Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Apa kabar saudara-saudari. Semoga selalu sayang dengan Tuhan.
MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi
Naik kereta atau biasa disebut KRL (Kereta Rel Listrik) menjadi kegiatan rutinku setiap akhir pekan saat pulang ke rumah. Jarak dari kampus ke rumahku yg cukup jauh membuatku lebih memilih naik KRL daripada angkutan umum lain. Terhindar dari macetnya ibu kota serta terlindungi dari debu dan asap kendaraan bermotor adalah salahsatu alasannya. Namun itu jika kita naik KRL Commuterline, jika naik KRL Ekonomi debu asap juga tak dapat dihindari.
Siang ini terik. Suasana stasiun Sudimara cukup ramai. Aku menunngu di peron 2, jalur KRL ke arah stasiun Tanah Abang. Tidak lama KRL ekonomi yg kutunggupun tiba. Para penumpang berebut masuk. Aku langsung mencari tempat di pinggir pintu gerbong, tempat duduk sudah penuh ditempati. Sekilas aku memandang tertangkap sosok yang cukup menyeramkan bagiku, seorang waria duduk tidak jauh dari tempatku berdiri. Rasa trauma karena pernah dicolek waria membuatku memutuskan mencari tempat lain. Aku lalu berjalan menuju gerbong yang lain. Untunglah masih ada tempat di pinggir pintu gerbong walaupun harus berdiri.
Selama perjalanan, aku suka mengamati keadaan dan suasana di kereta ekonomi yg aku tumpangi. Banyak pemandangan 'menarik' yg dapat kulihat. Tiap bebrapa menit pasti lewat pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam barang dagangannya. Kali ini tidak jauh dariku seorang bapak dengan pakaian lusuh menjajakan minuman kepada para penumpang. Wajahnya berpeluh keringat. Sempat terpikir, berapa orang yang harus ia hidupi dengan dagangannya? Entah kenapa aku jadi teringat dengan Ayah.
Lalu tak lama kemudian lewat seorang ibu yang sedang menggendong anaknya sambil membawa sebuah kotak musik yang dikalungkan di badannya. Kotak itu berfungsi sebagai sound yang terhubung dengan sebuah pemutar kaset dan sebuah michrophone. Dari kotak itu terdengar lantunan lagu dangdut 'Alamat Palsu' beserta suara parau si ibu. Oh ternyata ibu ini seorang pengamen. Bersama dengan anak di gendongannya ia berjalan dari gerbong ke gerbong sambil bernyanyi dengan suaranya yg kadang terdengar serak. Hatiku ngilu.
Aku masih tertegun ketika tiba-tiba saja mataku menatap seseorang dengan fisik yang mencengangkan. Kaki dan tangannya puntung. Ia berjalan dengan bantuan lutut dan sikunya yg masih tersisa. Pakaiannya compang camping. Dari gerbong ke gerbong ia berjalan seperti itu mengharap belas kasih para penumpang. Miris melihatnya
Aku lalu mengalihkan pandanganku keluar kereta. Tampak rumah-rumah kecil berdiri di sepanjang rel kereta. Rumah-rumah itu beratapkan kardus yang ditimpa ban-ban bekas agar tidak lepas saat angin kencang menerpa. Lingkungan di sekitarnya sangat jauh dari kata bersih. Di sana hidup berbagai keluarga bersempit-sempitan, berdempet-dempet. Pedih melihatnya
Tak terasa, kereta yang kutumpangi sudah sampai stasiun Tanah Abang. Dalam hati aku bersyukur, bukan hanya karena sampai tujuan dengan selamat, tetapi karena masih banyak hal yg harusnya aku syukuri di dunia ini. Aku lebih beruntung dari mereka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar