Sabtu, 29 Desember 2012

Wanita Indonesia Abad 21


Wanita di masa sekarang ini menghadapi tantangan yang besar, terutama bagi wanita Indonesia. Bagaimana tidak, jika kita melihat sejenak ke beberapa tahun atau generasi sebelumnya, peran seorang wanita tidak sekompleks saat ini. Dahulu, sebagian besar orang menganggap peran wanita hanyalah sebagai ibu rumah tangga dan itu adalah peran yang terhormat di kalangan wanita. Namun, saat ini pergeseran mulai terjadi. Menjadi wanita dengan pencapaian karir yang tinggi terlihat lebih prestisius daripada membesarkan anak dan mengurus rumah tangga. Menjadi ‘orang kantoran’ sepertinya dianggap lebih bernilai. Sedangkan menjadi ibu rumah tangga dipandang sempit sebatas memasak, membersihkan rumah, mencuci, mengasuh anak, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Saat ini, di berbagai tingkatan sosial, wanita dituntut untuk memiliki peranan lebih dan bahkan mulai sejajar dengan peranan yang selama ini diemban lelaki. Di lingkungan mahasiswa misalnya, seorang wanita dalam hal ini mahasiswi mulai banyak merambah jabatan-jabatan penting dalam dunia organisasi kemahasiswaan ataupun kepanitiaan. Jika dahulu hanya jabatan sebagai penanggungjawab konsumsi yang dipercayakan kepada wanita, atau lebih tinggi lagi sebagai sekretaris. Namun sekarang bahkan jabatan sebagai ketua panitia suatu event mahasiswa hingga jabatan tertinggi sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa pun mulai dirambah oleh kalangan wanita. Dalam dunia kerja, bukanlah hal yang tabu lagi jika kita melihat posisi manajer suatu perusahaan diisi oleh kalangan wanita atau bahkan sebagai direktur utama. Dalam hal ini cukup banyak contoh yang bisa kita ambil seperti Karen Agustiawan, yang saat ini menjabat sebagai dirut Pertamina. Atau di tingkat internasional kita memiliki srikandi Sri Mulyani Indrawati yang saat ini menjabat sebagai Managing Director World Bank, atau hanya setingkat di bawah jabatan Presiden World Bank. Mereka adalah contoh nyata bahwa wanita Indonesia saat ini memiliki peranan yang penting di berbagai aspek.

Dari beberapa hal di atas terlihat bahwa wanita abad 21 saat ini memiliki tantangan yang jauh lebih besar dari wanita-wanita dahulu. Wanita saat ini tidak hanya melulu mengurusi rumah tangga, tetapi juga memiliki tanggung jawab di luar itu, baik itu dunia karir, sosial atau aspek lainnya.

Namun di balik itu semua, ada satu hal yang harus selalu dipegang dan menjadi ciri khas wanita Indonesia sampai kapanpun. Setinggi-tingginya karir dan pencapaian yang ia raih di luar rumah, namun tetaplah tujuan utama seorang wanita Indonesia adalah menjadi seorang ibu rumah tangga, sebagai pencetak dan pembentuk karakter generasi penerus bangsa Indonesia

(Artikel untuk beasiswa WIC)

Rabu, 21 November 2012

Biarkan Aku Iri

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Apa kabar saudara saudari? Semoga hidup semakin beriman

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Pernahkah merasa iri? Aku pernah. Dan kali ini semakin sering saja rasa itu muncul. Tapi ya sudahlah, kumpulkan saja rasa itu. Biarkan ia membesar. Sesakkan dada kita dengannya. Jadikan ia kekuatan. Capailah mimpi.

Wajar kalau iri. Bukankah kita sekali-sekali perlu melihat ke atas? Melihat mereka yg lebih dulu berada di puncak sana. Pasti kita ingin menggapai puncak itu juga kan?

Tapi rasa iri yang bijak adalah ketika kita iri melihat mereka yg berada di puncak namun tak lupa bersyukur bahwa ternyata masih ada yg posisinya masih jauh berada di bawah kita.

Maka jangan takut untuk memiliki rasa iri. Tanpa rasa iri kita akan cepat berpuas diri dan terjebak di tempat yg sama selamanya

Rabu, 03 Oktober 2012

Awal Langkah di Angka 20

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Apa kabar saudara-saudari? Semoga kau diberi hidayah dan jalan lurus selalu

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi

Dan tahukah kau teman, bahwa angka yang tertera di umurku kini berubah menjadi 20. Itu artinya aku telah beranjak dari diriku yang dulu masih 'belasan' jika diukur secara umur. Padahal aku merasa bahwa umurku saat ini masih 15. Memang perasaan kadang sering salah.

Aku dilahirkan di sebuah tempat tidur, sama seperti anak-anak kebanyakan lainnya. Aku lahir dari rahim seorang Ibu, yang kini kupanggil Mama. Tengah malam, sekitar pukul 12 lewat sedikit, sesosok bayi lahir dengan tangisannya yg membahagiakan. Kelahirannya melengkapi 2 jagoan lainnya yang telah lebih dulu lahir beberapa tahun sebelumnya.

Kelahiranku menegaskan kembali hegemoni Mama sebagai wanita paling cantik di keluarga kami. Ya, aku anak ke 3 dari 3 bersaudara yang kesemuanya adalah lelaki.

