Rabu, 11 Mei 2011

Mimpi-mimpi Kecilku

Setiap orang pasti punya mimpi dan impian di masa kecilnya. Begitu juga aku, dan pasti engkau juga. Dan biasanya impian kita saat itu sangatlah tinggi. Lebih tinggi dari langi-langit atap rumah. Namun seiring bertambahnya usia, mimpi-mimpi itu terlihat semakin tinggi sampai-sampai tidak lagi terlihat mata dan akhirnya hilang begitu saja.

Dulu aku punya mimpi. Impian yang besar. Impian yang mungkin kau juga pernah memimpikannya. Aku bermimpi untuk menjadi presiden. Saat itu aku cukup terkesima dengan presiden ke 2 negara ini. Soeharto. Dulu aku sempat mengira Pak Harto adalah presiden seluruh dunia, ternyata aku salah. Aku yang saat itu masih kecil berpikir orang yang setua itu saja bisa memerintah Negara yang sangat besar ini. Kenapa aku tidak? Namun impianku ketika itu langsung berubah. Jatuhnya hegemoni Soeharto membuatku enggan menjadi presiden. Aku yang saat itu masih berada di taman kanak-kanak berpikir menjadi presiden tidaklah enak. Harus mengurus ratusan juta orang dengan wilayah seluas negaraku ini pastilah sulit. Apalagi orang-orang di negaraku ini adalah orang yang lihai mengkritik dan menghujat serta pandai mencari kesalahan orang lain, termasuk aku. Pastilah sulit. Pastilah merepotkan. Pastilah melelahkan untuk menjadi presiden di Negara ini. Namun saat ini aku malah heran. Dengan masalah yang sangat kompleks di Negara ini, orang-orang malah berlomba-lomba untuk menjadi presiden di Negaraku yang masih carut marut ini.

Akhirnya aku mengalihkan impianku untuk bisa menjadi pemain sepak bola. Impian hampir semua anak lelaki saat kecil. Aku terpesona melihat para pemain sepak bola yang lihai menggocek bola lalu menendangnya hingga masuk ke gawang. Aku merasa menendang bola bukanlah perkara yang sulit bagiku. Hanya tinggal menendang, memasukkan bola ke gawang, tidak perlu repot memikirkan nasib orang banyak bahkan bisa mendapat pujian dari penonton. Kalaupun mendapat cacian atau kritikan, toh sepakbola adalah permainan tim, segala cacian dan makian dibebankan kepada seluruh tim, tidak perseorangan, walaupun kadang-kadang cacian terhadap individu terjadi juga. Aku mantap dengan pilihanku. Tapi apalah daya. Kakiku sering keseleo karena sering bermain di lapangan bola yang penuh batu dan pasir. Orangtuaku menganggap aku tidaklah cocok menjadi pemain sepakbola. Tulang kakiku dianggap terlalu lunak.

Akhirnya aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar berhenti untuk memikirkan impian dan cita-cita. Aku lebih memilih untuk serius belajar di bangku sekolah. Masalah impian dan cita-cita, nantilah dipikirkan setelah aku cukup dewasa. Dengan serius belajar di bangku sekolah, aku mendapat hasilnya juga. Aku selalu berada di jajaran 5 besar juara kelas. Prestasi yang cukup membanggakan. Namun aku masih belum mempunyai impian dan cita-cita yang baru.

Hingga kini akhirnya aku kuliah di jurusan Teknik Perkapalan. Ini mungkin impianku, cita-citaku, walaupun ketika kecil aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi insinyur kapal laut. Tapi ya beginilah hidup. Hidup ini pilihan. Aku telah memilih jalanku, impianku. Tapi tahukah kau? Satu hal yang kusadari tentang impian. Apapun mimpi dan impian yang ingin kita capai, haruslah bermanfaat bagi orang lain juga.

Jumat, 06 Mei 2011

Nama dan Do'a Untukku

Nama adalah do'a. Kalimat itu sering aku dengar, mungkin kau juga. Ada juga yang mengatakan Apalah arti sebuah nama. Toh nama hanyalah sebuah panggilan, bukan identitas kepribadian.

Tetapi aku lebih setuju dengan kalimat yang pertama. Nama itu penting bagiku. Nama adalah do’a. Nama adalah harapan. Nama adalah impian.

