Senin, 26 Desember 2011

7 tahun lalu, Serambi Mekkah


Ini adalah kisah mengenai 1 hari. Satu hari yang mengubah hidup jutaan orang. Hanya butuh 1 hari bagi Sang Kuasa untuk mengubah semuanya di Tanah Rencong.

Aku merinding mendengar berita sore itu. Hatiku bergetar, mataku berkaca-kaca. Ribuan orang menjemput maut di pagi yang cerah itu. Seluruh stasiun TV mengabarkan hal yang sama, aroma kedukaan. Para reporter TV itu tidak kuasa menahan airmata melaporkan apa yang terjadi di Serambi Mekkah. Semua terisak. Semua larut dalam duka yang mendalam.

Setiap menit terasa menyayat hati kami saat melihat laporan berita yang mengabarkan jumlah korban yang meninggal terus bertambah dari ratusan, ribuan, hingga ratusan ribu. 

Gempa besar telah meruntuhkan ribuan bangunan di Aceh. Tsunami telah menyapu bersih ujung paling barat negeri Ibu Pertiwi. Anak-anak menangis di jalanan mencari ibu bapak mereka yang mungkin telah tiada terseret air laut. Mayat-mayat bergelimpangan dijemput pemilik-Nya. Tangis haru para ibu pecah mencari-cari anak mereka. Saat itu seolah harapan telah direnggut dari hati mereka.

Dan aku masih terpaku di depan televisi. Menatap layar yang menampilkan beratnya cobaan yang harus diterima saudara-saudaraku di Aceh sana. Kami berduka. Indonesia berduka. Dunia berduka. 

Teman, kini sudah 7 tahun semenjak tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Namun duka itu masih terasa. Kenangan yang masih membekas.

Rabb, ampuni mereka yang Engkau jemput di hari itu, 26 Desember 2004 di tanah Serambi Mekkah.

Kamis, 22 Desember 2011

Aku, Ayahku dan Tetesan Hujan


Assalamu'alaikum saudara saudari. Jangan lupa ganti kolor setiap hari.

Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentang masa ketika aku baru saja diterima di Universitas Indonesia, masa ketika pertama kalinya Ayah datang mengunjungiku di Depok.

 Begini ceritanya. 

Hanphoneku bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Oh, ternyata dari Ayah. “ Ayah sdh masuk gerbang UI”. Begitu isi pesan tersebut. Aku terkejut sekaligus senang. Cepat juga ayah sampai dari Bandung pikirku. Langsung kubalas sms beliau.

“Ok Yah, nnti tnggu d hlte Fak Tknik y. Nnti Fuza ksana”. Dadaku sesak merindu. Walaupun baru 2 bulan berpisah karena harus melanjutkan kuliah, aku sudah sangat merindukan beliau. Maklumlah, baru kali ini aku terpisah jauh dari orang tua. 

Sementara aku masih berada di gedung balairung menunggu hujan reda. Di luar hujan turun begitu deras sederas-derasnya. Kembali aku mengirim sms pada Ayah. 
 “Bntar ya Yah, hujan deras kali.”
“Oke”, balas Ayahku. 

Minggu lalu Ayah mengabariku bahwa beliau akan ke Bandung. Beliau ditugaskan beberapa hari dari kantornya ke daerah yg dikenal sebagai Paris van Java itu. Sebelum pulang ke Medan, Ayah menyempatkan diri ke Depok untuk berjumpa denganku, anaknya yang paling kecil. Dan aku gembira sekali mendengar kabar ini. Ah Ayah, aku sangat merindukanmu.

Hujan tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan reda. Akhirnya aku memutuskan untuk menerobos hujan menuju halte di dekat Balairung. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ayah. Di sana aku menunggu bis kuning. Bis berwarna kuning ini disediakan oleh kampusku sebagai alat transportasi bagi mahasiswa menuju ke fakultasnya masing-masing. Bis ini nantinya akan mengelilingi kampusku mulai pagi hingga malam pukul 9. Kami biasa menyebutnya Bikun, singkatan dari Bis Kuning. Tampak dari kejauhan Bikun telah datang. Begitu Bikun berhenti tepat di depan halte, aku langsung naik dan mencari tempat duduk di posisi yg nyaman. Tampak di luar hujan masih turun begitu deras. Sesekali petir menyambar. Beginilah kota Depok jika sudah memasuki bulan-bulan dengan akhiran nama berakhiran ‘ber’, hujan akan sering turun. Hanphoneku kembali bergetar. Ayah menelepon.

“Udah di mana Za? Ayah udah di halte Teknik.”
“Iya bentar ya Yah, Fuza ke sana sekarang.”

Tidak berapa lama, Bikun yg kutumpangi pun berhenti di depan halte Fakultas Teknik.  Aku langsung turun. Kulihat ayah sedang duduk menunggu. Langsung kusalami beliau dan memeluknya. Senyum tersungging lebar di wajah Ayah. 

“Udah lama nunggu Yah?” tanyaku.
“Ya 10 menit lah” jawab Ayahku, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
“Yaudah, langsung ke kosan Fuza aja ya Yah. Ini Fuza bawa payung.”

Aku langsung mengembangkan payung yang selalu kubawa di dalam tas. Tanganku dengan cepat membawa tas besar Ayahku.

Kami berduapun langsung menerobos hujan di bawah sebuah payung. Teman, terserah kau mau berkata apa, tetapi menurutku  sungguh mesra sekali keadaanku dan ayahku saat itu. Keadaan antara seorang ayah dan anak yang sudah lama tidak berjumpa, kemudian dipertemukan di bawah tetesan-tetesan hujan, dan berjalan di bawah sebuah payung pula. Mungkin kau menganggap hal ini biasa, tapi bagiku tidak. Jika kisah ini dijadikan sebuah lagu dangdut, tentulah judulnya “Sepayung Berdua”. Jika dijadikan sebuah film, pastilah akan menjadi film yg sangat pendek, karena kisah ini singkat sekali. Tetapi jika kisah ini dijadikan sebuah bab kecil di dalam sebuah buku, akan kuberi judul “ Aku, Ayahku dan Tetesan Hujan ”. Harusnya kuabadikan momen ini. Dan pasti akan kuabadikan, di hatiku.