Minggu, 19 Juni 2011

Mimpi Ke Luar Negeri

Ini tentang mimpi-mimpiku teman. Sudah seminggu ini aku sulit tidur. Tidak berselera makan. Mandi pun jarang. Semua ini karena mimpi-mimpi itu teman. Susahnya kalau punya mimpi adalah ketika kau tidak berusaha untuk mewujudkannya. Maka mimpi itu hanya akan menjadi mimpi yang menyesakkan hati. Dan itulah sekarang yang aku alami. Mimpiku setinggi langit. Usahaku serendah telapak kaki

Seminggu ini ada satu hal yang terus menerus dibicarakan oleh Mama setiap kali kami berbicara di telepon. Luar negeri. Ya itulah dia. Mama selalu berbicara mengenai luar negeri. Entahlah itu Eropa, Amerika, Afrika, atau Negara-negara lainnya. Dan ada satu hal yang selalu disinggung mama jika berbicara mengenai hal ini. Satu hal yang saat ini mengganggu pikiranku. Satu hal yang kadang membuatku lelah juga memikirnya. Yaitu kuliahku. Mama selalu bertanya kapan aku bisa kuliah ke luar negeri. Jika sudah bertanya begini, Mama pasti akan lanjut bercerita tentang saudara-saudaraku yang pernah kuliah di luar negeri atau sekedar pertukaran pelajar ke luar negeri. Seperti saat aku menelepon beliau beberapa hari yang lalu.

“ Eh Za, Kak Dinda minggu depan mau ke Turki Za! Ke Turki! Kata Tante Elly, Kak Dinda ikut program apa gitu dari kampus, makanya bisa ke luar negeri.” Mama bercerita dengan semangat tentang sepupuku Kak Dinda.

“Ke Turki Ma? Berapa hari Ma? Enak ya Ma.” Aku menanggapi seadanya. Padahal hatiku penasaran juga.

“Iya Nak, ke Turki. Satu bulan lebih!” Jawab Mama bersemangat.

“Ooh.” Aku bingung menanggapinya bagaimana.

“Fuza gitu juga la, ke luar negeri kayak Kak Dinda,” Mama mulai melancarkan ‘desakan’ kepadaku.

“ Ya Mam, secepatnya.” Hanya kalimat itu yang bisa kujawab.

“Maunya anak-anak Mama nanti kuliahnya di luar negeri. Kayak Om Fajar, walaupun dari kampung, bisa dia kuliah di Jerman.” Mama lagi-lagi bercerita tentang saudaraku, Om Fajar, yang menyelesaikan S2 nya di Jerman.

“Iya Mam, nanti Fuza S2 di luar negeri juga.” Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab seadanya.

“Cepat-cepat la Nak. Kak Dinda aja bisa ke luar negeri, masa Fuza enggak. Tanyalah nanti sama Kak Dinda gimana caranya. Kan bisa ikut pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Mama kembali menyindirku secara halus.

“Iya Mam, sabar aja. Fuza kan baru tahun pertama kuliah, nanti Fuza Tanya kalo ada beasiswa pertukaran mahasiswa ke luar negeri.” Aku berusaha menenangkan Mama di ujung telepon sana.

“Iya cepat lah. Jangan lama-lama. Kalau bisa pun nanti kerjanya di luar negeri. Biar Mama bisa ikut juga.” Percakapan Mama mulai merembet ke mana-mana.

“Ya Mam.”

“Kalo bisa cari beasiswa ke luar negeri. Kayak yang di buku 5 menara itu. “ Mama berkata

“Yoi Mam.” Jawabku sedikit kreatif

“Oiya, gimana beasiswa yang diajukan kemarin? Disetujui?” Pertanyaan Mama mulai merembet ke masalah lain.

Walaupun berat untuk menjawabnya, akhirnya kujawab juga, “Gak dapat Mam.”

Aku tahu pasti kalimat Mama setelah jawabanku ini.

“Itulah makanya Za. Sering-sering cari beasiswa. Kalo bisa beasiswa kuliah ke luar negeri juga. Kayak Kak Dinda, dia aktif di organisasi, makanya bisa ke luar negeri. Fuza gitu juga lah Nak.” Lagi-lagi Mama menyinggung masalah kuliah ke luar negeri. Semua hal tentang kuliahku disangkutpautkan tentang beasiswa ke luar negeri.

“Ya Mam, nanti Fuza cari.” Jawabku pendek singkat jelas dan tepat.

“Yaudalah. Mama mau masak dulu. Rajin-rajin belajar ya Nak, assalamu’alaikum.” Mama mengakhiri percakapan.

Begitulah teman. Akupun sebenarnya sangat ingin bisa ke luar negeri. Entah itu kuliah di sana, atau hanya sekedar ikut program pertukaran mahasiswa. Tetapi tentu tidak semudah itu. Bagaimana bisa aku memikirkan rencana untuk ke luar negeri, kalau aku saja masih terseok-seok mengikuti setiap mata kuliah agar IP tidak di bawah 3. Otakku terlalu pas-pasan untuk bisa memikirkan hal seperti itu.

