Senin, 26 Desember 2011

7 tahun lalu, Serambi Mekkah


Ini adalah kisah mengenai 1 hari. Satu hari yang mengubah hidup jutaan orang. Hanya butuh 1 hari bagi Sang Kuasa untuk mengubah semuanya di Tanah Rencong.

Aku merinding mendengar berita sore itu. Hatiku bergetar, mataku berkaca-kaca. Ribuan orang menjemput maut di pagi yang cerah itu. Seluruh stasiun TV mengabarkan hal yang sama, aroma kedukaan. Para reporter TV itu tidak kuasa menahan airmata melaporkan apa yang terjadi di Serambi Mekkah. Semua terisak. Semua larut dalam duka yang mendalam.

Setiap menit terasa menyayat hati kami saat melihat laporan berita yang mengabarkan jumlah korban yang meninggal terus bertambah dari ratusan, ribuan, hingga ratusan ribu. 

Gempa besar telah meruntuhkan ribuan bangunan di Aceh. Tsunami telah menyapu bersih ujung paling barat negeri Ibu Pertiwi. Anak-anak menangis di jalanan mencari ibu bapak mereka yang mungkin telah tiada terseret air laut. Mayat-mayat bergelimpangan dijemput pemilik-Nya. Tangis haru para ibu pecah mencari-cari anak mereka. Saat itu seolah harapan telah direnggut dari hati mereka.

Dan aku masih terpaku di depan televisi. Menatap layar yang menampilkan beratnya cobaan yang harus diterima saudara-saudaraku di Aceh sana. Kami berduka. Indonesia berduka. Dunia berduka. 

Teman, kini sudah 7 tahun semenjak tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Namun duka itu masih terasa. Kenangan yang masih membekas.

Rabb, ampuni mereka yang Engkau jemput di hari itu, 26 Desember 2004 di tanah Serambi Mekkah.

Kamis, 22 Desember 2011

Aku, Ayahku dan Tetesan Hujan


Assalamu'alaikum saudara saudari. Jangan lupa ganti kolor setiap hari.

Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang masa ketika aku baru saja diterima di Universitas Indonesia, masa ketika pertama kalinya Ayah datang mengunjungiku di Depok.

 Begini ceritanya. 

Hanphoneku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Oh, ternyata dari Ayah. “ Ayah sdh masuk gerbang UI”. Begitu isi pesan tersebut. Aku terkejut sekaligus senang. Cepat juga ayah sampai dari Bandung pikirku. Langsung kubalas sms beliau.

“Ok Yah, nnti tnggu d hlte Fak Tknik y. Nnti Fuza ksana”. Dadaku sesak merindu. Walaupun baru 2 bulan berpisah karena harus melanjutkan kuliah, aku sudah sangat merindukan beliau. Maklumlah, baru kali ini aku terpisah jauh dari orang tua. 

Sementara aku masih berada di gedung balairung menunggu hujan reda. Di luar hujan turun begitu deras sederas-derasnya. Kembali aku mengirim sms pada Ayah. 
 “Bntar ya Yah, hujan deras kali.”
“Oke”, balas Ayahku. 

Minggu lalu Ayah mengabariku bahwa beliau akan ke Bandung. Beliau ditugaskan beberapa hari dari kantornya ke daerah yg dikenal sebagai Paris van Java itu. Sebelum pulang ke Medan, Ayah menyempatkan diri ke Depok untuk berjumpa denganku, anaknya yang paling kecil. Dan aku gembira sekali mendengar kabar ini. Ah Ayah, aku sangat merindukanmu.

Hujan tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Akhirnya aku memutuskan untuk menerobos hujan menuju halte di dekat Balairung. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah. Di sana aku menunggu bis kuning. Bis berwarna kuning ini disediakan oleh kampusku sebagai alat transportasi bagi mahasiswa menuju ke fakultasnya masing-masing. Bis ini nantinya akan mengelilingi kampusku mulai pagi hingga malam pukul 9. Kami biasa menyebutnya Bikun, singkatan dari Bis Kuning. Tampak dari kejauhan Bikun telah datang. Begitu Bikun berhenti tepat di depan halte, aku langsung naik dan mencari tempat duduk di posisi yg nyaman. Tampak di luar hujan masih turun begitu deras. Sesekali petir menyambar. Beginilah kota Depok jika sudah memasuki bulan-bulan dengan akhiran nama berakhiran ‘ber’, hujan akan sering turun. Hanphoneku kembali bergetar. Ayah menelepon.

“Udah di mana Za? Ayah udah di halte Teknik.”
“Iya bentar ya Yah, Fuza ke sana sekarang.”

Tidak berapa lama, Bikun yg kutumpangi pun berhenti di depan halte Fakultas Teknik.  Aku langsung turun. Kulihat ayah sedang duduk menunggu. Langsung kusalami beliau dan memeluknya. Senyum tersungging lebar di wajah Ayah. 

“Udah lama nunggu Yah?” tanyaku.
“Ya 10 menit lah” jawab Ayahku, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
“Yaudah, langsung ke kosan Fuza aja ya Yah. Ini Fuza bawa payung.”

Aku langsung mengembangkan payung yang selalu kubawa di dalam tas. Tanganku dengan cepat membawa tas besar Ayahku.

Kami berduapun langsung menerobos hujan di bawah sebuah payung. Teman, terserah kau mau berkata apa, tetapi menurutku  sungguh mesra sekali keadaanku dan ayahku saat itu. Keadaan antara seorang ayah dan anak yang sudah lama tidak berjumpa, kemudian dipertemukan di bawah tetesan-tetesan hujan, dan berjalan di bawah sebuah payung pula. Mungkin kau menganggap hal ini biasa, tapi bagiku tidak. Jika kisah ini dijadikan sebuah lagu dangdut, tentulah judulnya “Sepayung Berdua”. Jika dijadikan sebuah film, pastilah akan menjadi film yg sangat pendek, karena kisah ini singkat sekali. Tetapi jika kisah ini dijadikan sebuah bab kecil di dalam sebuah buku, akan kuberi judul “ Aku, Ayahku dan Tetesan Hujan ”. Harusnya kuabadikan momen ini. Dan pasti akan kuabadikan, di hatiku.

Selasa, 22 November 2011

Oh Hidupku!

Assalamu'alaikum makhluk Tuhan seperjuangan. Semoga hidup tetap beriman.

Lagi-lagi aku mencoba menulis kembali, walau hanya sebatas tukang ketik amatiran.

Maghrib menghinggapi ketika aku menulis posting ini. Waktu terasa sangat berarti.
Apa kabar kalian teman? Aku terasa sangat sibuk beberapa minggu ini dan beberapa minggu ke depan.

Oh Sang Pengasih, betapa waktu yg Kau berikan sangat berharga, Pantaslah Kau mengabadikannya dalam sebuah ayat "Demi Masa".

Oh dunia, betapa uang begitu berharga di matamu, Sehingga kau paksa orang sepertiku mengakuinya.

Oh nilai A, sebegitu berhrganyakah engkau di IPK ku? Kau paksa aku begadang demi mengejarmu.

Oh kuliah, pentingkah dirimu di duniaku yg nyata nanti? Ataukah engkau hanya menghabiskan masa mudaku?

Oh cinta, begitu banyak cerita tentangmu di hatiku. Haruskah kubuka pintu untukmu?

Oh manusia, sebegitu beratnyakah hidupmu? Terlalu banyak keluhanmu di bumi ini.

Oh yasudahlah, sebegitunyakah kata 'sudah' untuk mengakhiri?

Kalimat-kalimatku di atas hanyalah sebuah coretan yg belum bermakna, hanyalah keluhan. Semoga Sang Pengabul mendengarnya, pasti Dia mendengarnya


Senin, 10 Oktober 2011

Garis Finish dan Angka 19

Assalamu'alaikum saudara-saudari beriman. Semoga kita selalu budiman.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Aku masih belajar bagaimana mengetik ide di layar laptop secara asik, menarik tanpa intrik.

Terima kasih untuk Sang Pengasih karena masih memberikanku waktu untuk tetap hidup di dunia ini. Terima kasih karena usiaku kini bertambah. Terima kasih karena kini aku berada di penghujung umur belasan. Ya, aku baru saja berulang tahun yang ke 19. Umurku bertambah setiap detik. Tetapi angka yg kini '19' itu hanya bertambah 1 kali setiap tahun. Dan kini aku mulai menua. Terdengar berlebihan.

Salahsatu hal yang paling menyenangkan ketika berulangtahun bagiku adalah begitu banyak do'a yg mengalir untuk kita. Ah andai saja setiap hari adalah hari ulang tahunku.

Dan di ulang tahun kali ini aku kembali berada jauh dari rumah. Sama seperti tahun sebelumnya. Di ulang tahun kali ini tidak ada hal yg lebih spesial selain ucapan dari Mama tercinta di ujung telepon sana yang menangis haru mengucapkan selamat untukku.

"Rasanya Mama pengeeen kali meluk Fuza sekarang, Selamat ulang tahun ya Nak, hiks.. hiks." Mama terisak di ujung telepon sana. Dan aku terdiam di sini memendam rindu yang terasa sesak di dada.

Umurku bertambah, jatah hidupku di dunia semakin berkurang. Entah sampai kapan aku masih bisa bernafas. Hidup di dunia ini seperti balapan saja. Kita mungkin seperti berlomba menuju kematian, dengan garis finish yang sama dan catatan waktu yg berbeda. Banyak orang yang telah mendahuluiku mencapai garis finish yang bernama 'kematian' itu. Sementara aku masih mengikuti perlombaan yang bernama 'kehidupan' ini di angka 19 tahun.

Tak terasa memang ternyata aku sudah 19 tahun hidup di dunia ini. Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri terhadap makna hidupnya. Dan begitu juga aku. Aku jadi teringat dengan perkataan Rasulullah mengenai makna hidup di dunia ini.

” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Hidup di dunia tidak sendirian. Hidup menurutku bukan hanya untuk diri sendiri. Kita juga hidup untuk orang lain. Dan manusia yang hidupnya paling bermakna adalah manusia yang bisa memberikan banyak manfaat  bagi orang lain.

Dan di angka 19 ini aku masih berusaha untuk bisa memberikan 'sesuatu' untuk orang lain. Dan di angka 19 ini aku masih belajar untuk lebih banyak memberi daripada hanya terus menerima.

Aku tidak tahu apakah perjalanan hidupku ini masih akan berlanjut ke angka-angka yang lebih tinggi dari 19. Atau mungkin akan terhenti seperti orang-orang yang telah mendahuluiku menuju garis finish yang bernama kematian itu.

Aku ingin sebelum aku mencapai garis finish hidupku nanti, setidaknya aku telah meninggalkan banyak hal yang bermakna bagi orang lain.

