Ini tentang mimpi-mimpiku teman. Sudah seminggu ini aku sulit tidur. Tidak berselera makan. Mandi pun jarang. Semua ini karena mimpi-mimpi itu teman. Susahnya kalau punya mimpi adalah ketika kau tidak berusaha untuk mewujudkannya. Maka mimpi itu hanya akan menjadi mimpi yang menyesakkan hati. Dan itulah sekarang yang aku alami. Mimpiku setinggi langit. Usahaku serendah telapak kaki
Seminggu ini ada satu hal yang terus menerus dibicarakan oleh Mama setiap kali kami berbicara di telepon. Luar negeri. Ya itulah dia. Mama selalu berbicara mengenai luar negeri. Entahlah itu Eropa, Amerika, Afrika, atau Negara-negara lainnya. Dan ada satu hal yang selalu disinggung mama jika berbicara mengenai hal ini. Satu hal yang saat ini mengganggu pikiranku. Satu hal yang kadang membuatku lelah juga memikirnya. Yaitu kuliahku. Mama selalu bertanya kapan aku bisa kuliah ke luar negeri. Jika sudah bertanya begini, Mama pasti akan lanjut bercerita tentang saudara-saudaraku yang pernah kuliah di luar negeri atau sekedar pertukaran pelajar ke luar negeri. Seperti saat aku menelepon beliau beberapa hari yang lalu.
“ Eh Za, Kak Dinda minggu depan mau ke Turki Za! Ke Turki! Kata Tante Elly, Kak Dinda ikut program apa gitu dari kampus, makanya bisa ke luar negeri.” Mama bercerita dengan semangat tentang sepupuku Kak Dinda.
“Ke Turki Ma? Berapa hari Ma? Enak ya Ma.” Aku menanggapi seadanya. Padahal hatiku penasaran juga.
“Iya Nak, ke Turki. Satu bulan lebih!” Jawab Mama bersemangat.
“Ooh.” Aku bingung menanggapinya bagaimana.
“Fuza gitu juga la, ke luar negeri kayak Kak Dinda,” Mama mulai melancarkan ‘desakan’ kepadaku.
“ Ya Mam, secepatnya.” Hanya kalimat itu yang bisa kujawab.
“Maunya anak-anak Mama nanti kuliahnya di luar negeri. Kayak Om Fajar, walaupun dari kampung, bisa dia kuliah di Jerman.” Mama lagi-lagi bercerita tentang saudaraku, Om Fajar, yang menyelesaikan S2 nya di Jerman.
“Iya Mam, nanti Fuza S2 di luar negeri juga.” Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab seadanya.
“Cepat-cepat la Nak. Kak Dinda aja bisa ke luar negeri, masa Fuza enggak. Tanyalah nanti sama Kak Dinda gimana caranya. Kan bisa ikut pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Mama kembali menyindirku secara halus.
“Iya Mam, sabar aja. Fuza kan baru tahun pertama kuliah, nanti Fuza Tanya kalo ada beasiswa pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Aku berusaha menenangkan Mama di ujung telepon sana.
“Iya cepat lah. Jangan lama-lama. Kalau bisa pun nanti kerjanya di luar negeri. Biar Mama bisa ikut juga.” Percakapan Mama mulai merembet ke mana-mana.
“Ya Mam.”
“Kalo bisa cari beasiswa ke luar negeri. Kayak yang di buku 5 menara itu. “ Mama berkata
“Yoi Mam.” Jawabku sedikit kreatif
“Oiya, gimana beasiswa yang diajukan kemarin? Disetujui?” Pertanyaan Mama mulai merembet ke masalah lain.
Walaupun berat untuk menjawabnya, akhirnya kujawab juga, “Gak dapat Mam.”
Aku tahu pasti kalimat Mama setelah jawabanku ini.
“Itulah makanya Za. Sering-sering cari beasiswa. Kalo bisa beasiswa kuliah ke luar negeri juga. Kayak Kak Dinda, dia aktif di organisasi, makanya bisa ke luar negeri. Fuza gitu juga lah Nak.” Lagi-lagi Mama menyinggung masalah kuliah ke luar negeri. Semua hal tentang kuliahku disangkutpautkan tentang beasiswa ke luar negeri.
“Ya Mam, nanti Fuza cari.” Jawabku pendek singkat jelas dan tepat.
“Yaudalah. Mama mau masak dulu. Rajin-rajin belajar ya Nak, assalamu’alaikum.” Mama mengakhiri percakapan.
Begitulah teman. Akupun sebenarnya sangat ingin bisa ke luar negeri. Entah itu kuliah di sana, atau hanya sekedar ikut program pertukaran mahasiswa. Tetapi tentu tidak semudah itu. Bagaimana bisa aku memikirkan rencana untuk ke luar negeri, kalau aku saja masih terseok-seok mengikuti setiap mata kuliah agar IP tidak di bawah 3. Otakku terlalu pas-pasan untuk bisa memikirkan hal seperti itu.
Tetapi ya memang begitulah. Akupun mengakui usahaku belum maksimal. Keinginanku belum kuat. Mimpi untuk ke luar negeri masih terlalu tinggi untuk usahaku yang masih sedikit ini. Tetapi tenanglah Mama. Anakmu ini masih sibuk mencari jalan. Do’akan sajalah. Yang penting mimpi ke luar negeri itu masih kusimpan di dalam hati, walaupun kadang mengganggu tidurku.