Kamis, 21 Juni 2012

Tanda Checklist dan Impian Yang Terlupa

Assalamu'alaikum saudara-saudari. Semoga hidup semakin beriman

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Ini semua tentang sebuah lembaran kertas yang terselip di sebuah buku yang sekarang jarang kubuka, secarik kertas yang terdiri dari sekitar 20 baris dengan berbagai kumpulan kata yang membentuk kalimat. Kalimat-kalimat di kertas ini kutulis beberapa tahun lalu dengan semangat menggebu-gebu, dengan pikiran-pikiran 'liar'. Kalimat-kalimat yang dulu selalu kubaca setiap hari, setiap aku lelah, setiap aku merasa kehilangan gairah.

Di baris paling atas kertas ini tertulis 'Target Hidup'.  Kalimat di baris setelahnya tertulis 'Lulus SMA'. Kalimat itu sudah kuberi tanda checklist yang menandakan bahwa hal tersebut sudah kucapai. Lalu kubaca kalimat di baris setelahnya. Tertulis 'Kuliah di Universitas Indonesia'. Kalimat itupun sudah kuberi tanda checklist. Dan ternyata itu kalimat terakhir yang kuberi tanda checklist. Kalimat-kalimat setelahnya masih belum diberi tanda apa-apa.

Ini semua tentang secarik kertas yang berisi impian dan mimpi-mimpi yang kuletakkan tinggi-tinggi. Dulu, ketika kalimat demi kalimat itu kutulis, rasanya tak ada mimpi yang tak akan tergapai. Rasanya mudah saja semua hal yg kutulis akan kucapai. Tapi, (jujur saja aku benci memakai kata 'tapi') kini kenapa rasanya kalimat-kalimat di kertas itu terasa jauh ya.

Kini, kembali kubuka buku itu, dan kulihat kembali kertas yang isinya mimpi-mimpiku itu. Dengan khidmat kubaca kembali. Kuresapi setiap kalimatnya, kubayangkan di otakku dan kubiarkan mimpi-mimpi itu menari-nari sambil mengumpulkan kembali kepingan-kepingan harapanku yang sempat pecah tergerus pesimisme.

Oh Sang Maha Cinta peluklah mimpi-mimpiku.

Kini aku lapar. Mari Kita Makan

Selasa, 19 Juni 2012

Ujian di Mata Si Pemalas

Assalamu'alaikum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman dan percaya Tuhan.

Aku masihlah tukang ketik amatiran yang masih bingung akan menulis apa di postingan selanjutnya. Tapi ya biarlah, namanya juga amatiran.

Baiklah mari sedikit bercerita. Minggu-minggu saat Ujian Akhir Semester (UAS) adalah minggu-minggu yang paling menyibukkan. Hari-hari ketika UAS adalah hari-hari yang memaksaku untuk sedikit lebih rajin belajar dari hari biasanya. Jam demi jam pada saat UAS adalah waktu yang sangat melelahkan pikiran, menguras otak. Menit demi menit setelah UAS berakhir adalah hal yg kadang melegakan tapi menyisakan ketegangan bahkan ketakutan. Itulah yg kurasakan beberapa hari ini. Kampus menjadi lebih sepi daripada biasanya. Orang-orang sibuk belajar di kosan masing-masing seakan tidak ada waktu untuk bersantai sejenak. Kosan yang paling ramai adalah kosan yg dihuni mahasiswa-mahasiswa pintar. Golongan mahasiswa sepertiku akan berbondong-bondong datang ke kosan mahasiswa pintar ini untuk menuntut ilmu, mengais ilmu yang telah tercecer di awal semester. Dan pastinya begadang adalah menu utama kami, mata merah adalah identitas kami karena tidak tidur semalaman. Kertas-kertas berisikan rumus-rumus adalah obat dan pil pahit yg harus kami telan. Angan-angan liburan setelah UAS adalah suplemen penyemangat kami.

