Assalamu'alaykum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman dari har ke hari
MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi.
Musim hujan datang. Air turun dari langit dengan rasa cintanya yg besar terhadap bumi. Bagi kita manusia yang mengeluhkan panasnya cuaca dan teriknya matahari, harusnya kini bersyukur ketika hujan tiba dengan jutaan bahkan milyaran tetesannya. Bukankah kini udara terasa lebih sejuk, keringat tak lagi tercucur akibat suhu yg tinggi, siang bahkan terasa sejuk karena hujan yg membasahi. Masih terekam jelas di benak kita bagaimana keluhan-keluhan teriknya cuaca pernah meluncur dari mulut ini beberapa bulan lalu. Lihat kembali status-status di jejaring sosial dan perkataan-perkataan
kita ketika cuaca sedang hangat-hangatnya, ketika matahari masih gagah
bersinar di atas langit negeri kita ini. Coba lihat lagi, ah ternyata
banyak keluhan tentang cuaca yang panas. Linimasa twitterku penuh dengan
ocehan-ocehan yang menyalahkan cuaca, mengutuk mentari, mengeluhkan
keringat yg jatuh akibat tingginya suhu udara.
Tapi, kini apa yang terucap dari mulut kita? Keluhan kembali meluncur deras, mungkin lebih deras dari hujan yg turun. Linimasa twitterku kembali penuh dengan ocehan yg lagi-lagi menyalahkan cuaca, hujan dianggap mengganggu aktivitas, membuat motor yg baru saja dicuci kembali basah dan kotor, bahkan dianggap mendatangkan bencana.
Lihat sekarang, Jakarta dan daerah sekitarnya banjir. Tak pernah sehebat ini banjir di ibukota dampaknya. Jalan-jalan protokol seperti danau. Aktivitas masyarakat lumpuh, lumpuh total. Apakah karena hujan? Tidak. Terlalu egois jika kita menyalahkan hujan. Ini salah kita, teman. Ini akibat kelakuan kita. Hujan adalah siklus alam yg telah diciptakan Tuhan. Jika siklus itu bergeser atau berubah, itu karena kita yang mengubahnya. Perlakuan kita terhadap bumilah yang membuat hujan menjadi bencana.
Ego kita membuat lupa bahwa bumi ini titipan Tuhan yg harus dijaga. Ego kita yg membuat kita lupa bahwa hal terkecil dari membuang sampah sembarangan berdampak bencana besar. Ego kita yg membuat lupa bahwa selain gedung tinggi menjulang kta juga membutuhkan pohon besar dan rindang. Ego kita yang membuat kita lupa, bahwa Tuhan menurunkan hujan sebagai rahmat-Nya, bukan sebagai bencana. Lalu ketika hujan datang dan berakibat bencana, apakah berarti Dia ingkar terhadap janji-Nya? Mari kita renungkan