Selamat bertambah umur Fuza. Selamat menjalani sisa hidup ini dengan hal yg bermakna

Sabtu, 01 Oktober 2011

Malas Itu Rugi

Assalamu'alaikum saudara-saudari budiman. Semoga hidup selalu aman.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Aku masih tukang ketik amatiran. Sukurlah kalau kau masih mau membaca hasil ketikanku

Sudah lama juga tidak posting lagi. Namanya juga anak kuliah, banyak tugas menumpuk, dan kemarin baru saja selesai UTS (Ujian Tengah Semester). Dan kini akhirnya aku bisa menulis lagi, bercerita lagi di sini.

Berbicara tentang UTS, wah aku masih harus banyak belajar. Memang benar kata Om Mario, orang-orang yg malas saat ini akan dipaksa bekerja keras di kemudian hari. Dan itu yang aku rasakan. Aku yg malas untuk mengulang bahan kuliah selama ini,   terpaksa harus begadang sampai larut malam untuk mengulang semua materi kuliah dari awal semester. Dan ini kulakukan ketika UTS menjelang. Para sesepuh menyebutnya SKS, Sistem Kebut Semalam. Malah kadang singkatan itu menjadi Sistem Kebut Sejam, bayangkan apa yang bisa kita pelajari jika waktu hanya tinggal 1 jam sebelum UTS dimulai.

Sukurnya hampir semua mata kuliah yang diujikan diperbolehkan 'open book'. Allah memang Maha Penyayang.

Intinya, jadi orang malas itu tidaklah enak, pasti merugi. Ruginya selangit. Jadi orang malas itu efeknya besar, dampaknya luas. Jauhilah malas dekatilah rajin. Rajin pangkal sukses, malas pangkal gagal.

Yasudahlah, sekian dulu posting kali ini, jangan lupa lihat kiri dan kanan kalau menyeberang jalan. Hidup itu pilihan. Sekian

Sabtu, 24 September 2011

MARKISEMKUL: Mari Kita Semangat Kuliah

Assalamu'alaikum saudara-saudari baik budi. Semoga selalu menjadi orang baik hati.

Baiklah. MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Layaknya postingan-postingan sebelumnya, aku masihlah penulis amatiran. Atau mungkin lebih tepatnya tukang ketik amatiran. Tapi tak apalah, lagi-lagi tidak ada salahnya mencoba.

Tak terasa sudah seminggu juga aku jauh dari rumah. Karena dihadapkan langsung dengan sibuknya dunia kuliah, waktu terasa berjalan begitu cepat sehingga rasanya baru kemarin aku balik ke Depok. Sebenarnya kuliah juga gak terlalu sibuk, hanya waktu saja yg mungkin bosan berlama-lama denganku sehingga ia berlalu begitu cepat tanpa kusadari.

Rasa rindu ini kadang-kadang menghinggapiku. Menjalar di tubuhku. Mengitari dan berkeliling di hatiku. Andai saja aku sekarang berada di rumah. Rindu terbesarku adalah kepada sang Ibunda. I miss my Mom. Mama tercinta. Kasih sayangnya tiada duanya, apalagi tiga. Lalu kepada Ayah rindu ini bersarang. Ayah paling hebat di dunia. Hanya kasih sayang Mama yg bisa menandingi besarnya cinta beliau kepadaku. Betapa aku merindukan mereka.

Oke, cukuplah 2 paragraf saja aku menuliskan rasa rinduku. Bisa-bisa semangat kuliah lesu gara-gara salah mengelola rasa rindu. Saatnya beralih topik.

Dan ternyata masih banyak saja orang yang kutemui mengeluh tentang kuliah, malas untuk kuliah. Jujur saja akupun pernah merasakannya. Namun coba kita renungkan sejenak. Kurang bahagia apalagi hidup kita bisa mengecap manisnya ilmu di bangku kuliah. Kurang apalagi?? Coba kita lihat sedikit saja ke bawah. Banyak teman-teman kita yang berebut ingin merasakan nikmatnya mereguk ilmu seperti kita tetapi terhalang biaya. Banyak teman-teman kita yg bersedia menggantikan kita untuk duduk di kelas dan mendengarkan dosen mentransfer ilmu. Tetapi mereka tidak bisa, mereka kurang beruntung. Dan mungkin lagi-lagi mereka terbentur masalah biaya. Maka pantas bagi kita untuk bersyukur, sangat-sangat bersyukur. Bukankah Sang Maha Pemberi menjanjikan nikmat yg banyak bagi orang-orang bersyukur? Ga percaya? Ini nih janji-Nya :

Jika kamu bersyukur, akan Kutambahkan nikmatKU kepadamu. Akan tetapi jika kamu kufur sesungguhnya azabKU amat pedih” (QS.14/Ibrahim:7)

Tuhan aja udah janji, pastilah Dia menepati. Siapa lagi yang paling menepati janji di dunia ini selain Allah Sang Mahakuasa? Kalau udah begitu, ga ada alasan lagi untuk tidak bersyukur. Dan dalam hal ini, syukur ga cukup diungkapin dengan kalimat 'Alhamdulillaah' aja. Rasa syukur itu bisa diwujudkan dengan semangat ngikutin kuliah. Semangat ngerjain tugas kuliah dan gak mengeluh untuk menjalani itu semua. Hati-hati bagi yg suka mengeluh, karena pada ayat di atas orang-orang yg suka mengeluh alias gak bersyukur bisa-bisa malah ditambah kesulitannya. Tetapi tenang aja, karena kalau kita mensyukuri kuliah, nikmat kita akan ditambah. Bisa aja nanti IPK kita juga di tambah. Hehehe. Amiiiin

Sekarang mari lihat wajah orangtua kita, yang tersenyum bangga melihat kita diterima di perguruan tinggi negeri. Betapa bersyukurnya mereka. Betapa bangganya mereka melihat kita. Jujur saja, aku takkan melupakan senyum bangga Ayah ketika beliau mengetahui bahwa aku lulus SNMPTN dan bisa berkuliah di sini. Aku juga takkan bisa melupakan tangis haru Mama sambil memelukku untuk meluapkan rasa bangga dan kegembiraannya. Aku takkan melupakan itu semua, teman. Aku juga takkan bisa melupakan rasa risau di wajah Ayah ketika mengetahui bahwa biaya untuk kuliahku ternyata cukup mahal. Dan akhirnya tersenyum menenangkanku agar tidak usah mengkhawatirkan masalah biaya. Walaupun sebenarnya aku tahu, masalah biaya itu sempat mengganjal di hati beliau. Lantas setelah semua kebanggaan dan segala hal yg telah dilakukan oleh kedua orangtuaku, masih pantaskah aku untuk malas kuliah? Jujur saja, sebenarnya aku malu. Aku malu bahwa rasa malas untuk kuliah kadang terbersit di otakku. Aku malu karena terkadang menyia-nyiakan semua pengorbanan mereka

Di manapun kita kuliah, orangtua kita pasti menaruh harapan besar pada kita. Oleh karena itu teman, jangan menyia-nyiakan kuliah kita, pengorbanan orangtua kita. Harapan mereka terlalu besar untuk kita sia-siakan. MARKISEMKUL : Mari Kita Semangat Kuliah!!!

Senin, 19 September 2011

Ketika Semangat Naik Turun

Assalamu'alaikum saudara-saudara budiman. Semoga kita tetap beriman

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Layaknya penulis amatiran, aku masih bingung akan menulis apa. Tapi seperti biasa, tak ada salahnya dicoba.

Pernahkah kau merasa semangat begitu menggelora? Yaitu semangat menggelora untuk meraih mimpi-mimpi yg telah kita catat dalam otak kecil kita. Pasti pernah. Kalau tidak pernah, sisi manusiawimu patut kuragukan. Aku juga pernah merasakannya. Rasa semangat itu muncul bersamaan dengan rasa optimis yg juga menggelora. Ya, kau juga pasti pernah merasakannya. Dan saat kau sedang merasakan perasaan itu, semua hal dan mimpi yg terpatri di otakmu serasa akan mudah untuk diagapai dan dicapai. Semua impian terasa menjadi sangat realistis.

Tahukah kau teman? Perasaan semangat seperti ini biasanya muncul ketika aku selesai berdo'a. Sang Mahakuasa mungkin meniupkan rasa optimis di dadaku ketika aku selesai mengutarakan impian-impianku yg banyak sekali. Dan memang Dia lah sumber rasa semangat itu. Setiap aku selesai berdo'a, aku selalu berpikir dan akhirnya meyakini bahwa segala impian dan do'aku pasti bisa tercapai dengan segala kuasa dan kehendak yg Dia miliki. Maka saat itulah aku merasa semangat dan optimis menggelora di dalam dada bahwa semua impianku akan terwujud. Pada titik ini, segala rasa pesimis hilang seketika dari dada ini. Dan itulah enaknya kalau kita mempunyai keyakinan akan keberadaan-Nya. Semua hal terasa mungkin untuk terwujud.

Tetapi seiring berjalannya waktu, kau pasti pernah merasakan semangat dan optimis yang menggelora itu meredup. Semua hal yg waktu itu terasa sangat mudah digapai lama kelamaan malah semakin terasa sulit. Memang begitulah impian, pasti ada tantangan yg kadang menghalanginya. Tetapi jika rasa ini dibiarkan terus meredup malah akan mengubah rasa optimis menjadi pesimis. Dan impian hanya akan menjadi mimpi kosong. Tenang teman, aku juga pernah merasakannya. Kita senasib.

Dan jika semangat sedang ngedrop begitu, aku akan kembali mengingat satu hal. Sebenarnya siapa sih yg paling berkuasa di atas bumi ini? Dari siapa sih sebenarnya rasa semangat yg muncul dalam diri kita? Siapa sih yg berkuasa atas impian-impian kita? Yap, benar sekali. Dia adalah Sang Pencipta. Sang Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan kalau sudah menyadari hal ini, ada satu ayat yg langsung terlintas di benakku

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Jika teringat dengan ayat ini, maka biasanya rasa optimisku akan perlahan-lahan naik kembali dan akhirnya semangat menggelora lagi. Allah bahkan udah janji dengan seluruh hamba-Nya, kalau kita meminta sesuatu kepada-Nya pasti dikabulkan. Tidak mungkin tidak. Ini janji Tuhan lho. Masih mau meragukan juga?

Intinya sih, jangan pernah pesimis menggapai impian. Kita tinggal meminta aja kok sama Tuhan, dan pasti dikabulin. Tetapi ya jangan lupa juga menjalankan semua keinginan-Nya. Masa kita aja yg kemauannya pengen diturutin, tetapi menuruti keinginan Tuhan malah ogah. Kan gak fair jadinya. Dan jangan lupa juga berusaha, karena Allah juga akan menjawab do'a kita sesuai dengan usaha yg kita lakukan. Kalau udah tau begini, masih pesimis juga?