Aku yang biasanya begadang tiap malam karena nonton film korea malah harus begadang untuk belajar persiapan UAS. Betapa UAS mengubah hidupku, pola tidurku, pola makanku walau hanya 2 minggu saja. Inilah nasib sial bagi para pemalas. Inilah buah tangan dari sikap pemalas. Andai saja setiap perkuliahan aku tidak tidur di belakang kelas. Andai saja di setiap perkuliahan aku mencatat dan memperhatikan penjelasan dosen. Andai saja setiap tugas yg diberikan kukerjakan tanpa menyontek. Mungkin otakku tidak akan dipaksa bekerja sekeras ini, mungkin waktu tidurku tidak harus terpotong sebanyak ini. Tapi ya sudahlah, hidup itu pilihan. Aku sudah memilih bermalas-malasan di awal semester dan kini aku harus menanggung akibatnya. Tak apalah belajar lebih keras, begadang sampai tidak tidur pun tidak apalah. Akan kujalani. Semua hal ini harus kubayar tuntas kontan untuk ilmu dan IP yang lebih baik.

Kini semuanya sudah berakhir, UAS sudah terlewati dengan segala suka dukanya. Nilai seluruh mata kuliahpun sudah diumumkan dan Alhamdulillaaah hasilnya tidak mengecewakan bagiku. Mata merah akibat begadang terbayar sudah. Badan kurus akibat pola makan asal-asalan terlunasi sudah. Kini yg tersisa adalah liburan panjang. Namun tidak bagiku yang lagi-lagi harus kuliah di semester pendek akibat ada 1 mata kuliah yang harus kuulang. Hidup itu pilihan bung. Dan inilah pilihan yang harus kujalani akibat mengabaikan dan mengkhianati waktu luangku dengan bermalas-malasan. Seperti biasa sebuah janji terpatri di otakku setiap akhir semester, sebuah janji untuk belajar lebih giat lagi di semester selanjutnya, untuk ilmu dan untuk IP yg lebih baik.

Jumat, 08 Juni 2012

Hati: Nafsu dan Nurani

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Markimenlag : Mari Kita Menulis Lagi

Hal vital dari seorang manusia adalah hati. Semua hal digerakkan dari segumpal daging ini. Perasaan yang campur aduk berasal dari organ ini.

Hati manusia selalu dipengaruhi oleh 2 hal, nurani dan nafsu. Nurani dan nafsu akan selalu berperang dalam hati dan setiap langkah perbuatan manusia. Sampai kiamat 2 hal tak kasat mata ini akan selalu bersaing untuk menentukan jalan hidup manusia.

Cobaan berat bagi manusia adalah nafsunya. Jika ia mengikuti nafsu, maka ia mengikuti jalann sesat setan. Jika ia menuruti nafsunya maka ia baru saja memesan tiket azab. Jika ia mengikuti nafsu maka ia membuka jalan ke neraka. Nafsu menjurus ke perbuatan salah. Nafsu membalut dosa dengan bingkai terindah sehingga menjadi tampak biasa saja. Nafsu membuat kita buta akan surga. Nafsu membuat hal salah menjadi tampak benar. Nafsu membuat dosa menjadi hal yang diremehkan.

Sementara nurani, cenderung kepada kebaikan. Nurani membalut setiap perbuatan baik dengan keikhlasan. Nurani membuka jalan kedekatan dengan Tuhan. Nurani selalu ditemani keikhlasan dalam setiap perbuatan baik. Nurani membuat hati tenang dan tak gelisah. Nurani menjaga mata, telinga dan indera lainnya dari hal tak berguna. Nurani menutup pintu neraka. Orang yang mengikuti nuraninya berarti mengikuti jalan kebenaran.

Bagi kita, hanya 2 hal ini yang menjadi pilihan. Mengikuti nafsu atau nurani. Nafsu akan selalu didukung setan iblis untuk menggoda kita. Gabungan dari nafsu dan setan adalah kombinasi hebat untuk menjerumuskan manusia. Tetapi bagi orang yang mengikuti nuraninya, maka ia didukung oleh Tuhannya.

Tinggal pilih, nurani atau nafsu?