Selasa, 28 Mei 2013
Jalan Panjang Menuju Bangku Kuliah
Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh. Apa kabar teman? Semoga hidup semakin beriman.
MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi.
Beberapa waktu lalu baru saja diumumkan kelulusan jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Bagi yang lulus tentunya bahagia takkan terkira. Bagi yang belum lulus pasti ada rasa kecewa. Namun lulus ataupun belum lulus, bersyukur sepertinya menjadi sikap yang terbaik yang harus dilakukan. Setuju kan teman?
Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku saat berada di masa-masa ujian masuk dahulu (PTN). Pengalaman ini sebenarnya sudah lama aku tulis di notes akun facebook pribadiku. Namun kini aku ingin berbagi di blog ini. Semoga bisa bermanfaat.
Semua kisah ini berawal dari impianku untuk bisa kuliah di Universitas Indonesia (UI). Nama besar yang disandangnya serta kualitas yang tak lagi diragukan membuatku bercita-cita untuk bisa kuliah di salahsatu kampus terbaik di Indonesia tersebut. Hampir setiap hari aku dan teman-temanku yang lain yang juga memliki impian yang sama membicarakan hal ini. Mulai dari hal remeh temeh seperti tempat kos di UI, pergaulan di sana, dan lain hal sebagainya.
Akhirnya, bulan-bulan ujian masuk berbagai universitas datang juga. Aku mengikuti tes untuk masuk di UGM. Aku mengambil Jurusan Arsitektur, Teknik Geologi, dan terakhir Teknik Pertanian. Dengan persiapan yg minim, aku mengikuti ujian. Dan hasilnya, ketika pengumuman, aku tidak lulus. Panitia penyelenggara ujian UGM meminta maaf padaku karena ketidaklulusanku. Hatiku sakit, ngilu. Orangtuaku kecewa.
Setelah gagal di ujian UGM, targetku selanjutnya dan target yg utama adalah Seleksi Masuk (Simak) UI. Akhirnya tiba juga saat untuk ujian Simak UI. Di Simak UI ini aku mengambil jurusan Teknik Metalurgi, Teknik Bioproses, dan Teknik Perkapalan. Dan tetap dengan persiapan minim aku mengikuti Simak UI. Akhirnya hari pengumuman tiba. Hatiku dag dig dug. Dan hasilnya, lagi-lagi panitia penyelenggara ujian meminta maaf padaku. MAAF, AFUZA ASYRAF TIDAK LULUS DALAM UJIAN KALI INI. Aku merasa dilemparkan setinggi-tingginya dan dijatuhkan sekeras-kerasnya. Lagi-lagi aku mengecewakan orangtuaku.
Aku masih memiliki kesempatan di Ujian Masuk Bersama (UMB). Di UMB ini aku lagi-lagi mencoba peruntungan di UI, yaitu jurusan Teknik Metalurgi dan Teknik Perkapalan. Lagi-lagi persiapanku untuk ujian sangat minim. Ujian akhirnya datang juga. Dengan bermodalkan 20% pengetahuan otak, dan 80% kehebatan menebak jawaban, aku mencoba menjawab hampir semua soal-soal UMB kali ini. Lagi-lagi hari pengumuman itu tiba. Badanku lemas ketika muncul kalimat 'MAAF PESERTA DENGAN NAMA AFUZA ASYRAF TIDAK LULUS PADA UJIAN KALI INI' di layar monitorku. Panitia ujian kembali meminta maaf. Selesai sudah. Hanya kalimat itu yg muncul. Hanya kalimat itu. Tidak lebih. Aku memberitahukan ayahku mengenai hal ini. Mataku berkaca-kaca.
SNMPTN adalah jalan terakhirku untuk bisa kuliah tahun ini. Jika gagal lagi, maka dengan terpaksa aku harus menunggu hingga tahun depan. Maka aku pun tidak ingin mengulangi kesalahan yg sama seperti di ujian UGM, Simak UI, dan UMB kemarin. Kali ini aku belajar keras. Setiap hari aku membahas soal-soal yg pernah keluar di ujian SNMPTN tahun-tahun sebelumnya. Materi-materi pelajaran yg diberikan di bimbel kuulangi terus menerus. Tak lupa berdo'a siang dan malam pada Sang Maha Menentukan. Targetku di SNMPTN kali ini adalah Teknologi Kebumian ITB dan Teknik Perkapalan UI. Entah kenapa aku selalu memasukkan Jurusan Teknik Perkapalan UI di setiap ujianku.
Ujian SNMPTN tahun ini dilaksanakan selama 2 hari. Pada hari pertama, dengan persiapan yg cukup, aku berhasil menjawab sebagian besar soal-soal yg diberikan. Hal ini semakin menambah rasa optmisku untuk bisa lulus SNMPTN.