Kamis, 15 September 2011

Kembali Kuliah, Maba, dan Sarjana

Assalamu'alaikum para makhluk Tuhan yg bisa membaca. Akhirnya berjumpa lagi walau tidak bertatap muka.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi. Seperti biasa, bingung juga mau nulis apa. Tapi yasudahlah. Apa salahnya dicoba.

Dan akhirnya aku sampai juga di kota Depok. Kota tempatku melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Cukuplah aku bersedih dan berkeluh kesah akibat jauh dari kota kelahiran. Saatnya menatap hari-hari menuntut ilmu di kota orang dengan penuh optimis menggelora di dada. Terdengar berlebihan.

Perjalanan dari Medan-Jakarta sungguh melelahkan. Pesawat yg kutumpangi delayed kira-kira 1,5 jam. Sukurlah pramugarinya lumayan cantik, tetapi tetap saja tidak bisa menggantikan waktu yg terbuang percuma. Beginilah nasib angkot udara di negara kita, susah tepat waktunya, walaupun tidak terlepas dari perilaku penumpangnya yg sering terlambat check in. Tapi yasudahlah. Capek juga mengeluh. Biarlah nanti aku beli pesawat terbang sendiri.

Dan hari ini adalah hari pertama kuliahku, yg sebenarnya sudah dimulai 2 hari yg lalu. Tetapi apalah daya, pada hari itu raga ini masih di Medan. Harga tiket pesawat (yg sering delayed itu) belum bersahabat pada hari pertama masuk kuliah. Dan aku memilih bolos.

Hari pertama kuliahku (yg sebenarnya terlambat) kuawali dengan rasa optimis IP semester ini akan berada di atas angka 3, dan lebih bagus lagi jika di atas 3,5. Semoga saja. Amin. Semua terasa biasa saja saat aku di kampus. Hal yg membedakan hanyalah kali ini aku melihat banyak wajah-wajah baru bermunculan. Wajah-wajah yang masih menyisakan keluguan dan keangkuhan masa SMA. Ternyata merekalah para mahasiswa baru (maba). Selamat datang wahai anak muda, selamat menikmati indahnya tantangan dan keajaiban kuliah. Jangan pasang wajah lugu, apalagi sok tahu. Nanti kau rasakan sendiri suka duka kuliah.

Dan melihat para maba berseliweran, entah kenapa aku ingin cepat menjadi sarjana.



Rabu, 14 September 2011

Ke Depok Aku Kembali


Assalamu'alaikum saudara saudari sekalian yg saya cintai. Bagaimana kabar anda-anda sekalian? Superrr Sekaliiii.

Oke, MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi. Sebenarnya bingung juga mau nulis apaan. Tetapi ya sudahlah, yg penting menulis saja dahulu, lebih tepatnya mengetik.

Hari ini aku akan kembali ke kota Depok. Kembali akan menjalani hari-hari kuliah penuh tantangan dan rintangan yang kadang tinggi menjulang. Dan kembali harus meninggalkan kota Medan tercinta ini dengan segala kenangan yg ada. Terdengar berlebihan.

Dan sekarang aku sedang sibuk packing. Banyak barang yg harus dibawa. Jangan kau kira aku sedang packing pakaian. Karena yg kulakukan sekarang adalah packing makanan. Yep, Mama tercinta menyiapkan banyak makanan cemilan untukku di kosan nanti. Mulai dari ikan teri goreng kentang yg rasanya gurih dan renyah, ayam goreng untuk makan malam nanti, dan pastinya sisa kue lebaran yg tidak habis. Semua disusun dengan rapi di dalam sebuah kotak. Banyak juga makanan ini, sampai-sampai aku merasa dipersiapkan menjadi relawan yg akan membawa sembako ke Somalia.

Cuaca diluar jendela kamarku tampak mendung. Mungkin langit kota Medan bersedih karena akan kutinggalkan untuk waktu yg lama, yang aku sendiri pun tidak tahu kapan akan kembali. Terdengar berlebihan. Dan di sinilah aku sekarang, menghabiskan saat-saat terakhir di dalam kamar tidurku yg jauh lebih nyaman daripada kamar kosanku. Saat-saat yg melankolis. Kadang sedih juga harus meninggalkan kota kelahiran kita. Tapi hidup itu pilihan. Dan aku sudah memilih untuk pergi dari kota ini dan menuntut ilmu di kota orang yg jaraknya hanya 2 jam dari kota asalku jika kau naik pesawat terbang, itu juga kalau pesawatnya tidak terlambat.

Jika sedih begini, aku langsung teringat penggalan syair Imam Syafi'i yg bunyinya seperti ini

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang


Jika membaca kalimat ini, semangatku tersentak kembali. Kesedihan menghilang. Cerdas nian Imam Syafi'i dengan kalimat-kalimat inspiratifnya. 

Dan semangatku untuk kembali menjalani kuliah jauh dari kota asalku semakin bertambah jika mengingat bahwa ternyata Rasulullah juga 'merantau' atau lebih tepatnya hijrah. Dan hijrahnya beliau berbuah manis dengan berkembang pesatnya agama Islam. Dan itulah yg aku harapkan, semoga 'hijrah' yg aku lakukan juga akan berbuah manis nantinya.

Cuaca di luar jendela kamarku masih mendung, namun hatiku tidak. Aku masih menyimpan harapan untuk bisa kembali ke kota ini, Medan, suatu saat nanti, layaknya kisah kembalinya Rasulullah ke tanah kelahiran beliau, Mekkah.

Yasudahlah. Aku masih terduduk di kamarku ini, di depan layar 14 inch ini untuk berbagi dengan kalian. Aku masih terduduk di kamar ini, menunggu Mama pulang membawa bolu Meranti.

Selamat Menjalani Hidup, jangan lupa lihat kiri dan kanan kalo nyebrang.

Senin, 12 September 2011

Kuliah kok Malah Mengeluh?

Yak saudara-saudara yg budiman. Hari ini adalah hari pertama kuliahku di semester 3. Dan aku masih terpisah jarak dengan kampusku di Depok. Aku masih berada di pulau yg berbeda dengan kampusku, dan kami dipisahkan oleh luasnya selat Sunda.

Seperti biasa, setiap awal semester aku selalu mengumandangkan janji yg sama. Janji yg dideklarasikan mungkin oleh hampir seluruh mahasiswa di Indonesia di setiap awal semester. Janji suci yg terpatri di dalam hati namun kadang terlupa oleh ganasnya bangku kuliah. Ya, janji agar IP semester ini naik lebih tinggi daripada semester kemarin. Itulah janji suci kami, janji pribadi untuk diri sendiri. Semoga janji ini tidak bernasib sama dengan janji-janji para caleg ketika kampanye.

Banyak juga orang yang mengeluh karena akhirnya harus bergelut lagi dengan dunia perkuliahan setelah sekian lama menikmati masa liburan semester genap yg lamanya mungkin hanya bisa dikalahkan oleh cuti hamil. Ada yg karena alasan malas bangun pagi lah (ini juga salahsatu alasanku dahulu malas pergi sekolah), capek karena harus berjibaku dengan tugas kuliah, ngantuk ngedengarin dosen berceloteh ria, dan sederetan alasan lainnya yg kalau dirangkai bisa lebih panjang dari jalur lintas kereta api pulau Jawa. Tetapi, hidup itu pilihan. Duduk di bangku kuliah adalah pilihan. Pilihan yg mungkin tidak semua orang bisa memilikinya, karena bagi mereka yg kurang beruntung khususnya dalam hal ekonomi, 'kuliah' tidak masuk dalam daftar pilihan hidup mereka. Oleh karena itu, kuliah harusnya menjadi hal yang patut disyukuri, harus disyukuri, wajib disyukuri, haram kalau tidak disyyukuri! Hehe.

Coba kita flashback lagi ke masa-masa SMA. Hayoo siapa yang waktu SMA  pengen cepat-cepat kuliah? Siapa yang waktu SMA belajar mati-matian biar bisa lulus SNMPTN dan akhirnya kuliah? Sayaaaaaa!!! Ya kebanyakan dari kita pasti menjawab begitu. Dan sekarang di sinilah kita berada, di bangku kuliah, hal yang dahulu kita inginkan, kita impikan. Lalu, kenapa sekarang malah mengeluh? Mungkin ada yang beralasan, "Ah, ini kan bukan universitas yang aku impikan." Atau mungkin, "Aku gak cocok dengan jurusan kuliahku sekarang." Bahkan ada yang beralasan, "Aku kuliah bukan karena keinginanku, tetapi orangtua."  Waaaah, ada yang bahaya dalam diri kita jika beralasan seperti itu. Jika alasannya karena tempat kuliah atau jurusan yg kita ambil saat ini tidak sesuai dengan minat kita, maka untuk apa kita harus terus bertahan di tempat itu?. Lebih baik berhenti sekarang dan coba lagi ikut tes masuk universitas yg kita inginkan tahun depan dengan sungguh-sungguh. Karena masa depan kita terlalu mahal untuk dihabiskan di tempat yang tidak kita inginkan. Jika alasannya karena untuk memenuhi keinginan orangtua, sebenarnya kuliah itu untuk siapa sih? Untuk masa depan kita kan? Coba yakinkan orangtua, bahwa sudah saatnya kita diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan masa depan kita sendiri. Toh nantinya kitalah yg menjalani masa depan itu. Lalu bagaimana bagi yg sudah terlanjur kuliah dan tidak memiliki kesempatan untuk ikut tes masuk universitas lagi? Tenang, jalani saja apa yg kita lakukan sekarang dengan sungguh-sungguh. Anggap saja kuliah adalah tantangan yg harus kita hadapi untuk menggapai hal yg lebih tinggi. Belum tentu apa yg kita mau menjadi yg terbaik, tetapi satu hal yang pasti, usaha terbaik kita pasti akan berbuah hasil yg terbaik jika kita jalani dengan sungguh-sungguh.

Jalani dengan kesungguhan tanpa mengeluh, jangan menyerah dengan keadaan karena mengeluh adalah tanda tak mampu. Jadi, masih pantaskah mengeluh? Hehe


Kamis, 08 September 2011

Pindah

Mari menulis lagi

Yak sodara2 sekalian. Sudah lama jari jemari ini tidak mengetik. Ingin menulis kadang pikiran buntu. Tapi kalo gak menulis, otak tumpul juga. Tapi ya sudahlah.

Ini adalah hari-hari terakhir libur kuliahku. Ini adalah hari-hari terakhirku di kota Medan, kampung halaman. Minggu depan akhirnya harus balik juga ke Depok untuk menjalani hari-hari kuliah penuh tantangan.