Namaku memiliki arti yang sangat dalam. Dan juga mempunyai cerita tersendiri. Ketika aku dilahirkan, orangtuaku bingung untuk memberiku sebuah nama, karena aku adalah anak yang terakhir. Kreativitas kedua orangtuaku untuk memberi nama telah dicurahkan pada kedua abangku sebelumnya. Mereka memiliki nama-nama yg panjang dan bagus. Abangku yang pertama bernama Muhammad Taqwa Audiansyah. Abangku yang kedua bernama Ahmad Taqwim Al-Fariz. Sungguh bagus sekali nama mereka.

Mama bercerita, ketika aku dilahirkan, Ayah sudah menyiapkan sebuah nama untukku. Nama yang menurut Ayah sangat bagus. “Syarbaini”. Itulah nama yang diajukan Ayah sebagai namaku. Nama itu adalah singkatan dari nama Ayah dan Mama. Syahril dan Nurbaini. Tetapi Mama cemberut. Beliau menolak nama itu. Aku pun bersyukur dalam hati. Mama kemudian memohon kepada Ayah agar urusan nama ini biarlah beliau yang memberikan. Karena melihat perjuangan Ibuku yang bersusah payah bertaruh nyawa melahirkanku, Ayahpun memeberi hak prerogative ini pada Mama.

Mama lalu mencari-cari nama yang bagus untukku. Mulai dari membaca-baca buku kumpulan nama. Bertanya-tanya kepada saudara, dan berbagai macam usaha lainnya. Nama kedua abangku sebelumnya terdiri lebih dari 2 kata. Do’a-do’a panjang tertera dalam nama mereka. Namaku tentulah harus sebaik dan sebagus nama kedua Abangku, bahkan kalau bias lebih dari mereka. Suatu kali Ayah pernah berseloroh ketika Mama sibuk mencari-cari nama yang tepat untukku. Begini kira-kira percakapannya.

“Ben.” Ayahku memulai pembicaraan. Ben adalah panggilan untuk Mamaku.

“Ya Bang.” Mama masih sibuk membolak-balik buku kumpulan nama.

“Nama anak pertama kita kan Taqwa. Terus, nama anak kedua kita Taqwim. Supaya mirip dengan nama abang-abangnya, nama anak ketiga kita ini cocoknya….” Ayah sedikit menggantung jawabannya.

“Apa yg cocok namanya Bang?” Mama mulai penasaran.

“TEKWAN!” Jawab Ayah mantap.

Mama kembali cemberut.

Hingga pada suatu hari saudaraku memberi Mama buku kumpulan nama-nama yang bagus yang diambil dari Al-Qur’an.

Lalu ditemukanlah sebuah nama. Nama yang sangat bagus. Tidak panjang seperti kedua nama abangku. Hanya terdiri dari 2 kata, tetapi memiliki arti yang sangat hebat.

Mamaku memberiku nama AFUZA ASYRAF. Afuza artinya kemenangan. Asyraf artinya kemuliaan. Afuza Asyraf berarti Kemenangan yang mulia. Aku dido’akan untuk menang. Bukan hanya sekedar menang. Tetapi menang dengan cara yang mulia. Menang yang membawa kemuliaan. Itulah do’a orangtuaku untukku.

Kini aku mengerti apa artinya sebuah nama. Nama adalah do'a, setiap orang yang memanggilku akan tercantum do'a untukku.

Kamis, 05 Mei 2011

Mencoba Menulis Kembali

Ini adalah blogku yang ke sekian. Entah berapa banyak blog yg telah kubuat dan berakhir kegagalan. Semoga blog ini dapat menyalurkan hasrat menulisku yang terpendam di hati yang dalam, yang karena kedalamannya sampai-sampai aku tidak melihat lagi hasrat itu.

Baiklah, seperti yang biasa kutulis di postingan pertama blog-blog sebelumnya, mari kita lakukan perkenalan.
Namaku Afuza Asyraf. Biasa dipanggil Fuza, Puja, tapi jarang dipanggil Asyraf. Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu.
Aku masih duduk di bangku kuliah ketika menulis postingan pertama ini.
Apa lagi yang perlu diketahui dari sebuah perkenalan? Oh aku lupa. Aku besar di kota Medan. Kota yang menjadi asal muasal kue BikaAmbon. Aku anak ke 3 dari 3 bersaudara. Ayahku seorang lelaki sejati. Ibuku seorang wanita tangguh. Dari kedua orang hebat inilah aku bisa dilahirkan.

Demikianlah perkenalan kali ini. Semoga tulisan-tulisan di blog ini tidak membosankan untuk dibaca.
Jangan pakai narkoba, karena itu haram. Jangan takut berbuat salah, tapi takutlah berbuat dosa. Hati-hati jika menyeberang jalan.
Wassalam