Oke, cukuplah kita bahas masalah kelahiran ini.

Di umurku yang sudah menyentuh angka 20 ini, mungkin sudah saatnya aku lebih banyak memberi daripada menerima. Di angka 20 ini, semua hal akan semakin menantang. Usia belasan telah kutinggal, tak ada lagi masa remaja karena kini aku perlahan beranjak dewasa.

Di angka 20 ini, Tuhan pasti sudah menyiapkan rencana untuk semua mimpi yang dulu sempat kunyatakan pada-Nya dalam setiap do'aku hingga saat ini. Dia pasti telah membaca catatan harianku dan memilah-milah mimpi apa yg akan Dia wujudkan dalam maktu dekat. Lalu Dia akan menyiapkan beberapa ujian untuk kulewati sekaligus melihat sekeras apa usahaku untuk mencapai mimpi itu. Tak hanya itu, Dia pasti juga akan menghadapkanku pada pilihan yang menyandingkan antara kepentingan dunia dan akhirat, lalu melihatku memilih, apakah Dia masih menjadi prioritas utama di atas mimpi-mimpiku.

Oh Cintaku, Sang Pengasih. Di umurku yang menyentuh angka 20 ini, izinkan aku menggapai mimpi-mimpiku yang pasti Kau dengar dalam penghambaanku setiap hari. Jagalah aku agar aku tak berpaling dari-Mu.

Oiya, tahukah kau kawan bahwa salah satu impianku adalah menjadi 100 orang terkaya di dunia? Semoga

Selasa, 02 Oktober 2012

Di Batas Gelap Yang Kulampaui

Aku seperti memakai topeng
topeng yang bagus
untuk dilihat mata awam kalian

Aku seperti dihantui sisi lain
gelap mendatangiku
walau aku enggan mengundangnya
bertahun-tahun ia mendekam di sini
mencoba meredupkan cahaya yang susah payah kunyalakan dulu

Aku terjebak dengan pikiran kelamku
pikiran yang menari-nari tak tentu arah
pikiran yang menuntunku untuk terperosok lebih jauh
ke dalam lubang kehampaan

Jujur saja aku masih berjuang melawan gelapku
aku masih berusaha menghidupkan cahayaku
aku masih berusaha mencintai-Nya
yang berkali-kali kukhianati

Aku masih berharap
di setiap kehinaan yang kulakukan
di setiap kebodohan yang aku ulangi
di setiap batas normal yang kulewati
masih ada Dia untuk menuntunku
Dia Yang Maha Cinta

2 Oktober 2012
Di sudut kamar kosan, di depan sebuah laptop

Kamis, 20 September 2012

Tentang Masa Depan

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Apakabar saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Kalau dihitung-hitung pakai kalender mungkin sudah lebih dari 2 minggu aku tidak menulis di blog lagi. Harap maklumlah hai kawan, aku sedang sibuk dalam menyibukkan diri. Ah, kau pasti bingung. Ya sudahlah.

Kita mulai dari .... Dan aku bingung harus mulai dari mana.

Baiklah kita mulai saja dari hari pertama kuliahku di semester 5 ini. Tak terbayang kini aku sudah memasuki tahun ke 2 kuliahku. Dan rasanya masa depanku masih terlihat samar-samar. Kadang aku takut untuk memikirkan akan seperti apa masa depanku nanti. Melihat senior-senior di kampusku yg telah lulus dan menyandang gelar akademik sarjana itu membuatku kembali berpikir sejenak. Ketika mereka terbangun pada hari pertama setelah diwisuda, apa yang terpikir di benak mereka? Mungkin bagi yang sudah diterima kerja pasti segera bersiap-siap berangkat ke kantor. Atau mungkin bagi mereka yg tengah merintis jadi wirausahawan pasti segera bersiap menyusun rencana-rencana untuk usaha yg mereka jalankan. Lalu bagaimana bagi mereka yang masih belum mendapat pekerjaan atau tidak memilih menjadi wirausahawan? Hari-hari setelah wisuda mungkin terasa menyakitkan.

Itulah yang aku takutkan kawan. Apa yang akan aku lakukan ketika tiba saatnya aku menghadapi hari-hari setelah gelar sarjana disematkan di belakang namaku? Apa yang akan kulakukan? Apakah pada saat itu aku sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama? Ataukah aku pada saat itu sedang merintis sebuah bisnis untuk menjadi wirausahawan? Itulah yang aku bingungkan kawan, terkadang.

Ah cukuplah kurasa aku menumpahkan kebingungan dalam 2 paragraf di atas. Masa depan harus segera direncanakan dari saat ini. Orang yang gagal merencanakan masa depan maka sebenarnya ia merencanakan kegagalan di masa depannya.


Hampir saja aku lupa, ini aku post sedikit foto ketika wisuda senior-seniorku dari Departemen Teknik Mesin dan juga Ikatan Mahasiswa Muslim Medan Universitas Indonesia (IMMM-UI)
Arak-arakan Wisudawan Departemen Teknik Mesin UI
Foto Bersama Abang dan Kakak para wisudawan IMMM UI

Oiya teman, tahukah kau bahwa aku bermimpi untuk menjadi salahsatu dari 100 orang terkaya di dunia? Sang Pengasih pasti tersenyum melihat mimpiku

Kamis, 30 Agustus 2012

Tuhan (Mungkin) Telah Mati

Assalamu'alaikum saudara-saudari

Semoga Hidup semakin beriman

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi

Mungkin judul posting di atas cukup provokatif. Tapi mungkin inilah hal yang sebenarnya terjadi pada diri kita, lebih tepatnya sebagian besar dari kita, termasuk aku.