Kabar baik datang dari Ayahanda tercinta. Beliau sudah resmi dipindahtugaskan dari kantornya di Medan ke kota Jakarta. Itu artinya kami sekeluarga akan tinggal di kota Jakarta dalam waktu dekat. Ya, kami sekeluarga akan pindah.

Rencana kepindahan ini sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari semenjak aku kuliah di Depok. Maklum saja Ayah dan Mama kesepian untuk tinggal hanya berdua di rumah berhubung kami anak-anaknya sudah merantau di Jakarta. Dan akhirnya rencana ini terwujud.

Ada rasa bahagia yg muncul mendengar kabar ini. Akhirnya kami sekeluarga bisa berkumpul bersama lagi, hal yg biasanya hanya terjadi jika lebaran tiba. Namun terselip juga rasa sedih. Akhirnya aku harus meninggalkan kota kelahiranku, Medan. Entah kapan akan bisa kembali lagi ke kota ini.

Minggu, 19 Juni 2011

Mimpi Ke Luar Negeri

Ini tentang mimpi-mimpiku teman. Sudah seminggu ini aku sulit tidur. Tidak berselera makan. Mandi pun jarang. Semua ini karena mimpi-mimpi itu teman. Susahnya kalau punya mimpi adalah ketika kau tidak berusaha untuk mewujudkannya. Maka mimpi itu hanya akan menjadi mimpi yang menyesakkan hati. Dan itulah sekarang yang aku alami. Mimpiku setinggi langit. Usahaku serendah telapak kaki

Seminggu ini ada satu hal yang terus menerus dibicarakan oleh Mama setiap kali kami berbicara di telepon. Luar negeri. Ya itulah dia. Mama selalu berbicara mengenai luar negeri. Entahlah itu Eropa, Amerika, Afrika, atau Negara-negara lainnya. Dan ada satu hal yang selalu disinggung mama jika berbicara mengenai hal ini. Satu hal yang saat ini mengganggu pikiranku. Satu hal yang kadang membuatku lelah juga memikirnya. Yaitu kuliahku. Mama selalu bertanya kapan aku bisa kuliah ke luar negeri. Jika sudah bertanya begini, Mama pasti akan lanjut bercerita tentang saudara-saudaraku yang pernah kuliah di luar negeri atau sekedar pertukaran pelajar ke luar negeri. Seperti saat aku menelepon beliau beberapa hari yang lalu.

“ Eh Za, Kak Dinda minggu depan mau ke Turki Za! Ke Turki! Kata Tante Elly, Kak Dinda ikut program apa gitu dari kampus, makanya bisa ke luar negeri.” Mama bercerita dengan semangat tentang sepupuku Kak Dinda.

“Ke Turki Ma? Berapa hari Ma? Enak ya Ma.” Aku menanggapi seadanya. Padahal hatiku penasaran juga.

“Iya Nak, ke Turki. Satu bulan lebih!” Jawab Mama bersemangat.

“Ooh.” Aku bingung menanggapinya bagaimana.

“Fuza gitu juga la, ke luar negeri kayak Kak Dinda,” Mama mulai melancarkan ‘desakan’ kepadaku.

“ Ya Mam, secepatnya.” Hanya kalimat itu yang bisa kujawab.

“Maunya anak-anak Mama nanti kuliahnya di luar negeri. Kayak Om Fajar, walaupun dari kampung, bisa dia kuliah di Jerman.” Mama lagi-lagi bercerita tentang saudaraku, Om Fajar, yang menyelesaikan S2 nya di Jerman.

“Iya Mam, nanti Fuza S2 di luar negeri juga.” Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab seadanya.

“Cepat-cepat la Nak. Kak Dinda aja bisa ke luar negeri, masa Fuza enggak. Tanyalah nanti sama Kak Dinda gimana caranya. Kan bisa ikut pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Mama kembali menyindirku secara halus.

“Iya Mam, sabar aja. Fuza kan baru tahun pertama kuliah, nanti Fuza Tanya kalo ada beasiswa pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Aku berusaha menenangkan Mama di ujung telepon sana.

“Iya cepat lah. Jangan lama-lama. Kalau bisa pun nanti kerjanya di luar negeri. Biar Mama bisa ikut juga.” Percakapan Mama mulai merembet ke mana-mana.

“Ya Mam.”

“Kalo bisa cari beasiswa ke luar negeri. Kayak yang di buku 5 menara itu. “ Mama berkata

“Yoi Mam.” Jawabku sedikit kreatif

“Oiya, gimana beasiswa yang diajukan kemarin? Disetujui?” Pertanyaan Mama mulai merembet ke masalah lain.

Walaupun berat untuk menjawabnya, akhirnya kujawab juga, “Gak dapat Mam.”

Aku tahu pasti kalimat Mama setelah jawabanku ini.

“Itulah makanya Za. Sering-sering cari beasiswa. Kalo bisa beasiswa kuliah ke luar negeri juga. Kayak Kak Dinda, dia aktif di organisasi, makanya bisa ke luar negeri. Fuza gitu juga lah Nak.” Lagi-lagi Mama menyinggung masalah kuliah ke luar negeri. Semua hal tentang kuliahku disangkutpautkan tentang beasiswa ke luar negeri.

“Ya Mam, nanti Fuza cari.” Jawabku pendek singkat jelas dan tepat.

“Yaudalah. Mama mau masak dulu. Rajin-rajin belajar ya Nak, assalamu’alaikum.” Mama mengakhiri percakapan.

Begitulah teman. Akupun sebenarnya sangat ingin bisa ke luar negeri. Entah itu kuliah di sana, atau hanya sekedar ikut program pertukaran mahasiswa. Tetapi tentu tidak semudah itu. Bagaimana bisa aku memikirkan rencana untuk ke luar negeri, kalau aku saja masih terseok-seok mengikuti setiap mata kuliah agar IP tidak di bawah 3. Otakku terlalu pas-pasan untuk bisa memikirkan hal seperti itu.

Tetapi ya memang begitulah. Akupun mengakui usahaku belum maksimal. Keinginanku belum kuat. Mimpi untuk ke luar negeri masih terlalu tinggi untuk usahaku yang masih sedikit ini. Tetapi tenanglah Mama. Anakmu ini masih sibuk mencari jalan. Do’akan sajalah. Yang penting mimpi ke luar negeri itu masih kusimpan di dalam hati, walaupun kadang mengganggu tidurku.

Sabtu, 04 Juni 2011

Uci

Uci adalah panggilanku untuk nenekku. Aku memanggil beliau Uci. Kau juga pasti memiliki seorang nenek. Kau juga pasti menyayanginya, karena jika tidak itu artinya kau cucu durhaka.

Kau pasti mempunyai kenangan indah bersama nenek. Begitu juga dengan aku. Uci adalah orang yang menyayangi dan memanjakanku. Jika ketika aku kecil, Mama tidak mau mendengarkan rengekanku untuk membeli mobil-mobilan, maka Ucilah yang dengan lembutnya mengusap air mataku dan mengajakku pergi untuk membeli mobil-mobilan. Jika Mama tidak sempat menjemputku pulang ketika aku masih berada di Taman Kanak-Kanak, maka Ucilah yang dengan senang hati menjemputku, tidak lupa beliau juga membelikanku jajanan. Uci juga adalah orang yang selalu membelaku ketika dimarahi Mama, dan beliaulah yang membesarkan hatiku, mengingatkanku tentang kesalahanku. Ketika aku lulus SNMPTN, Ucilah orang kedua yang kuberitahu setelah kedua orang tuaku. Aku menelepon beliau ketika itu. Dan aku masih ingat ketika itu beliau menangis, karena mengetahui bahwa aku akan jauh darinya untuk menempuh bangku kuliah.
"Akhirnya.... per..gi juga kalian semua dari Medan." Uci berkata sambil sesenggukan. Aku tahu beliau menangis. Dadaku pun terasa sesak menahan haru.

"Tinggal Uci sendirian di sini. Baik-baik nanti kuliah di sana ya Fuza, do'akan Uci supaya sehat."

"Iya Ci, Fuza juga nanti kalo liburan bakal balik ke Medan juga. Jangan sedih ya Ci." Jawabku mencoba membesarkan hati Uci.

Itulah Uci. Begitu dekatnya aku dengan nenekku ini.

Hingga akhirnya aku harus melanjutkan kuliahku di Depok, aku masih sering berkomunikasi dengan Uci melalui telepon. Dan di setiap ujung percakapanku dengan Uci, Uci pasti selalu mendo’akanku agar kuliahku lancar dan selalu diberi kemudahan oleh Allah.


Minggu, 25 April 2011 23:40 WIB

Akhir-akhir ini aku sangat jarang menelepon Uci. Aku disibukkan oleh menumpuknya tugas-tugas kuliah. Percakapan terakhirku dengan Uci mungkin terjadi ketika menjelang UTS kemarin.

“Uci do’akan mudah-mudahan Fuza diberi kemudahan sama Allah supaya ujiannya lancar,” do’a Uci di ujung percakapan kami.

Seminggu ini aku diberi kabar oleh Mama tentang kesehatan Uci yang terus menurun. Bahkan kini beliau dirawat di rumah sakit. Beliau dirawat di ruang ICU karena sesak nafas. Aku sangat khawatir. Apalagi minggu sebelumnya Uci juga dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi kecil. Aku hanya bisa berdo’a mendengar kabar tentang kondisi Uci.

Dan tadi pagi alhamdulillah Mama menelepon bahwa kondisi Uci sudah membaik. Walaupun masih dirawat di rumah sakit, tetapi keadaan Uci semakin lama semakin membaik. Untuk sementara kekhawatiranku sedikit berkurang.

Aku masih terduduk di depan layar monitor untuk mengerjakan tugas kuliahketika tiba-tiba handphoneku berdering.

Mama meneleponku tengah malam begini? Hatiku langsung ciut. Perasaan gelisah langsung menjalar di sekujur tubuhku.

"Assalamu'alaikum Mam. kenapa Mam?" Tanyaku

"Fuzaaaa….” Terdengar suara Mama serak seperti menahan tangis.

Uci udah ga ada Naaak. Uci meninggal... hiks..hiks" Mama menangis di ujung telepon sana.

Aku terdiam lemas. Bayangan kenangan bersama Uci berkelebat di otakku.

"Fuza pulang ya Nak..hiks..hiks." Mama tersedu sedan.

Untuk sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya baru kemarin aku berpamitan dengan Uci sebelum kembali ke Depok. Dan kini beliau telah meninggalkanku.

Tidak terasa mataku berair.

"Iya Ma, Fuza pulang pagi ini ke Medan" jawabku pelan.