Assalamu'alaikum saudara saudari. Jangan lupa ganti kolor setiap hari.
Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang masa ketika aku baru saja diterima di Universitas Indonesia, masa ketika pertama kalinya Ayah datang mengunjungiku di Depok.
Begini ceritanya.
Hanphoneku bergetar. Sebuah
pesan singkat masuk. Oh, ternyata dari Ayah. “ Ayah sdh masuk gerbang UI”.
Begitu isi pesan tersebut. Aku terkejut sekaligus senang. Cepat juga ayah
sampai dari Bandung pikirku. Langsung kubalas sms beliau.
“Ok Yah, nnti tnggu d hlte Fak
Tknik y. Nnti Fuza ksana”. Dadaku sesak merindu. Walaupun baru 2 bulan berpisah
karena harus melanjutkan kuliah, aku sudah sangat merindukan beliau. Maklumlah,
baru kali ini aku terpisah jauh dari orang tua.
Sementara aku masih berada di
gedung balairung menunggu hujan reda. Di luar hujan turun begitu deras sederas-derasnya.
Kembali aku mengirim sms pada Ayah.
“Bntar ya Yah, hujan deras
kali.”
“Oke”, balas Ayahku.
Minggu lalu Ayah mengabariku
bahwa beliau akan ke Bandung. Beliau ditugaskan beberapa hari dari kantornya ke
daerah yg dikenal sebagai Paris van Java itu. Sebelum pulang ke Medan, Ayah
menyempatkan diri ke Depok untuk berjumpa denganku, anaknya yang paling kecil.
Dan aku gembira sekali mendengar kabar ini. Ah Ayah, aku sangat merindukanmu.
Hujan tidak juga menunjukkan
tanda-tanda akan reda. Akhirnya aku memutuskan untuk menerobos hujan menuju
halte di dekat Balairung. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah. Di
sana aku menunggu bis kuning. Bis berwarna kuning ini disediakan oleh kampusku
sebagai alat transportasi bagi mahasiswa menuju ke fakultasnya masing-masing.
Bis ini nantinya akan mengelilingi kampusku mulai pagi hingga malam pukul 9.
Kami biasa menyebutnya Bikun, singkatan dari Bis Kuning. Tampak dari
kejauhan Bikun telah datang. Begitu Bikun berhenti tepat di depan halte, aku
langsung naik dan mencari tempat duduk di posisi yg nyaman. Tampak di luar
hujan masih turun begitu deras. Sesekali petir menyambar. Beginilah kota Depok
jika sudah memasuki bulan-bulan dengan akhiran nama berakhiran ‘ber’, hujan
akan sering turun. Hanphoneku kembali bergetar. Ayah menelepon.
“Udah di mana Za? Ayah udah di
halte Teknik.”
“Iya bentar ya Yah, Fuza ke sana
sekarang.”
Tidak berapa lama, Bikun yg
kutumpangi pun berhenti di depan halte Fakultas Teknik. Aku langsung turun. Kulihat ayah sedang duduk
menunggu. Langsung kusalami beliau dan memeluknya. Senyum tersungging lebar di
wajah Ayah.
“Udah lama nunggu Yah?” tanyaku.
“Ya 10 menit lah” jawab Ayahku,
masih dengan senyum lebar di wajahnya.
“Yaudah, langsung ke kosan Fuza
aja ya Yah. Ini Fuza bawa payung.”
Aku langsung mengembangkan
payung yang selalu kubawa di dalam tas. Tanganku dengan cepat membawa tas besar
Ayahku.
Kami berduapun langsung menerobos hujan di bawah
sebuah payung. Teman, terserah kau mau berkata apa, tetapi menurutku sungguh mesra sekali keadaanku dan ayahku
saat itu. Keadaan antara seorang ayah dan anak yang sudah lama tidak berjumpa,
kemudian dipertemukan di bawah tetesan-tetesan hujan, dan berjalan di bawah
sebuah payung pula. Mungkin kau menganggap hal ini biasa, tapi bagiku tidak.
Jika kisah ini dijadikan sebuah lagu dangdut, tentulah judulnya “Sepayung
Berdua”. Jika dijadikan sebuah film, pastilah akan menjadi film yg sangat
pendek, karena kisah ini singkat sekali. Tetapi jika kisah ini dijadikan sebuah
bab kecil di dalam sebuah buku, akan kuberi judul “ Aku, Ayahku dan Tetesan
Hujan ”. Harusnya kuabadikan momen ini. Dan pasti akan kuabadikan, di hatiku.