Tetapi ya memang begitulah. Akupun mengakui usahaku belum maksimal. Keinginanku belum kuat. Mimpi untuk ke luar negeri masih terlalu tinggi untuk usahaku yang masih sedikit ini. Tetapi tenanglah Mama. Anakmu ini masih sibuk mencari jalan. Do’akan sajalah. Yang penting mimpi ke luar negeri itu masih kusimpan di dalam hati, walaupun kadang mengganggu tidurku.

Sabtu, 04 Juni 2011

Uci

Uci adalah panggilanku untuk nenekku. Aku memanggil beliau Uci. Kau juga pasti memiliki seorang nenek. Kau juga pasti menyayanginya, karena jika tidak itu artinya kau cucu durhaka.

Kau pasti mempunyai kenangan indah bersama nenek. Begitu juga dengan aku. Uci adalah orang yang menyayangi dan memanjakanku. Jika ketika aku kecil, Mama tidak mau mendengarkan rengekanku untuk membeli mobil-mobilan, maka Ucilah yang dengan lembutnya mengusap air mataku dan mengajakku pergi untuk membeli mobil-mobilan. Jika Mama tidak sempat menjemputku pulang ketika aku masih berada di Taman Kanak-Kanak, maka Ucilah yang dengan senang hati menjemputku, tidak lupa beliau juga membelikanku jajanan. Uci juga adalah orang yang selalu membelaku ketika dimarahi Mama, dan beliaulah yang membesarkan hatiku, mengingatkanku tentang kesalahanku. Ketika aku lulus SNMPTN, Ucilah orang kedua yang kuberitahu setelah kedua orang tuaku. Aku menelepon beliau ketika itu. Dan aku masih ingat ketika itu beliau menangis, karena mengetahui bahwa aku akan jauh darinya untuk menempuh bangku kuliah.
"Akhirnya.... per..gi juga kalian semua dari Medan." Uci berkata sambil sesenggukan. Aku tahu beliau menangis. Dadaku pun terasa sesak menahan haru.

"Tinggal Uci sendirian di sini. Baik-baik nanti kuliah di sana ya Fuza, do'akan Uci supaya sehat."

"Iya Ci, Fuza juga nanti kalo liburan bakal balik ke Medan juga. Jangan sedih ya Ci." Jawabku mencoba membesarkan hati Uci.

Itulah Uci. Begitu dekatnya aku dengan nenekku ini.

Hingga akhirnya aku harus melanjutkan kuliahku di Depok, aku masih sering berkomunikasi dengan Uci melalui telepon. Dan di setiap ujung percakapanku dengan Uci, Uci pasti selalu mendo’akanku agar kuliahku lancar dan selalu diberi kemudahan oleh Allah.


Minggu, 25 April 2011 23:40 WIB

Akhir-akhir ini aku sangat jarang menelepon Uci. Aku disibukkan oleh menumpuknya tugas-tugas kuliah. Percakapan terakhirku dengan Uci mungkin terjadi ketika menjelang UTS kemarin.

“Uci do’akan mudah-mudahan Fuza diberi kemudahan sama Allah supaya ujiannya lancar,” do’a Uci di ujung percakapan kami.

Seminggu ini aku diberi kabar oleh Mama tentang kesehatan Uci yang terus menurun. Bahkan kini beliau dirawat di rumah sakit. Beliau dirawat di ruang ICU karena sesak nafas. Aku sangat khawatir. Apalagi minggu sebelumnya Uci juga dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi kecil. Aku hanya bisa berdo’a mendengar kabar tentang kondisi Uci.

Dan tadi pagi alhamdulillah Mama menelepon bahwa kondisi Uci sudah membaik. Walaupun masih dirawat di rumah sakit, tetapi keadaan Uci semakin lama semakin membaik. Untuk sementara kekhawatiranku sedikit berkurang.

Aku masih terduduk di depan layar monitor untuk mengerjakan tugas kuliahketika tiba-tiba handphoneku berdering.

Mama meneleponku tengah malam begini? Hatiku langsung ciut. Perasaan gelisah langsung menjalar di sekujur tubuhku.

"Assalamu'alaikum Mam. kenapa Mam?" Tanyaku

"Fuzaaaa….” Terdengar suara Mama serak seperti menahan tangis.

Uci udah ga ada Naaak. Uci meninggal... hiks..hiks" Mama menangis di ujung telepon sana.

Aku terdiam lemas. Bayangan kenangan bersama Uci berkelebat di otakku.

"Fuza pulang ya Nak..hiks..hiks." Mama tersedu sedan.

Untuk sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya baru kemarin aku berpamitan dengan Uci sebelum kembali ke Depok. Dan kini beliau telah meninggalkanku.

Tidak terasa mataku berair.

"Iya Ma, Fuza pulang pagi ini ke Medan" jawabku pelan.