Uci adalah panggilanku untuk nenekku. Aku memanggil beliau Uci. Kau juga pasti memiliki seorang nenek. Kau juga pasti menyayanginya, karena jika tidak itu artinya kau cucu durhaka.
Kau pasti mempunyai kenangan indah bersama nenek. Begitu juga dengan aku. Uci adalah orang yang menyayangi dan memanjakanku. Jika ketika aku kecil, Mama tidak mau mendengarkan rengekanku untuk membeli mobil-mobilan, maka Ucilah yang dengan lembutnya mengusap air mataku dan mengajakku pergi untuk membeli mobil-mobilan. Jika Mama tidak sempat menjemputku pulang ketika aku masih berada di Taman Kanak-Kanak, maka Ucilah yang dengan senang hati menjemputku, tidak lupa beliau juga membelikanku jajanan. Uci juga adalah orang yang selalu membelaku ketika dimarahi Mama, dan beliaulah yang membesarkan hatiku, mengingatkanku tentang kesalahanku. Ketika aku lulus SNMPTN, Ucilah orang kedua yang kuberitahu setelah kedua orang tuaku. Aku menelepon beliau ketika itu. Dan aku masih ingat ketika itu beliau menangis, karena mengetahui bahwa aku akan jauh darinya untuk menempuh bangku kuliah.
"Akhirnya.... per..gi juga kalian semua dari Medan." Uci berkata sambil sesenggukan. Aku tahu beliau menangis. Dadaku pun terasa sesak menahan haru.
"Tinggal Uci sendirian di sini. Baik-baik nanti kuliah di sana ya Fuza, do'akan Uci supaya sehat."
"Iya Ci, Fuza juga nanti kalo liburan bakal balik ke Medan juga. Jangan sedih ya Ci." Jawabku mencoba membesarkan hati Uci.
Itulah Uci. Begitu dekatnya aku dengan nenekku ini.
Hingga akhirnya aku harus melanjutkan kuliahku di Depok, aku masih sering berkomunikasi dengan Uci melalui telepon. Dan di setiap ujung percakapanku dengan Uci, Uci pasti selalu mendo’akanku agar kuliahku lancar dan selalu diberi kemudahan oleh Allah.
Minggu, 25 April 2011 23:40 WIB
Akhir-akhir ini aku sangat jarang menelepon Uci. Aku disibukkan oleh menumpuknya tugas-tugas kuliah. Percakapan terakhirku dengan Uci mungkin terjadi ketika menjelang UTS kemarin.
“Uci do’akan mudah-mudahan Fuza diberi kemudahan sama Allah supaya ujiannya lancar,” do’a Uci di ujung percakapan kami.
Seminggu ini aku diberi kabar oleh Mama tentang kesehatan Uci yang terus menurun. Bahkan kini beliau dirawat di rumah sakit. Beliau dirawat di ruang ICU karena sesak nafas. Aku sangat khawatir. Apalagi minggu sebelumnya Uci juga dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi kecil. Aku hanya bisa berdo’a mendengar kabar tentang kondisi Uci.
Dan tadi pagi alhamdulillah Mama menelepon bahwa kondisi Uci sudah membaik. Walaupun masih dirawat di rumah sakit, tetapi keadaan Uci semakin lama semakin membaik. Untuk sementara kekhawatiranku sedikit berkurang.
Aku masih terduduk di depan layar monitor untuk mengerjakan tugas kuliahketika tiba-tiba handphoneku berdering.
Mama meneleponku tengah malam begini? Hatiku langsung ciut. Perasaan gelisah langsung menjalar di sekujur tubuhku.
"Assalamu'alaikum Mam. kenapa Mam?" Tanyaku
"Fuzaaaa….” Terdengar suara Mama serak seperti menahan tangis.
Uci udah ga ada Naaak. Uci meninggal... hiks..hiks" Mama menangis di ujung telepon sana.
Aku terdiam lemas. Bayangan kenangan bersama Uci berkelebat di otakku.
"Fuza pulang ya Nak..hiks..hiks." Mama tersedu sedan.
Untuk sejenak aku tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya baru kemarin aku berpamitan dengan Uci sebelum kembali ke Depok. Dan kini beliau telah meninggalkanku.
Tidak terasa mataku berair.
"Iya Ma, Fuza pulang pagi ini ke Medan" jawabku pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar