Minggu, 16 April 2017

Impian Nomor 7 (Part 3)

Setelah sekian purnama berlalu, akhirnya lanjutan cerita berantai Impian Nomor 7, saya lanjutkan kembali.



Januari 2010

Seorang motivator kondang yang aku lupa namanya pernah mengatakan bahwa kalau ingin impian anda terwujud, maka tuliskanlah mimpi-mimpi itu. Maka aku telan bulat dan mentah perkataan tersebut di siang yang panas ini. Di atas meja makan yang permukaannya dilapisi kaca yang retak karena kejahilan masa kecil abangku mengetok-ngetok meja dengan sendok aluminium, aku mulai menulis mimpi-mimpiku pada secarik kertas.

Di baris pertama aku menuliskan 'Target Hidup'. Lalu aku mulai memikirkan impian apa yang harus kucapai dalam waktu dekat ini. Sejenak aku merenung. Lalu aku tulis pada nomor pertama impianku, 'Lulus SMA'. Sederhana bukan?

Ternyata tidak. Kau pasti tahu teman, Ujian Nasional (UN) menjadi momok yang cukup menegangkan bagi siswa-siswi SMA se-Nusantara pada waktu itu. Bayangkan saja, lulus tidaknya murid dalam pendidikan SMA ditentukan dengan ujian tertulis pilihan berganda yang dilaksanakan hanya beberapa hari. Proses belajar kami di masa SMA selama 3 tahun ditentukan berhasil atau tidaknya oleh soal-soal pilihan berganda a,b,c,d,e. Fantastis bukan? Fantastis karena kenyataannya banyak siswa berprestasi yang tidak lulus karena model ujian semacam ini. Oke, cukup. Ini hanya pendapatku pribadi.

Baru target pertama yang kutulis, tapi hati sudah deg-degan hai kawan. Tidak mau berlama-lama, aku tulis target hidupku yang ke 2. Ini lebih memacu adrenalinku lagi kawan. Karena selanjutnya yang kutulis adalah menyangkut jenjang pendidikanku setelah SMA, yang mungkin akan menentukan arah hidupku nanti 4 taun ke depan. Ya, kau benar. Kuliah.

Menentukan target hidup nomor 2 ini cukup pelik menurutku, karena sejujurnya aku pun belum tahu ingin kuliah di mana, di jurusan apa. Kalau merujuk kembali kepada si motivator kondang, beliau menyarankan dalam menentukan jurusan di perkuliahan nanti, pilihlah bidang yang sesuai minatmu dan bakatmu. Maka berdasarkan petuah beliau tersebut, mulailah aku berpikir. Lalu berpikir. Cukup lama.


Nanti kita sambung lagi...


Selasa, 28 April 2015

Impian Nomor 7 (Part 2)

Awal Oktober, 2013

Yakin Za ga mau kerja dulu abis lulus?
Yakin lah, in sya Allah
Yakin mau langsung lanjut S2, ga mau kerja dulu buat cari pengalaman?
Ilmu gue belum cukup kalo terjun ke dunia kerja
Emang lo mau lanjut S2 di mana?
Belum tau sih, pengennya ke Eropa. Masih nyari-nyari universitas mana yang pas.
Terus lo mau nyari beasiswa buat kuliahnya?
Yoi, in sya Allah
Kalo ga dapet gimana?
Hmmmm, in sya Allah dapetlah, kan banyak yang mau ngasih beasiswa.
Ya misalnya nih, misal ya, kalo ga dapet gimana?
Ya in sya Allah dapet, makanya lo do'ain gue biar dapet beasiswa.


Pertengahan Oktober, 2013

Hari ini aku membeli peta. Peta dunia. Cukup besar peta itu. Selebar selimut untuk tidur atau kalau dijadikan sajadah cukup untuk 3 orang. Tadinya aku ingin membeli peta benua Eropa saja. Tetapi kucari-cari di toko buku yang kudatangi tak juga kutemukan. Mungkin habis dibeli orang.

Langsung kutempel peta tersebut di dinding kamar kosanku. Lalu mataku sebentar berkeliling dunia mencari-cari. Di mana ya negara Inggris? Oh ini dia. Sebuah pulau yang tidak terlalu besar, terpisah dari daratan Eropa. Ada beberapa pulau kecil di sekitarnya. Hmmm boleh juga.

Seseorang pernah bertanya,'Ini peta, buat apaan??'

'Buat nunjukin arah, biar tau ntar mau lanjut ke mana. Ini peta buat gue liatin terus, biar gue makin yakin sama mimpi gue.' Aku menjawab mantap . Kuliah, melanjutkan S2 di Eropa, itu impianku saat ini. Dan Inggris, nun jauh di sana menjadi urutan teratas negeri yang kuidamkan untuk melanjutkan studiku.

Masih bersambung...

Sabtu, 01 November 2014

Impian Nomor 7 (Part 1)

10 Juli 2014
'Okay, why we should choose you to get the scholarship?' sambil membetulkan posisi kacamatanya, pewawancara yang menurutku masih berumur pertengahan 40 dan beranak satu serta beristri satu bertanya serius.
Ini adalah pertanyaan yang kutunggu. Jawabannya sudah kusiapkan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.

Mei 2014
Impianku untuk melanjutkan studi ke luar negeri sepertinya harus tertunda. Beasiswa yang kuincar-incar ternyata telah menutup pendaftarannya untuk penerimaan tahun ini. Bodoh memang aku rasanya. Informasi deadline pendaftaran beasiswa ini terlewatkan olehku. Menyesalpun tak berguna. Yasudahlah, do'a tetap kupanjatkan,'Rabb aku mohon pada-Mu Yang Menentukan Segalanya, tahun ini ya, ya tahun ini tolong kuliahkan aku ke Eropa'. Aku percaya do'a-do'a yang sudah kupanjatkan dari waktu lama ini pasti akan dikabulkan. Ikhtiar tetap kujalankan, aku telah mendaftar untuk mengikuti tes IELTS, sebagai salahsatu syarat untuk melanjutkan studi ke universitas-universitas di Eropa.

September 2013
Keputusan besar dalam hidupku baru saja kubuat. Sudah bulat tekadku. Akan kuselesaikan skripsiku semester ini juga. Data-data penunjang skripsiku telah lengkap. Hanya tinggal diolah sedikit saja. Aku lalu menyusun ulang rencana hidupku setahun ke depan. Melanjutkan studi S2 di Eropa yang seharusnya masih beberapa tahun lagi dalam rencanaku, akhirnya kumajukan menjadi....tahun depan.

(Tunggu lanjutannya ya)

Rabu, 27 Agustus 2014

Berdo'alah

Assalamu'alaikum

Tidak semua orang yg memiliki mimpi mendo'akan impiannya. Tetapi percayalah, do'a adalah cara agar impian aku, kau dan kita dapat terwujud. Berdo'alah karena bermimpi saja tidak cukup.

Selasa, 16 Juli 2013

3 Tahun Lalu

Assalamu'alaykum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi

Yak tepat hari ini, 3 tahun lalu, sejarah terukir di hidupku. Hari itu, Jum'at 16 Juli 2010 adalah pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Pukul 18.00 WIB aku masih ingat ketika namaku terpampang menjadi salahsatu peserta yang lulus dan masuk ke perguruan tinggi negeri. Universitas Indonesia adalah kampusku saat ini, di jurusan Teknik Perkapalan, hal yang tidak pernah terpikirkan dalam otakku, tak terbayang dalam masa kecilku.

Tepat 3 tahun lalu awal langkahku. Seperti apa dunia kuliah, aku tak tahu saat itu. Bagaimana kehidupanku yang saat itu akan jauh dari orangtua, tak terbayang. Tapi ya begitulah, kita tidak tahu ke mana akhirnya Dia akan menempatkan kita. Kita tidak pernah tahu pada kondisi dan situasi apa Dia akan menaruh kita. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, mempersiapkan yang terbaik.

Hari ini, 16 Juli 2013, tepat 3 tahun setelahnya aku hanya ingin mengenang. Bahwa dulu aku pernah berada dalam kondisi yang sangat kritis, belum lulus di ujian masuk PTN manapun dan SNMPTN adalah jalan terakhirku untuk kuliah di universitas negeri. Bahwa dulu aku pernah sepasrah itu, ketika semua jalan telah dicoba, semua do'a telah terucap. Bahwa selalu ada jalan terbaik untuk do'a dan usaha terbaik. Tepat 3 tahun lalu, teman.

Tepat 3 tahun lalu, dan kini aku sudah memasuki tahun terakhirku kuliah di sini. Bersiap untuk ditempatkan lagi oleh-Nya, entah di mana.

Sabtu, 15 Juni 2013

Cuma Lagi Pengen Nulis

Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

Apa kabar teman? Semoga hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi

Sebenarnya bingung mau nulis apaan, tapi biarlah nulis ya nulis aja. Grammar salah ya gak apa-apa, tapi harusnya gak boleh juga ya? Ah sudahlah kapan nulisnya kalo masih kebanyakan mikir.

Jadi mau nulis apa? Entahlah. Oiya bahas BBM yuk, kan katanya harga BBM bentar lagi naik (makanya pake android). Iya tau, garing emang. Nah paling seru kalo harga BBM mau naik adalah ngeliatin komentar-komentar orang. Emang biasa pro-kontra pasti terjadi.

Alasan yang pro BBM naik harganya adalah konsumsi BBM yang semakin membengkak yang membuat APBN ikut membengkak gara-gara subsidi yang terus menerus diberikan pada harga BBM, makanya subsidi BBM harus dikurangi yang artinya harga BBM harus naik. Berangkat dari hal ini kalangan pro juga bilang kalo ternyata subsidi yang selama ini diberikan justru tidak tepat sasaran, lebh banyak dinikmati kalangan mampu. Itu sih alasan yang biasanya diungkapkan kalangan pro harga BBM naik.

Lalu bagaimana dengan yang kontra harga BBM naik? Nah kalo yang kontra alasannya adalah naiknya harga BBM tidak menyelesakan masalah sebenarnya dan malah akan menambah beban hidup masyarakat dengan ikut naiknya harga-harga barang. Hal ini justru dianggap malah semakin menimbulkan kesenjangan sosial dan cenderung meningkatkan angka kemiskinan. Masih ada solusi lain yang dianggap kalangan kontra mungkin untuk dilakukan seperti pelarangan konsumsi BBM bersubsidi bagi pemilik kendaraan roda 4. Namun hal ini juga riskan terhadap celah penyelewengan dan penimbunan BBM jika tidak dilakukan pengawasan secara ketat. Nah itu tadi sekilas tentang pro kontra naiknya harga BBM. Naik ataupun tidak, bersiap-siaplah teman.

Mau nulis apa lagi ya? Oiya udah 2 minggu ini aku magang di salahsatu BUMN di daerah Tanjung Priok. Awalnya ngerasa bakalan seru nih, tapi makin lama kok makin gabut ga ada kerjaan ya? Hmmm sepertinya masih harus banyak belajar dan banyak nanya juga biar gak gabut di kantor. Karena tempat magangku di daerah Tanjung Priok sedangkan kos-kosanku di daerah Depok, maka jadilah aku berteman dengan yang namanya bangun pagi-pagi sekali. Alarm handphone disetel jam 4 pagi. Bangun-bangun langsung mandi. Lanjut shalat Shubuh lalu pergi, kemudian naik bus lalu lanjut tidur lagi. Sampailah di kantor pukul 7 pagi. Begitulah setiap hari. Entah kenapa ngerasa seru menghadapi macetnya Jakarta. Aneh ya? Biarlah

Mau bahas apa lagi? Oiya barusan nonton videonya Jeremy Tetti yang BBM campuran. Lucu, Indonesia emang ga pernah kekurangan orang kreatif. Oiya, Arya Wiguna makin serng muncul di media ya? Ah biarlah, kasian dia lagi cari makan buat hidup. Hayoo apalagi? PKS keluar dari koalisi? Duh malas ngebahasnya, lagu lama yang terus-menerus diputar. Rooney mau dibeli Arsenal? Walah mudah-mudahan jangan.

Udah ya capek juga. Jangan lupa untuk tetap berdo'a dan tetap jadi orang baik.Semoga negeri ini tidak pernah kehilangan orang baik. Jangan lupa juga do'ain pemimpin-pemimpin kita, Bapak Presiden, Bapak Ketua DPR, Gubernur, Walikota semuanyalah kita do'ain.

Cukup ya, maaf tulisannya amburadul, silahkan ambil manfaat ya dari tulisan ini, itu juga kalau ada.

Jumat, 14 Juni 2013

Sariawan dan Pembelajaran

Ketika menulis tulisan ini aku sedang dihadiahi sebuah 'sentilan' dari Dia. Lidahku dititipkan 2 buah sariawan. sakit juga rasanya walau mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk membuatku tidak selera makan. Sariawan membuatku menjadi lebih pendiam. Bicara hanya sekedarnya. Kadang hanya mengangguk dan menggeleng. Mulut lebih sering tertutup, kadang terbuka untuk minum dan makan saja.

Sebelumnya aku memang banyak sekali bicara. Oceh sana, oceh sini. Komentar sana dan sini. Sariawan seolah menjadi gembok mulutku. Aku lebih banyak diam dan mengamati. Menjadi lebih sering mendengar daripada mengomentari.

Sariawan pada akhirnya menjadi semacam media untukku belajar mengendalikan lisan. Membuatku menahan diri untuk tidak berkomentar. Kicauan kalimat-kalimat tidak penting dari mulutku mulai jarang terdengar.

Pada akhirnya sariawan muncul di mulutku untuk mengingatkan, bahwa aku benar-benar harus menjaga lisan. Mungkin jika sariawan tidak bersemayam di lidah ini, akan lebih banyak perkataan sia-sia yang terucap, akan lebih banyak kalimat-kalimat yang menyakitkan hati orang lain yang keluar. Dari penyakit yang bernama ilmiah stomatitis ini mungkin kita juga bisa belajar untuk bersyukur. Bersyukur karena telah diingatkan untuk menjaga lisan. Mungkin itulah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk selalu bersyukur di setiap keadaan. Karena selalu ada hikmah terbaik dari setiap hal dan kejadian yang Dia berikan. 

Terima kasih sariawan