Kamis, 30 Agustus 2012

Tuhan (Mungkin) Telah Mati

Assalamu'alaikum saudara-saudari

Semoga Hidup semakin beriman

MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi

Mungkin judul posting di atas cukup provokatif. Tapi mungkin inilah hal yang sebenarnya terjadi pada diri kita, lebih tepatnya sebagian besar dari kita, termasuk aku.

Judul di atas hanyalah sebuah kiasan

Tuhan adalah Zat yang menciptakan kita, seisi dunia semesta jagad raya. Semua hal bergantung pada-Nya. Apakah kau percaya? Jika kau beriman pasti kau percaya dan tidak ada masalah bagimu untuk membaca paragraf selanjutnya. Jika kau tidak percaya pada Sang Pencipta maka khatamlah tulisan ini di paragraf ini karena pada paragraf selanjutnya akan kau anggap omong kosong.

Oke pada paragraf sebelumnya kita sudah sepakat akan kekuasaan Tuhan dan kita ini adalah ciptaan-Nya. Pantaskah untuk 'Sesuatu' yang telah menciptakan kita itu membuat peraturan dan mengatur kita sekehendak-Nya? Pasti YA jawabannya. Karena Dia punya hak untuk mengatur, dan sekali lagi jangan lupa Dia punya kuasa atas diri kita.

Lalu lihatlah sekeliling kita, lihatlah diri kita sendiri. Apakah perilaku kita selama ini mengikuti peraturan-Nya? Tanpa sadar kita telah 'membunuh-Nya' dari hati kita, pelan-pelan.

Lihat diri kita, kita campakkan diri ini pada nafsu yang terus menggelayuti. Lihat diri kita, sudah berapa sering kita lebih mementingkan nafsu daripada aturan Tuhan yang tak lekang zaman itu?

Lihat pejabat di sana, pemimpin kita semakin banyak yang tak peduli, sibuk urusan duniawi, entah itu korupsi, menjegal lawan politik, meraup kekayaan negeri. Maka di hati mereka para pengejar harta dan kuasa, Tuhan (mungkin) telah mati.

Lalu lihat anak-anak muda itu (termasuk aku sendiri) sibuk dengan nafsunya sendiri, kita menyebutnya dengan nama 'Cinta'. Saling berangkulan, berpelukan, dan mengumbar kata-kata mesra, lalu mengatasnamakan 'Cinta'. Ah sungguh nafsu telah membutakan mata kita kawan, termasuk aku. Tak tahukah kita tentang peringatan Dia bahwa jangan sekali-kali kita dekati zina? Tak pedulikah kita dengan aturan-aturan di kitab yang takkan berubah sampai akhir zaman itu? Maka di hati kita, para pemuda pemuja nafsu, Tuhan (mungkin) telah mati.

Lalu coba lihat golongan orang-orang yang kurang mampu secara finansial itu. Tak sedikit dari mereka kerja pontang-panting menghidupi keluarga. Berangkat mencari nafkah sebelum beranjak Shubuh, mereka lupa menghadap Tuhan dahulu. Maka di hati mereka yang sibuk dengan dunia, Tuhan (mungkin) telah mati.

Kawan, kita telah 'membunuh-Nya'. Kita mengaku percaya dengan segala kuasa-Nya tetapi bertingkah seolah Dia tidak ada. Kita yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian bertingkah seolah tak akan pernah dihinggapi mati.

Aku juga sama sepertimu, 'membunuh' Tuhan diam-diam di hatiku. Ayo kita berubah kawan. Masih ada waktu, tinggalkan semua nafsu kita itu. Hidupkan kembali Allah di  hati kita, jangan biarkan Dia mati. Sehebat apapun pencapaian, sebanyak apapun kekayaan semua akan terasa HAMPA saat kita tahu bahwa ternyata milik Dialah itu semua. Lalu ketika akhirnya kita mati dan meninggalkan dunia ini, masihkah ada Allah di hati kita? Semoga.


Rabu, 22 Agustus 2012

Lontong oh Lontong

Lontong
bentukmu kadang lonjong

Lontong
kau hadir mengisi hari-hari lebaranku
memenuhi ruang kosong di perutku

Lontong
Kadang kau tak sadar
dulu hadirmu selalu kurindukan
karena kau adalah tanda datangnya hari Kemenangan

Lontong
Kini kau hadir terlalu lama
kini kau terlalu sering menyapa
perutku yg mulai membuncit

Lontong
entah kenapa aku mulai bosan
mengapa kau ada di mana-mana?
di sudut-sudut meja makan setiap rumah
di setiap aku singgah ke tempat sanak saudara
selalu engkau yang jadi menu sajian utama

Lontong
sampai kapan kau menghiasi perut ini?
tak tahukah kau aku merindukan pulennya nasi?


Kamis, 16 Agustus 2012

Sebenarnya, Ada Sebuah Kisah...

Sebuah kisah kutinggalkan di sudut sana
kelas yg dulu jadi saksi
bisu

Sebuah kisah yg mungkin terlupa oleh mereka
tapi tidak denganku
masih jelas melekat di sini
di otakku

Sebenarnya masih ada yg tertinggal
tentang sebuah rasa
tak sanggup kuungkap kata
ah biarlah
hanya Tuhan dan aku yg tau

Sebenarnya ada ruang tentang dia
yg tertanam di sini
tapi takut aku membuka
takut dia tidak merasakannya

Sebuah kisah masih kubawa sampai di sini
jauh dari kelas dan papan tulis dahulu
biarlah sesak di dada
Tuhan pasti tau jawabnya

Senin, 06 Agustus 2012

Rumus Usaha dari Sang Guru Fisika


Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga Hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi.