Judul di atas hanyalah sebuah kiasan

Tuhan adalah Zat yang menciptakan kita, seisi dunia semesta jagad raya. Semua hal bergantung pada-Nya. Apakah kau percaya? Jika kau beriman pasti kau percaya dan tidak ada masalah bagimu untuk membaca paragraf selanjutnya. Jika kau tidak percaya pada Sang Pencipta maka khatamlah tulisan ini di paragraf ini karena pada paragraf selanjutnya akan kau anggap omong kosong.

Oke pada paragraf sebelumnya kita sudah sepakat akan kekuasaan Tuhan dan kita ini adalah ciptaan-Nya. Pantaskah untuk 'Sesuatu' yang telah menciptakan kita itu membuat peraturan dan mengatur kita sekehendak-Nya? Pasti YA jawabannya. Karena Dia punya hak untuk mengatur, dan sekali lagi jangan lupa Dia punya kuasa atas diri kita.

Lalu lihatlah sekeliling kita, lihatlah diri kita sendiri. Apakah perilaku kita selama ini mengikuti peraturan-Nya? Tanpa sadar kita telah 'membunuh-Nya' dari hati kita, pelan-pelan.

Lihat diri kita, kita campakkan diri ini pada nafsu yang terus menggelayuti. Lihat diri kita, sudah berapa sering kita lebih mementingkan nafsu daripada aturan Tuhan yang tak lekang zaman itu?

Lihat pejabat di sana, pemimpin kita semakin banyak yang tak peduli, sibuk urusan duniawi, entah itu korupsi, menjegal lawan politik, meraup kekayaan negeri. Maka di hati mereka para pengejar harta dan kuasa, Tuhan (mungkin) telah mati.

Lalu lihat anak-anak muda itu (termasuk aku sendiri) sibuk dengan nafsunya sendiri, kita menyebutnya dengan nama 'Cinta'. Saling berangkulan, berpelukan, dan mengumbar kata-kata mesra, lalu mengatasnamakan 'Cinta'. Ah sungguh nafsu telah membutakan mata kita kawan, termasuk aku. Tak tahukah kita tentang peringatan Dia bahwa jangan sekali-kali kita dekati zina? Tak pedulikah kita dengan aturan-aturan di kitab yang takkan berubah sampai akhir zaman itu? Maka di hati kita, para pemuda pemuja nafsu, Tuhan (mungkin) telah mati.

Lalu coba lihat golongan orang-orang yang kurang mampu secara finansial itu. Tak sedikit dari mereka kerja pontang-panting menghidupi keluarga. Berangkat mencari nafkah sebelum beranjak Shubuh, mereka lupa menghadap Tuhan dahulu. Maka di hati mereka yang sibuk dengan dunia, Tuhan (mungkin) telah mati.

Kawan, kita telah 'membunuh-Nya'. Kita mengaku percaya dengan segala kuasa-Nya tetapi bertingkah seolah Dia tidak ada. Kita yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian bertingkah seolah tak akan pernah dihinggapi mati.

Aku juga sama sepertimu, 'membunuh' Tuhan diam-diam di hatiku. Ayo kita berubah kawan. Masih ada waktu, tinggalkan semua nafsu kita itu. Hidupkan kembali Allah di  hati kita, jangan biarkan Dia mati. Sehebat apapun pencapaian, sebanyak apapun kekayaan semua akan terasa HAMPA saat kita tahu bahwa ternyata milik Dialah itu semua. Lalu ketika akhirnya kita mati dan meninggalkan dunia ini, masihkah ada Allah di hati kita? Semoga.


Rabu, 22 Agustus 2012

Lontong oh Lontong

Lontong
bentukmu kadang lonjong

Lontong
kau hadir mengisi hari-hari lebaranku
memenuhi ruang kosong di perutku

Lontong
Kadang kau tak sadar
dulu hadirmu selalu kurindukan
karena kau adalah tanda datangnya hari Kemenangan

Lontong
Kini kau hadir terlalu lama
kini kau terlalu sering menyapa
perutku yg mulai membuncit

Lontong
entah kenapa aku mulai bosan
mengapa kau ada di mana-mana?
di sudut-sudut meja makan setiap rumah
di setiap aku singgah ke tempat sanak saudara
selalu engkau yang jadi menu sajian utama

Lontong
sampai kapan kau menghiasi perut ini?
tak tahukah kau aku merindukan pulennya nasi?


Kamis, 16 Agustus 2012

Sebenarnya, Ada Sebuah Kisah...

Sebuah kisah kutinggalkan di sudut sana
kelas yg dulu jadi saksi
bisu

Sebuah kisah yg mungkin terlupa oleh mereka
tapi tidak denganku
masih jelas melekat di sini
di otakku

Sebenarnya masih ada yg tertinggal
tentang sebuah rasa
tak sanggup kuungkap kata
ah biarlah
hanya Tuhan dan aku yg tau

Sebenarnya ada ruang tentang dia
yg tertanam di sini
tapi takut aku membuka
takut dia tidak merasakannya

Sebuah kisah masih kubawa sampai di sini
jauh dari kelas dan papan tulis dahulu
biarlah sesak di dada
Tuhan pasti tau jawabnya

Senin, 06 Agustus 2012

Rumus Usaha dari Sang Guru Fisika


Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga Hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi.

Kali ini memoriku dilempar lagi ke kelas 3 SMA, di sebuah kelas saat pelajaran Fisika 

Cuaca di luar kelas cukup panas. Pak Amin sedang menjelaskan pelajaran Fisika. Kali ini mengenai mekanika. Aku duduk sambil mengantuk mendengarkan penjelasan beliau mengenai gaya, kecepatan, jarak, percepatan,  usaha dan segala hal yg berkaitan dengannya. Kulihat sekilas teman-temanku yang lain, nasibnya tak jauh berbeda denganku, terlihat malas-malasan dan jenuh. Otak kami penat dijejali berbagai mata pelajaran yang harus kami kuasai agar lulus Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari. Belum lagi ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)  yang persaingannya sangat ketat yang waktunya juga tidak lama lagi. Berbagai ilmu harus kami masukkan ke dalam kepala kami untuk kami pahami di sisa waktu hari-hari terakhir sekolah ini.

Lalu tiba-tiba suara Pak Amin menggelegar menghentak kami,.
‘ANAK-ANAKKU!! ‘ Pak Amin mengejutkan kami.


‘Hukum fisika yang sedang kita pelajari sebenarnya berhubungan dengan kondisi yang akan kalian hadapi nanti!!’

‘Tahukah kau tentang rumus Usaha, atau yang biasa dilambangkan dengan W?’

Pak Amin lalu mengambil spidol di mejanya lalu menuliskan sebuah rumus di papan tulis.

W, atau usaha berbanding lurus dengan perpindahan atau jarak yang dilambangkan dengan S. Begitu juga dengan apa yang akan kau hadapi. Usaha yang kau lakukan berbanding lurus dengan perpindahan yang akan terjadi dalam hidupmu. Perpindahan yang dimaksud adalah perpindahan nasib, perubahan masa depan, penentuan hidupmu!’ Pak Amin berkoar dengan berapi-api.

‘Jika kita lihat rumus di papan tulis, apa yang harus kita lakukan agar nilai S menjadi semakin besar? Yak benar sekali, kau harus membuat nilai dari W juga semakin besar! Lalu apa itu F? F adalah gaya. Dalam hidup ini, F adalah rintangan dan pesaing-pesaing yang akan kau hadapi.’

Aku yang semula mengantuk, mulai serius mendengarkan penjelasan beliau. Begitu juga teman-temanku yang lain tampak mulai serius mendengarkan mengenai hukum fisika yang satu ini.

‘Begini anakku. Kau akan menghadapi SNMPTN yang persaingannya sangat ketat. Kau pasti ingin masuk ke universitas-universitas terbaik di negeri ini kan? Mari kita lihat lagi rumus di papan tulis.’

Kami lalu kembali melihat rumus yang tertera di papan tulis. Otak polos kami mencoba memahami apa yang dijelaskan Pak Amin.

S adalah masa depanmu yang kau tuju, cita-cita yang kau impikan. Jika kau menginginkan lulus di universitas terbaik, itu artinya kau menginginkan nilai  S yang besar, dengan kata lain kau menginginkan perpindahan nasib yang besar. Sementara itu, kau juga telah mengetahui untuk mencapai nilai S yang besar itu kau harus menghadapi berbagai macam rintangan dan pesaing-pesaing yang berasal dari seluruh Indonesia yang juga menginginkan kuliah di universitas terbaik. Para pesaing dan rintangan itu dilambangkan dengan F.’

Oke, kali ini rumus tersebut mulai bisa aku cerna. Teman-temanku yang lain tampak mengangguk-angguk tanda mengerti.

‘Dari rumus di atas, apa yang kau lakukan agar mencapai nilai S yang besar tersebut? Apa yang harus kau lakukan agar cita-citamu kuliah di universitas terbaik bisa tercapai?’
‘Kau harus memperbesar nilai W!’

KAU HARUS MEMPERBESAR USAHAMU!!!!’

Kali ini suara Pak Amin menggelegar memantul mantul di ruang dinding kelas dan otak kami. Kami terhenyak, terdiam, tersadar.

‘Kau harus memperbesar usahamu, anakku. Bagaimana bisa kau mencapai nilai S yang besar sementara nila W yang kau beri kecil. Bagaimana bisa kau mencapai cita-citamu yang besar jika usaha yang kau lakukan kecil? Bagaimana bisa kau mengalahkan pesaing-pesaingmu di ujian masuk perguruan tinggi nanti jika usaha yang kau lakukan kecil?’

Kelas menjadi hening. Diam menghinggapi diri kami. Pelan-pelan terasa ada yang bergemuruh dalam dadaku. Otak yang beku kembali menghangat dibakar api semangat. Dinginnya hati karena rasa pesimis dan jenuh mulai berkobar lagi.

‘Kau harus berusaha anakku!! Kau harus memperbesar usahamu!!! Usaha apa yang bisa kau lakukan? BELAJAR!! Belajarlah anakku!! Kuasai ilmu yang kau pelajari! Pahami materi pelajaran yang diberikan guru-gurumu!! Itulah bentuk usaha yang bisa kau lakukan, itulah nilai W! Semakin besar usahamu, semakin besar nilai S yang kau dapat. Semakin giat kau belajar, semakin tinggi cita-cita yang akan kau capai! Semangatlah belajar anakku, waktumu tidak lama lagi sebelum ujian masuk perguruan tinggi datang.’ Pak Amin mengakhiri ceramah motivasinya.

Kami tercenung mendengar nasihat Pak Amin yang sangat menggebu-gebu. Nasihat barusan seolah-olah menghidupkan kembali kobaran api semangat yang selama ini meredup dalam hati kami.

Kini, sudah 2 tahun lebih sejak beliau menyampaikan nasihat itu di kelasku. Nasihat tersebut masih terngiang-ngiang di otakku.

Minggu, 29 Juli 2012

Kuliah untuk Mereka

Assalamu'alaikum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi


Entah kenapa tiba-tiba otakku kembali mengingat ke situasi dua tahun lalu. 

Hari itu entah tanggal berapa aku tak ingat. Saat itu aku duduk terpaku di dalam bis kota, baru saja pulang dari sebuah pameran pendidikan. Mataku memandang ke arah luar melihat mobil-mobil melintas sibuk hilir mudik. Para pengendara sepeda motor meliak-liuk di antara mobil dan angkutan lainnya menambah sesak jalanan ibu kota.

Seorang pengamen lalu masuk dengan ukulele di tangannya. Dari garis-garis di wajahnya, aku rasa umurnya sudah kepala tiga, atau mungkin di penghujungnya. Setelah berbasa-basi sebentar, ia mulai bernyanyi sambil memainkan ukulelenya yg juga terlihat sudah berumur. Suaranya serak. Lelaki ini berusaha sekuat tenaga dan jiwanya untuk bernyanyi mengikuti nada pada ukulelenya. Semakin ia berusaha, semakin jauh pula nada-nada suaranya berlarian entah ke mana. Suaranya sayup-sayup terdengar, berusaha mengalahkan suara reot mesin bis kota ini yg juga tak mau kalah dengan suara deru mobil-mobil di luar sana.  Dari sorot matanya aku tahu, ia sangat menjiwai lagu tersebut. Sebuah lagu tentang kesetiaan mencintai seseorang walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Dari lagu yang ia nyanyikan aku bisa menebak, pengamen ini masih lajang. Bujangan tulen.

Mataku kembali memandang ke luar, ke arah jalanan. Hari sudah menjelang malam. Lampu-lampu jalanan mulai dihidupkan. Bis kota ini masih melaju dengan suara mesinnya yg tua. Aku teringat dengan hari-hari kuliahku. Baru sebulan aku menjalani masa kuliah ini tetapi aku sudah merasa bosan dan jenuh. Seminggu terakhir aku merasa berada di titik-titik terendah semangatku untuk kuliah, bahkan sempat terlintas di pikiranku jika kuliah ini tidak ada artinya.

Lalu tiba-tiba aku teringat kembali tentang perjuanganku untuk lulus di seleksi masuk perguruan tinggi dan akhirnya bisa kuliah di kampusku sekarang ini. Aku teringat tentang impian-impianku. Aku teringat kembali jerih payah orangtuaku dan tangis haru kebanggaan mereka ketika aku diterima di universitas ini. Aku teringat kembali tentang teman-temanku yg kurang beruntung yg bahkan tidak mengenal  dan mengecap pendidikan. Aku teringat tentang suara serak si pengamen yg meskipun suaranya mengkhianati nada namun tetap ia paksakan untuk bernyanyi demi mengisi kosongnya perut yg berontak minta diisi. Aku teringat, aku kuliah bukan hanya untukku, tapi juga untuk mereka. SEMOGA

Kamis, 12 Juli 2012

Di KRL Ekonomi, Bersyukurlah

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Apa kabar saudara-saudari. Semoga selalu sayang dengan Tuhan.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Naik kereta atau biasa disebut KRL (Kereta Rel Listrik) menjadi kegiatan rutinku setiap akhir pekan saat pulang ke rumah. Jarak dari kampus ke rumahku yg cukup jauh membuatku lebih memilih naik KRL daripada angkutan umum lain. Terhindar dari macetnya ibu kota serta terlindungi dari debu dan asap kendaraan bermotor adalah salahsatu alasannya. Namun itu jika kita naik KRL Commuterline, jika naik KRL Ekonomi debu asap juga tak dapat dihindari.

Siang ini terik. Suasana stasiun Sudimara cukup ramai. Aku menunngu di peron 2, jalur KRL ke arah stasiun Tanah Abang. Tidak lama KRL ekonomi yg kutunggupun tiba. Para penumpang berebut masuk. Aku langsung mencari tempat di pinggir pintu gerbong, tempat duduk sudah penuh ditempati. Sekilas aku memandang tertangkap sosok yang cukup menyeramkan bagiku, seorang waria duduk tidak jauh dari tempatku berdiri. Rasa trauma karena pernah dicolek waria membuatku memutuskan mencari tempat lain. Aku lalu berjalan menuju gerbong yang lain. Untunglah masih ada tempat di pinggir pintu gerbong walaupun harus berdiri.

Selama perjalanan, aku suka mengamati keadaan dan suasana di kereta ekonomi yg aku tumpangi. Banyak pemandangan 'menarik' yg dapat kulihat. Tiap bebrapa menit pasti lewat pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam barang dagangannya. Kali ini tidak jauh dariku seorang bapak dengan pakaian lusuh menjajakan minuman kepada para penumpang. Wajahnya berpeluh keringat. Sempat terpikir, berapa orang yang harus ia hidupi dengan dagangannya? Entah kenapa aku jadi teringat dengan Ayah.

Lalu tak lama kemudian lewat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya sambil membawa sebuah kotak musik yang dikalungkan di badannya. Kotak itu berfungsi sebagai sound yang terhubung dengan sebuah pemutar kaset dan sebuah michrophone. Dari kotak itu terdengar lantunan lagu dangdut 'Alamat Palsu' beserta suara parau si ibu. Oh ternyata ibu ini seorang pengamen. Bersama dengan anak di gendongannya ia berjalan dari gerbong ke gerbong sambil bernyanyi dengan suaranya yg kadang terdengar serak. Hatiku ngilu.

Aku masih tertegun ketika tiba-tiba saja mataku menatap seseorang dengan fisik yang mencengangkan. Kaki dan tangannya puntung. Ia berjalan dengan bantuan lutut dan sikunya yg masih tersisa. Pakaiannya compang camping. Dari gerbong ke gerbong ia berjalan seperti itu mengharap belas kasih para penumpang. Miris melihatnya

Aku lalu mengalihkan pandanganku keluar kereta. Tampak rumah-rumah kecil berdiri di sepanjang rel kereta. Rumah-rumah itu beratapkan kardus yang ditimpa ban-ban bekas agar tidak lepas saat angin kencang menerpa. Lingkungan di sekitarnya sangat jauh dari kata bersih. Di sana hidup berbagai keluarga bersempit-sempitan, berdempet-dempet. Pedih melihatnya

Tak terasa, kereta yang kutumpangi sudah sampai stasiun Tanah Abang. Dalam hati aku bersyukur, bukan hanya karena sampai tujuan dengan selamat, tetapi karena masih banyak hal yg harusnya aku syukuri di dunia ini. Aku lebih beruntung dari mereka


Senin, 02 Juli 2012

Tuhan, Ini aku

Tuhan, ini aku hambaMu yang banyak hinanya. 
Ini aku yang suka berjanji tapi sangat jarang ditepati. 
Ini aku yang seminggu lalu mengharap-harap ampunanMu setelah dosa yg kuperbuat tapi justru kini kuulangi.

Tuhan, ini aku yang kadang tidak ikhlas hatinya mencintaiMu.
Ini aku, yang setengah hati mencintaMu
Ini aku yang mencinta mungkin baru sebatas di bibir saja

Tuhan, ini aku yang hatinya sering merasa kosong
Ini aku yang hatinya mengharap cintaMu
Ini aku yang butuh tetapi lemah cintanya padaMu

Tuhan, ini aku yg hanya mengharap puja puji manusia
Ini aku yang lupa mencari perhatianMu
Ini aku yang sibuk mencari nikmat fana dunia

Tuhan, ini aku yg justru mengharap dosa
Ini aku yang galau dimanipulasi nafsu dunia
Ini aku yang mengharap cinta naif belaka

Tuhan, ini aku. Kau pasti tau
Di hatiku yang hina ini
ada secercah cinta untukMu
bantu aku

Kamis, 21 Juni 2012

Tanda Checklist dan Impian Yang Terlupa

Assalamu'alaikum saudara-saudari. Semoga hidup semakin beriman

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Ini semua tentang sebuah lembaran kertas yang terselip di sebuah buku yang sekarang jarang kubuka, secarik kertas yang terdiri dari sekitar 20 baris dengan berbagai kumpulan kata yang membentuk kalimat. Kalimat-kalimat di kertas ini kutulis beberapa tahun lalu dengan semangat menggebu-gebu, dengan pikiran-pikiran 'liar'. Kalimat-kalimat yang dulu selalu kubaca setiap hari, setiap aku lelah, setiap aku merasa kehilangan gairah.

Di baris paling atas kertas ini tertulis 'Target Hidup'.  Kalimat di baris setelahnya tertulis 'Lulus SMA'. Kalimat itu sudah kuberi tanda checklist yang menandakan bahwa hal tersebut sudah kucapai. Lalu kubaca kalimat di baris setelahnya. Tertulis 'Kuliah di Universitas Indonesia'. Kalimat itupun sudah kuberi tanda checklist. Dan ternyata itu kalimat terakhir yang kuberi tanda checklist. Kalimat-kalimat setelahnya masih belum diberi tanda apa-apa.

Ini semua tentang secarik kertas yang berisi impian dan mimpi-mimpi yang kuletakkan tinggi-tinggi. Dulu, ketika kalimat demi kalimat itu kutulis, rasanya tak ada mimpi yang tak akan tergapai. Rasanya mudah saja semua hal yg kutulis akan kucapai. Tapi, (jujur saja aku benci memakai kata 'tapi') kini kenapa rasanya kalimat-kalimat di kertas itu terasa jauh ya.

Kini, kembali kubuka buku itu, dan kulihat kembali kertas yang isinya mimpi-mimpiku itu. Dengan khidmat kubaca kembali. Kuresapi setiap kalimatnya, kubayangkan di otakku dan kubiarkan mimpi-mimpi itu menari-nari sambil mengumpulkan kembali kepingan-kepingan harapanku yang sempat pecah tergerus pesimisme.

Oh Sang Maha Cinta peluklah mimpi-mimpiku.

Kini aku lapar. Mari Kita Makan

Selasa, 19 Juni 2012

Ujian di Mata Si Pemalas

Assalamu'alaikum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman dan percaya Tuhan.

Aku masihlah tukang ketik amatiran yang masih bingung akan menulis apa di postingan selanjutnya. Tapi ya biarlah, namanya juga amatiran.

Baiklah mari sedikit bercerita. Minggu-minggu saat Ujian Akhir Semester (UAS) adalah minggu-minggu yang paling menyibukkan. Hari-hari ketika UAS adalah hari-hari yang memaksaku untuk sedikit lebih rajin belajar dari hari biasanya. Jam demi jam pada saat UAS adalah waktu yang sangat melelahkan pikiran, menguras otak. Menit demi menit setelah UAS berakhir adalah hal yg kadang melegakan tapi menyisakan ketegangan bahkan ketakutan. Itulah yg kurasakan beberapa hari ini. Kampus menjadi lebih sepi daripada biasanya. Orang-orang sibuk belajar di kosan masing-masing seakan tidak ada waktu untuk bersantai sejenak. Kosan yang paling ramai adalah kosan yg dihuni mahasiswa-mahasiswa pintar. Golongan mahasiswa sepertiku akan berbondong-bondong datang ke kosan mahasiswa pintar ini untuk menuntut ilmu, mengais ilmu yang telah tercecer di awal semester. Dan pastinya begadang adalah menu utama kami, mata merah adalah identitas kami karena tidak tidur semalaman. Kertas-kertas berisikan rumus-rumus adalah obat dan pil pahit yg harus kami telan. Angan-angan liburan setelah UAS adalah suplemen penyemangat kami.

Aku yang biasanya begadang tiap malam karena nonton film korea malah harus begadang untuk belajar persiapan UAS. Betapa UAS mengubah hidupku, pola tidurku, pola makanku walau hanya 2 minggu saja. Inilah nasib sial bagi para pemalas. Inilah buah tangan dari sikap pemalas. Andai saja setiap perkuliahan aku tidak tidur di belakang kelas. Andai saja di setiap perkuliahan aku mencatat dan memperhatikan penjelasan dosen. Andai saja setiap tugas yg diberikan kukerjakan tanpa menyontek. Mungkin otakku tidak akan dipaksa bekerja sekeras ini, mungkin waktu tidurku tidak harus terpotong sebanyak ini. Tapi ya sudahlah, hidup itu pilihan. Aku sudah memilih bermalas-malasan di awal semester dan kini aku harus menanggung akibatnya. Tak apalah belajar lebih keras, begadang sampai tidak tidur pun tidak apalah. Akan kujalani. Semua hal ini harus kubayar tuntas kontan untuk ilmu dan IP yang lebih baik.

Kini semuanya sudah berakhir, UAS sudah terlewati dengan segala suka dukanya. Nilai seluruh mata kuliahpun sudah diumumkan dan Alhamdulillaaah hasilnya tidak mengecewakan bagiku. Mata merah akibat begadang terbayar sudah. Badan kurus akibat pola makan asal-asalan terlunasi sudah. Kini yg tersisa adalah liburan panjang. Namun tidak bagiku yang lagi-lagi harus kuliah di semester pendek akibat ada 1 mata kuliah yang harus kuulang. Hidup itu pilihan bung. Dan inilah pilihan yang harus kujalani akibat mengabaikan dan mengkhianati waktu luangku dengan bermalas-malasan. Seperti biasa sebuah janji terpatri di otakku setiap akhir semester, sebuah janji untuk belajar lebih giat lagi di semester selanjutnya, untuk ilmu dan untuk IP yg lebih baik.

Jumat, 08 Juni 2012

Hati: Nafsu dan Nurani

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Markimenlag : Mari Kita Menulis Lagi

Hal vital dari seorang manusia adalah hati. Semua hal digerakkan dari segumpal daging ini. Perasaan yang campur aduk berasal dari organ ini.

Hati manusia selalu dipengaruhi oleh 2 hal, nurani dan nafsu. Nurani dan nafsu akan selalu berperang dalam hati dan setiap langkah perbuatan manusia. Sampai kiamat 2 hal tak kasat mata ini akan selalu bersaing untuk menentukan jalan hidup manusia.

Cobaan berat bagi manusia adalah nafsunya. Jika ia mengikuti nafsu, maka ia mengikuti jalann sesat setan. Jika ia menuruti nafsunya maka ia baru saja memesan tiket azab. Jika ia mengikuti nafsu maka ia membuka jalan ke neraka. Nafsu menjurus ke perbuatan salah. Nafsu membalut dosa dengan bingkai terindah sehingga menjadi tampak biasa saja. Nafsu membuat kita buta akan surga. Nafsu membuat hal salah menjadi tampak benar. Nafsu membuat dosa menjadi hal yang diremehkan.

Sementara nurani, cenderung kepada kebaikan. Nurani membalut setiap perbuatan baik dengan keikhlasan. Nurani membuka jalan kedekatan dengan Tuhan. Nurani selalu ditemani keikhlasan dalam setiap perbuatan baik. Nurani membuat hati tenang dan tak gelisah. Nurani menjaga mata, telinga dan indera lainnya dari hal tak berguna. Nurani menutup pintu neraka. Orang yang mengikuti nuraninya berarti mengikuti jalan kebenaran.

Bagi kita, hanya 2 hal ini yang menjadi pilihan. Mengikuti nafsu atau nurani. Nafsu akan selalu didukung setan iblis untuk menggoda kita. Gabungan dari nafsu dan setan adalah kombinasi hebat untuk menjerumuskan manusia. Tetapi bagi orang yang mengikuti nuraninya, maka ia didukung oleh Tuhannya.

Tinggal pilih, nurani atau nafsu?


Selasa, 03 April 2012

Duit Oh Duit

Duit adalah masalah krusial bagi anak kos, termasuk aku. Jika kiriman orangtua sudah datang di awal bulan, maka itulah surga dunia. Duit kiriman orangtuaku itu langsung dipakai untuk makan yang enak-enak. Pagi makan nasi padang pakai ayam gulai, makan siang dengan nasi padang pakai rendang plus es jeruk, lalu malam dilanjutkan dengan makan sate kambing ditambah jus mangga.

Tetapi kondisi seperti itu biasanya tidak bertahan lama

Selasa, 20 Maret 2012

Untuk Hamba Yang Galau


Untuk hambaKu yg galau

Di tempat

HambaKu, Aku tahu akhir-akhir ini hatimu sering gelisah karena cinta, atau istilah yg sering kalian ucapkan ‘galau’.

HambaKu, sebenarnya Aku bisa dengan mudah membalikkan hatimu ke hati yg lain dan menghilangkan rasa gelisahmu, rasa galaumu, tapi tak Kulakukan. Aku hanya menguji, sampai kapan kau bertahan menyimpan harapan pada manusia. Sampai kapan akhirnya kau menyadari dengan sendirinya bahwa sebenarnya kepadaKulah seharusnya kau menyimpan harapan, Akulah yg harusnya menjadi tempatMu berharap.

HambaKu, kadang Aku cemburu

Selasa, 13 Maret 2012

Curhat Galau dengan Tuhan


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 
Semoga hidup selalu beriman

Aku pernah terpikir, bagaimana jika seorang yg sedang galau mengajak Tuhan untuk curhat? Mungkin seperti ini beberapa petikan percakapan mereka

Galau: Tuhan, kenapa hatiku aku akhir-akhir ini sering galau ya?
Tuhan: Karena kamu jarang mikirin Aku. Coba saja kau sering mengingatKu, hatimu pasti akan tenang.

Galau : Tuhan, aku mencintai dia. Aku gak bisa hidup tanpanya, aku ingin dia kembali padaku.
Tuhan: Yaelah, kan Aku yg ngasih kamu nyawa. Gak mungkin kamu gak bisa hidup tanpa dia.

Galau: Tuhan, kenapa aku gak bisa ngelupain dia dari pikiranku?

Kamis, 16 Februari 2012

Malas, Galau dan Jodoh


Assalamu'alaikum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman.

Izinkan aku menulis lagi. Markimenlag : Mari Kita Menulis Lagi.

H U F T. Akhirnya setelah liburan kurang lebih sebulan lamanya, aku harus kembali lagi menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah. Rasa malas menghinggapi dan menggoda imanku, seakan menahanku agar aku tidak beranjak dari liburku. Memang sialan rasa malas itu, enak-enak saja menggoda mahasiswa lemah iman sepertiku. Memang kurang ajar rasa malas situ, jika ia berwujud manusia patutlah ia dihukum seberat-beratnya, atau kalau bisa dihukum mati saja sekalian. Coba saja kau pikir dampak dan akibat dari perbuatan si ‘rasa malas’ ini. Jika korbannya adalah mahasiswa sepertiku, maka ia akan menghancurkan masa depan mahasiswa tersebut. Tidak hanya itu si ‘rasa malas’ juga menghancurkan harapan orang-orang terdekat mahasiswa sial itu, terutama orangtuanya. Dan tetap tidak berhenti sampai di situ,

Selasa, 31 Januari 2012

Hidup Itu Pilihan

Assalamu'alaikum saudara-saudari.

Izinkan saya menuliskan dan mengetik.

Hidup itu pilihan. Kalimat ini seolah sudah terpatri di otakku. Semua yg kita jalani di dunia ini adalah pilihan. Mulai dari bangun pagi sampai kita tidur kembali semuanya adalah pilihan. Contohnya adalah ketika kita ingin buang air, kita pasti dihadapkan dengan pilihan, apakah ingin buang air saat ini, atau beberapa menit lagi? Ketika kita ingin kentut,