Ini adalah kisah mengenai 1 hari. Satu hari yang mengubah
hidup jutaan orang. Hanya butuh 1 hari bagi Sang Kuasa untuk mengubah semuanya
di Tanah Rencong.
Aku merinding mendengar berita sore itu. Hatiku bergetar,
mataku berkaca-kaca. Ribuan orang menjemput maut di pagi yang cerah itu.
Seluruh stasiun TV mengabarkan hal yang sama, aroma kedukaan. Para reporter TV
itu tidak kuasa menahan airmata melaporkan apa yang terjadi di Serambi Mekkah.
Semua terisak. Semua larut dalam duka yang mendalam.
Setiap menit terasa menyayat hati kami saat melihat laporan
berita yang mengabarkan jumlah korban yang meninggal terus bertambah dari
ratusan, ribuan, hingga ratusan ribu.
Gempa besar telah meruntuhkan ribuan bangunan di Aceh.
Tsunami telah menyapu bersih ujung paling barat negeri Ibu Pertiwi. Anak-anak
menangis di jalanan mencari ibu bapak mereka yang mungkin telah tiada terseret
air laut. Mayat-mayat bergelimpangan dijemput pemilik-Nya. Tangis haru para ibu
pecah mencari-cari anak mereka. Saat itu seolah harapan telah direnggut dari
hati mereka.
Dan aku masih terpaku di depan televisi. Menatap layar yang
menampilkan beratnya cobaan yang harus diterima saudara-saudaraku di Aceh sana.
Kami berduka. Indonesia berduka. Dunia berduka.
Teman, kini sudah 7 tahun semenjak tsunami melanda Nanggroe
Aceh Darussalam. Namun duka itu masih terasa. Kenangan yang masih membekas.
Rabb, ampuni mereka yang Engkau jemput di hari itu, 26
Desember 2004 di tanah Serambi Mekkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar