Selasa, 03 April 2012

Duit Oh Duit

Duit adalah masalah krusial bagi anak kos, termasuk aku. Jika kiriman orangtua sudah datang di awal bulan, maka itulah surga dunia. Duit kiriman orangtuaku itu langsung dipakai untuk makan yang enak-enak. Pagi makan nasi padang pakai ayam gulai, makan siang dengan nasi padang pakai rendang plus es jeruk, lalu malam dilanjutkan dengan makan sate kambing ditambah jus mangga.

Tetapi kondisi seperti itu biasanya tidak bertahan lama
, ketika kalender sudah memasuki tanggal-tanggal ‘tua’ menu makan sehari-hari langsung berubah drastis. Pagi hari makan lontong sayur tanpa telur (karena kalau pakai telur pasti nambah Rp 2000,00 ). Kemudian siang makan nasi paket hemat 3T (Tahu Telur Tempe). Lalu makan malam di warteg pakai perkedel plus gorengan. Untuk minumannya? Cukup air putih gratis dari dispenser di kosan. Bahkan tak jarang aku makan pagi menjelang siang, atau istilah kerennya ‘brunch’ agar pos pengeluaran makan bisa dikurangi jadi 2 kali sehari. Pantaslah jika aku timbang berat badanku jarum penunjuk angka di timbangan tersebut tidak melewati angka 50. Semua itu terjadi karena masalah duit. Duit kiriman dari orangtua sudah menipis, tapi jika meminta segan rasanya. 

Namun jika keadaan keuangan sudah gawat tanpa bisa ditanggulangi lagi, maka tidak ada jalan lain selain meminta ke orangtua. Biasanya aku menelepon Mama yang hatinya seperti malaikat.

‘Assalamu’alaikum Mam,’ kataku mengucap salam pada Mama di ujung handphone sana.

‘Wa’alaikumussalam Za, kenapa nak? Numben nelpon Mama, biasanya juga Mama yang nelpon Fuza.” Jawab Mama.

Aduh, pedih juga hati ini disentil perkataan Mama barusan. Memang dasar aku kurang berbakti pada orangtua.

‘Hehehe, kan lumayan sering juga Fuza nelpon Mama. Gak ada apa-apa Mam, Cuma pengen nelpon aja. Lagi ngapain Mam?’ 

‘Ini lagi masak, ada tamu kita mau datang siang ini.”

‘Oh.’ Jawabku, aku bingung bagaimana mengarahkan pembicaraan ini ke masalah finansial dompetku.

‘Gimana kuliah Nak? Kapan UTS?’ Tanya Mama

‘Alhamdulillaaah lancar Mam, UTS masih lama lagi, bulan depan mungkin.Hehe’ Jawabku, sementara otakku masih berpikir bagaimana mengatakan ke Mama bahwa uangku di kantong hanya cukup untuk makan hari ini saja.

‘Oh, rajin-rajin belajarlah kalo gitu. Oiya, cicilan uang kuliah udah dibayar?’ Tanya Mama sambil sesekali terdengar suara dentingan kuali.

‘Belum Mam. Hehe.’

‘Yaudah ntar Mama kirimin duitnya, langsung dibayar ya, jangan ditunda-tunda lagi. Uang makan gimana? Masih cukup?’ Tanya Mama lagi.

Nah ini dia pertanyaan yang kutunggu-tunggu. ‘Itu dia masalahnya Mam, hehehe. Duit Fuza tinggal Rp 20.000, hehehe.’ Jawabku sambil cengengesan.

‘Oooh pantaslah, kalo udah habis duit baru nelpon Mama ya, yaudah ntar sekalian Mama kirimin.’ Jawab Mama lembut sambil menyindirku.

‘Hehehe, enggaklah Mam, Fuza nelpon Mama kan karena emang rindu.’ Jawabku sambil bersyukur di dalam hati.

Begitulah penggalan percakapanku di telepon dengan Mama. Mama memang sungguh pengertian sekali, aku jadi malu sendiri. Untunglah akhirnya masalah keuangan ini bisa teratasi juga. Setelah kupikir-pikir, benar juga kata Mama. Aku jarang menelepon beliau, beliaulah yang lebih sering meneleponku duluan. Ah Mama, aku akan meneleponmu lebih sering mulai saat ini, yang pasti bukan hanya jika ada kepentingan duit di kantong.

Dan aku mulai berpikir, bagaimana caranya agar aku bisa menghasilkan uang sendiri untuk meringankan beban orangtuaku? Hmmmm, aku mulai harus memikirkan hal tersebut. 

1 komentar: