Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh
Apa kabar teman? Semoga hidup semakin beriman.
MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi
Sebenarnya bingung mau nulis apaan, tapi biarlah nulis ya nulis aja. Grammar salah ya gak apa-apa, tapi harusnya gak boleh juga ya? Ah sudahlah kapan nulisnya kalo masih kebanyakan mikir.
Jadi mau nulis apa? Entahlah. Oiya bahas BBM yuk, kan katanya harga BBM bentar lagi naik (makanya pake android). Iya tau, garing emang. Nah paling seru kalo harga BBM mau naik adalah ngeliatin komentar-komentar orang. Emang biasa pro-kontra pasti terjadi.
Alasan yang pro BBM naik harganya adalah konsumsi BBM yang semakin membengkak yang membuat APBN ikut membengkak gara-gara subsidi yang terus menerus diberikan pada harga BBM, makanya subsidi BBM harus dikurangi yang artinya harga BBM harus naik. Berangkat dari hal ini kalangan pro juga bilang kalo ternyata subsidi yang selama ini diberikan justru tidak tepat sasaran, lebh banyak dinikmati kalangan mampu. Itu sih alasan yang biasanya diungkapkan kalangan pro harga BBM naik.
Lalu bagaimana dengan yang kontra harga BBM naik? Nah kalo yang kontra alasannya adalah naiknya harga BBM tidak menyelesakan masalah sebenarnya dan malah akan menambah beban hidup masyarakat dengan ikut naiknya harga-harga barang. Hal ini justru dianggap malah semakin menimbulkan kesenjangan sosial dan cenderung meningkatkan angka kemiskinan. Masih ada solusi lain yang dianggap kalangan kontra mungkin untuk dilakukan seperti pelarangan konsumsi BBM bersubsidi bagi pemilik kendaraan roda 4. Namun hal ini juga riskan terhadap celah penyelewengan dan penimbunan BBM jika tidak dilakukan pengawasan secara ketat. Nah itu tadi sekilas tentang pro kontra naiknya harga BBM. Naik ataupun tidak, bersiap-siaplah teman.
Mau nulis apa lagi ya? Oiya udah 2 minggu ini aku magang di salahsatu BUMN di daerah Tanjung Priok. Awalnya ngerasa bakalan seru nih, tapi makin lama kok makin gabut ga ada kerjaan ya? Hmmm sepertinya masih harus banyak belajar dan banyak nanya juga biar gak gabut di kantor. Karena tempat magangku di daerah Tanjung Priok sedangkan kos-kosanku di daerah Depok, maka jadilah aku berteman dengan yang namanya bangun pagi-pagi sekali. Alarm handphone disetel jam 4 pagi. Bangun-bangun langsung mandi. Lanjut shalat Shubuh lalu pergi, kemudian naik bus lalu lanjut tidur lagi. Sampailah di kantor pukul 7 pagi. Begitulah setiap hari. Entah kenapa ngerasa seru menghadapi macetnya Jakarta. Aneh ya? Biarlah
Mau bahas apa lagi? Oiya barusan nonton videonya Jeremy Tetti yang BBM campuran. Lucu, Indonesia emang ga pernah kekurangan orang kreatif. Oiya, Arya Wiguna makin serng muncul di media ya? Ah biarlah, kasian dia lagi cari makan buat hidup. Hayoo apalagi? PKS keluar dari koalisi? Duh malas ngebahasnya, lagu lama yang terus-menerus diputar. Rooney mau dibeli Arsenal? Walah mudah-mudahan jangan.
Udah ya capek juga. Jangan lupa untuk tetap berdo'a dan tetap jadi orang baik.Semoga negeri ini tidak pernah kehilangan orang baik. Jangan lupa juga do'ain pemimpin-pemimpin kita, Bapak Presiden, Bapak Ketua DPR, Gubernur, Walikota semuanyalah kita do'ain.
Cukup ya, maaf tulisannya amburadul, silahkan ambil manfaat ya dari tulisan ini, itu juga kalau ada.
Sabtu, 15 Juni 2013
Jumat, 14 Juni 2013
Sariawan dan Pembelajaran
Ketika menulis tulisan ini aku sedang dihadiahi sebuah 'sentilan' dari Dia. Lidahku dititipkan 2 buah sariawan. sakit juga rasanya walau mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk membuatku tidak selera makan. Sariawan membuatku menjadi lebih pendiam. Bicara hanya sekedarnya. Kadang hanya mengangguk dan menggeleng. Mulut lebih sering tertutup, kadang terbuka untuk minum dan makan saja.
Sebelumnya aku memang banyak sekali bicara. Oceh sana, oceh sini. Komentar sana dan sini. Sariawan seolah menjadi gembok mulutku. Aku lebih banyak diam dan mengamati. Menjadi lebih sering mendengar daripada mengomentari.
Sariawan pada akhirnya menjadi semacam media untukku belajar mengendalikan lisan. Membuatku menahan diri untuk tidak berkomentar. Kicauan kalimat-kalimat tidak penting dari mulutku mulai jarang terdengar.
Pada akhirnya sariawan muncul di mulutku untuk mengingatkan, bahwa aku benar-benar harus menjaga lisan. Mungkin jika sariawan tidak bersemayam di lidah ini, akan lebih banyak perkataan sia-sia yang terucap, akan lebih banyak kalimat-kalimat yang menyakitkan hati orang lain yang keluar. Dari penyakit yang bernama ilmiah stomatitis ini mungkin kita juga bisa belajar untuk bersyukur. Bersyukur karena telah diingatkan untuk menjaga lisan. Mungkin itulah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk selalu bersyukur di setiap keadaan. Karena selalu ada hikmah terbaik dari setiap hal dan kejadian yang Dia berikan.
Terima kasih sariawan
Sebelumnya aku memang banyak sekali bicara. Oceh sana, oceh sini. Komentar sana dan sini. Sariawan seolah menjadi gembok mulutku. Aku lebih banyak diam dan mengamati. Menjadi lebih sering mendengar daripada mengomentari.
Sariawan pada akhirnya menjadi semacam media untukku belajar mengendalikan lisan. Membuatku menahan diri untuk tidak berkomentar. Kicauan kalimat-kalimat tidak penting dari mulutku mulai jarang terdengar.
Pada akhirnya sariawan muncul di mulutku untuk mengingatkan, bahwa aku benar-benar harus menjaga lisan. Mungkin jika sariawan tidak bersemayam di lidah ini, akan lebih banyak perkataan sia-sia yang terucap, akan lebih banyak kalimat-kalimat yang menyakitkan hati orang lain yang keluar. Dari penyakit yang bernama ilmiah stomatitis ini mungkin kita juga bisa belajar untuk bersyukur. Bersyukur karena telah diingatkan untuk menjaga lisan. Mungkin itulah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk selalu bersyukur di setiap keadaan. Karena selalu ada hikmah terbaik dari setiap hal dan kejadian yang Dia berikan.
Terima kasih sariawan
Langganan:
Postingan (Atom)