Kali ini memoriku dilempar lagi ke kelas 3 SMA, di sebuah kelas saat pelajaran Fisika 

Cuaca di luar kelas cukup panas. Pak Amin sedang menjelaskan pelajaran Fisika. Kali ini mengenai mekanika. Aku duduk sambil mengantuk mendengarkan penjelasan beliau mengenai gaya, kecepatan, jarak, percepatan,  usaha dan segala hal yg berkaitan dengannya. Kulihat sekilas teman-temanku yang lain, nasibnya tak jauh berbeda denganku, terlihat malas-malasan dan jenuh. Otak kami penat dijejali berbagai mata pelajaran yang harus kami kuasai agar lulus Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari. Belum lagi ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)  yang persaingannya sangat ketat yang waktunya juga tidak lama lagi. Berbagai ilmu harus kami masukkan ke dalam kepala kami untuk kami pahami di sisa waktu hari-hari terakhir sekolah ini.

Lalu tiba-tiba suara Pak Amin menggelegar menghentak kami,.
‘ANAK-ANAKKU!! ‘ Pak Amin mengejutkan kami.


‘Hukum fisika yang sedang kita pelajari sebenarnya berhubungan dengan kondisi yang akan kalian hadapi nanti!!’

‘Tahukah kau tentang rumus Usaha, atau yang biasa dilambangkan dengan W?’

Pak Amin lalu mengambil spidol di mejanya lalu menuliskan sebuah rumus di papan tulis.

W, atau usaha berbanding lurus dengan perpindahan atau jarak yang dilambangkan dengan S. Begitu juga dengan apa yang akan kau hadapi. Usaha yang kau lakukan berbanding lurus dengan perpindahan yang akan terjadi dalam hidupmu. Perpindahan yang dimaksud adalah perpindahan nasib, perubahan masa depan, penentuan hidupmu!’ Pak Amin berkoar dengan berapi-api.

‘Jika kita lihat rumus di papan tulis, apa yang harus kita lakukan agar nilai S menjadi semakin besar? Yak benar sekali, kau harus membuat nilai dari W juga semakin besar! Lalu apa itu F? F adalah gaya. Dalam hidup ini, F adalah rintangan dan pesaing-pesaing yang akan kau hadapi.’

Aku yang semula mengantuk, mulai serius mendengarkan penjelasan beliau. Begitu juga teman-temanku yang lain tampak mulai serius mendengarkan mengenai hukum fisika yang satu ini.

‘Begini anakku. Kau akan menghadapi SNMPTN yang persaingannya sangat ketat. Kau pasti ingin masuk ke universitas-universitas terbaik di negeri ini kan? Mari kita lihat lagi rumus di papan tulis.’

Kami lalu kembali melihat rumus yang tertera di papan tulis. Otak polos kami mencoba memahami apa yang dijelaskan Pak Amin.

S adalah masa depanmu yang kau tuju, cita-cita yang kau impikan. Jika kau menginginkan lulus di universitas terbaik, itu artinya kau menginginkan nilai  S yang besar, dengan kata lain kau menginginkan perpindahan nasib yang besar. Sementara itu, kau juga telah mengetahui untuk mencapai nilai S yang besar itu kau harus menghadapi berbagai macam rintangan dan pesaing-pesaing yang berasal dari seluruh Indonesia yang juga menginginkan kuliah di universitas terbaik. Para pesaing dan rintangan itu dilambangkan dengan F.’

Oke, kali ini rumus tersebut mulai bisa aku cerna. Teman-temanku yang lain tampak mengangguk-angguk tanda mengerti.

‘Dari rumus di atas, apa yang kau lakukan agar mencapai nilai S yang besar tersebut? Apa yang harus kau lakukan agar cita-citamu kuliah di universitas terbaik bisa tercapai?’
‘Kau harus memperbesar nilai W!’

KAU HARUS MEMPERBESAR USAHAMU!!!!’

Kali ini suara Pak Amin menggelegar memantul mantul di ruang dinding kelas dan otak kami. Kami terhenyak, terdiam, tersadar.

‘Kau harus memperbesar usahamu, anakku. Bagaimana bisa kau mencapai nilai S yang besar sementara nila W yang kau beri kecil. Bagaimana bisa kau mencapai cita-citamu yang besar jika usaha yang kau lakukan kecil? Bagaimana bisa kau mengalahkan pesaing-pesaingmu di ujian masuk perguruan tinggi nanti jika usaha yang kau lakukan kecil?’

Kelas menjadi hening. Diam menghinggapi diri kami. Pelan-pelan terasa ada yang bergemuruh dalam dadaku. Otak yang beku kembali menghangat dibakar api semangat. Dinginnya hati karena rasa pesimis dan jenuh mulai berkobar lagi.

‘Kau harus berusaha anakku!! Kau harus memperbesar usahamu!!! Usaha apa yang bisa kau lakukan? BELAJAR!! Belajarlah anakku!! Kuasai ilmu yang kau pelajari! Pahami materi pelajaran yang diberikan guru-gurumu!! Itulah bentuk usaha yang bisa kau lakukan, itulah nilai W! Semakin besar usahamu, semakin besar nilai S yang kau dapat. Semakin giat kau belajar, semakin tinggi cita-cita yang akan kau capai! Semangatlah belajar anakku, waktumu tidak lama lagi sebelum ujian masuk perguruan tinggi datang.’ Pak Amin mengakhiri ceramah motivasinya.

Kami tercenung mendengar nasihat Pak Amin yang sangat menggebu-gebu. Nasihat barusan seolah-olah menghidupkan kembali kobaran api semangat yang selama ini meredup dalam hati kami.

Kini, sudah 2 tahun lebih sejak beliau menyampaikan nasihat itu di kelasku. Nasihat tersebut masih terngiang-ngiang di otakku.