Ketika menulis tulisan ini aku sedang dihadiahi sebuah 'sentilan' dari Dia. Lidahku dititipkan 2 buah sariawan. sakit juga rasanya walau mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk membuatku tidak selera makan. Sariawan membuatku menjadi lebih pendiam. Bicara hanya sekedarnya. Kadang hanya mengangguk dan menggeleng. Mulut lebih sering tertutup, kadang terbuka untuk minum dan makan saja.
Sebelumnya aku memang banyak sekali bicara. Oceh sana, oceh sini. Komentar sana dan sini. Sariawan seolah menjadi gembok mulutku. Aku lebih banyak diam dan mengamati. Menjadi lebih sering mendengar daripada mengomentari.
Sariawan pada akhirnya menjadi semacam media untukku belajar mengendalikan lisan. Membuatku menahan diri untuk tidak berkomentar. Kicauan kalimat-kalimat tidak penting dari mulutku mulai jarang terdengar.
Pada akhirnya sariawan muncul di mulutku untuk mengingatkan, bahwa aku benar-benar harus menjaga lisan. Mungkin jika sariawan tidak bersemayam di lidah ini, akan lebih banyak perkataan sia-sia yang terucap, akan lebih banyak kalimat-kalimat yang menyakitkan hati orang lain yang keluar. Dari penyakit yang bernama ilmiah stomatitis ini mungkin kita juga bisa belajar untuk bersyukur. Bersyukur karena telah diingatkan untuk menjaga lisan. Mungkin itulah mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk selalu bersyukur di setiap keadaan. Karena selalu ada hikmah terbaik dari setiap hal dan kejadian yang Dia berikan.
Terima kasih sariawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar