan aku memilih bolos.
Hari pertama kuliahku (yg sebenarnya terlambat) kuawali dengan rasa optimis IP semester ini akan berada di atas angka 3, dan lebih bagus lagi jika di atas 3,5. Semoga saja. Amin. Semua terasa biasa saja saat aku di kampus. Hal yg membedakan hanyalah kali ini aku melihat banyak wajah-wajah baru bermunculan. Wajah-wajah yang masih menyisakan keluguan dan keangkuhan masa SMA. Ternyata merekalah para mahasiswa baru (maba). Selamat datang wahai anak muda, selamat menikmati indahnya tantangan dan keajaiban kuliah. Jangan pasang wajah lugu, apalagi sok tahu. Nanti kau rasakan sendiri suka duka kuliah.
Dan melihat para maba berseliweran, entah kenapa aku ingin cepat menjadi sarjana.
Rabu, 14 September 2011
Ke Depok Aku Kembali
Assalamu'alaikum saudara saudari sekalian yg saya cintai. Bagaimana kabar anda-anda sekalian? Superrr Sekaliiii.
Oke, MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi. Sebenarnya bingung juga mau nulis apaan. Tetapi ya sudahlah, yg penting menulis saja dahulu, lebih tepatnya mengetik.
Hari ini aku akan kembali ke kota Depok. Kembali akan menjalani hari-hari kuliah penuh tantangan dan rintangan yang kadang tinggi menjulang. Dan kembali harus meninggalkan kota Medan tercinta ini dengan segala kenangan yg ada. Terdengar berlebihan.
Dan sekarang aku sedang sibuk packing. Banyak barang yg harus dibawa. Jangan kau kira aku sedang packing pakaian. Karena yg kulakukan sekarang adalah packing makanan. Yep, Mama tercinta menyiapkan banyak makanan cemilan untukku di kosan nanti. Mulai dari ikan teri goreng kentang yg rasanya gurih dan renyah, ayam goreng untuk makan malam nanti, dan pastinya sisa kue lebaran yg tidak habis. Semua disusun dengan rapi di dalam sebuah kotak. Banyak juga makanan ini, sampai-sampai aku merasa dipersiapkan menjadi relawan yg akan membawa sembako ke Somalia.
Cuaca diluar jendela kamarku tampak mendung. Mungkin langit kota Medan bersedih karena akan kutinggalkan untuk waktu yg lama, yang aku sendiri pun tidak tahu kapan akan kembali. Terdengar berlebihan. Dan di sinilah aku sekarang, menghabiskan saat-saat terakhir di dalam kamar tidurku yg jauh lebih nyaman daripada kamar kosanku. Saat-saat yg melankolis. Kadang sedih juga harus meninggalkan kota kelahiran kita. Tapi hidup itu pilihan. Dan aku sudah memilih untuk pergi dari kota ini dan menuntut ilmu di kota orang yg jaraknya hanya 2 jam dari kota asalku jika kau naik pesawat terbang, itu juga kalau pesawatnya tidak terlambat.
Jika sedih begini, aku langsung teringat penggalan syair Imam Syafi'i yg bunyinya seperti ini
Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang
Jika membaca kalimat ini, semangatku tersentak kembali. Kesedihan menghilang. Cerdas nian Imam Syafi'i dengan kalimat-kalimat inspiratifnya.
Dan semangatku untuk kembali menjalani kuliah jauh dari kota asalku semakin bertambah jika mengingat bahwa ternyata Rasulullah juga 'merantau' atau lebih tepatnya hijrah. Dan hijrahnya beliau berbuah manis dengan berkembang pesatnya agama Islam. Dan itulah yg aku harapkan, semoga 'hijrah' yg aku lakukan juga akan berbuah manis nantinya.
Cuaca di luar jendela kamarku masih mendung, namun hatiku tidak. Aku masih menyimpan harapan untuk bisa kembali ke kota ini, Medan, suatu saat nanti, layaknya kisah kembalinya Rasulullah ke tanah kelahiran beliau, Mekkah.
Yasudahlah. Aku masih terduduk di kamarku ini, di depan layar 14 inch ini untuk berbagi dengan kalian. Aku masih terduduk di kamar ini, menunggu Mama pulang membawa bolu Meranti.
Selamat Menjalani Hidup, jangan lupa lihat kiri dan kanan kalo nyebrang.
Senin, 12 September 2011
Kuliah kok Malah Mengeluh?
Kamis, 08 September 2011
Pindah
Mari menulis lagi
Yak sodara2 sekalian. Sudah lama jari jemari ini tidak mengetik. Ingin menulis kadang pikiran buntu. Tapi kalo gak menulis, otak tumpul juga. Tapi ya sudahlah.
Ini adalah hari-hari terakhir libur kuliahku. Ini adalah hari-hari terakhirku di kota Medan, kampung halaman. Minggu depan akhirnya harus balik juga ke Depok untuk menjalani hari-hari kuliah penuh tantangan.
Kabar baik datang dari Ayahanda tercinta. Beliau sudah resmi dipindahtugaskan dari kantornya di Medan ke kota Jakarta. Itu artinya kami sekeluarga akan tinggal di kota Jakarta dalam waktu dekat. Ya, kami sekeluarga akan pindah.
Rencana kepindahan ini sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari semenjak aku kuliah di Depok. Maklum saja Ayah dan Mama kesepian untuk tinggal hanya berdua di rumah berhubung kami anak-anaknya sudah merantau di Jakarta. Dan akhirnya rencana ini terwujud.
Ada rasa bahagia yg muncul mendengar kabar ini. Akhirnya kami sekeluarga bisa berkumpul bersama lagi, hal yg biasanya hanya terjadi jika lebaran tiba. Namun terselip juga rasa sedih. Akhirnya aku harus meninggalkan kota kelahiranku, Medan. Entah kapan akan bisa kembali lagi ke kota ini.