Manusia berencana, tetapi Tuhan yg menentukan. Itulah yg terjadi padaku di hari ke 2 ujian SNMPTN. Tiba-tiba aku jatuh sakit. Aku terkena DBD. Akhirnya, dengan kondisi tubuh yg lemah, aku memaksakan diri ikut ujian karena inilah jalan terakhirku untuk bisa kuliah tahun ini. Hanya seperempat soal yg bisa kujawab dari keseluruhan soal. Aku pasrah. Harapanku yg melambung tinggi di hari pertama ujian SNMPTN harus terjun bebas di hari ke 2.
Malam harinya aku langsung diopname di rumah sakit. Sempat terpikir olehku mengapa Allah memberiku cobaan seperti ini justru di saat aku harus mengikuti ujian SNMPTN? Mama lalu menasihatiku bahwa di setiap kesulitan, Allah pasti akan memberi kemudahan. Nasihat Mama menyadarkanku. Aku menjadi malu kepada diriku yang mempertanyakan keputusan-Nya. Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang. Pengumuman SNMPTN masih 3 minggu lagi. Setiap hari, siang dan malam aku berdo'a agar diberi kelulusan oleh Sang Maha Pembuat Keputusan. Aku juga meminta do'a kepada teman-temanku, saudara-saudaraku, bahkan orang yg baru kukenal. Harapanku untuk lulus memang kecil, tetapi apa yg bisa menghalangi jika Dia yg memutuskan? Kau harus tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan do'a.
Hari yang ditunggu itu tiba. Tepat hari Jum'at 16 Juli 2010 pukul 18.00 WIB hasil SNMPTN diumumkan. Aku sudah berada di depan layar monitor. Jantungku berdegup kencang. Badanku bergetar. Tubuhku panas dingin. Nafasku terasa memburu. Aku memasukkan nomor ujianku, lalu "Bismillah" kutekan tombol enter. Loading sebentar. Saat-saat yg menegangkan. Lalu muncul tulisan seperti ini
Nama : Afuza Asyraf
Diterima di: Teknik Perkapalan Universitas Indonesia
Aku terdiam sejenak. Tubuhku langsung bergetar hebat. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Tangisku pecah. Aku lulus di UI!!! Semua serasa seperti mimpi. Aku langsung sujud syukur. Tak henti-hentinya bibir ini mengucap takbir. Aku langsung menelepon ayah dan ibuku yg saat itu sedang pergi.
'As..sa...lamu...'alai..kum Yah', suaraku bergetar.
'Wa'alaikumussalam. Kenapa Nak?' tanya ayahku.
'Yah, Fuza lu..lus Yah.. Fu..za lu..lus di UI Yah,' jawabku terbata-bata
'Lulus di UI Nak?? Alhamdulillah, bangganya Ayah." jawab ayahku.
Terdengar suara gemerisik sebentar, lalu sebuah suara menyahut
'Lulus Fuza Nak?? Lulus di UI Nak?? Alhamdulillah, senang kali Mama." ternyata mamaku langsung merebut handphone dari tangan ayahku.
'Iya Ma, Fuza lulus Ma,' jawabku sambil terisak.
Hari itu pun menjadi hari yg indah bagiku.
Teman, sampai saat aku masih sulit untuk percaya bahwa akhirnya aku lulus di UI. Kau tahu sendiri bagaimana kegagalanku di UGM, tidak lulus di Simak UI, tidak diterima lewat jalur UMB, sampai terkena DBD di hari kedua SNMPTN. Hingga akhirnya aku lulus SNMPTN, gerbong terakhirku untuk bisa kuliah di UI. Semuanya terasa sangat bermakna, kegagalan-kegagalan yg kulalui di berbagai ujian tidak membuatku menyerah, tetapi menyadarkanku bahwa usaha yg terbaik akan diberi balasan yg terbaik. Dan Allah pasti memiliki rencana yg terbaik untuk kita.
Selamat berjuang untuk masa depanmu teman
Selasa, 21 Mei 2013
Tulisan Pesanan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang tidak didengar
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang lelah berkoar
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang bosan dengan perdebatan tak berarah
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang jijik dengan kebohongan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang muak dengan omong kosong
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang biasa hidup di pinggir jalan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang sesak di pengasingan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang sengaja dibuang
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang benci dengan janji tak teralisasi
Ini pesan mereka
Pakai hati nuranimu!
Pesanan dari mereka yang tidak didengar
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang lelah berkoar
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang bosan dengan perdebatan tak berarah
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang jijik dengan kebohongan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang muak dengan omong kosong
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang biasa hidup di pinggir jalan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang sesak di pengasingan
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang sengaja dibuang
Ini tulisan pesanan
Pesanan dari mereka yang benci dengan janji tak teralisasi
Ini pesan mereka
Pakai hati nuranimu!
Langganan:
Postingan (Atom)