10 Juli 2014
'Okay, why we should choose you to get the scholarship?' sambil membetulkan posisi kacamatanya, pewawancara yang menurutku masih berumur pertengahan 40 dan beranak satu serta beristri satu bertanya serius.
Ini adalah pertanyaan yang kutunggu. Jawabannya sudah kusiapkan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan yang lalu.
Mei 2014
Impianku untuk melanjutkan studi ke luar negeri sepertinya harus tertunda. Beasiswa yang kuincar-incar ternyata telah menutup pendaftarannya untuk penerimaan tahun ini. Bodoh memang aku rasanya. Informasi deadline pendaftaran beasiswa ini terlewatkan olehku. Menyesalpun tak berguna. Yasudahlah, do'a tetap kupanjatkan,'Rabb aku mohon pada-Mu Yang Menentukan Segalanya, tahun ini ya, ya tahun ini tolong kuliahkan aku ke Eropa'. Aku percaya do'a-do'a yang sudah kupanjatkan dari waktu lama ini pasti akan dikabulkan. Ikhtiar tetap kujalankan, aku telah mendaftar untuk mengikuti tes IELTS, sebagai salahsatu syarat untuk melanjutkan studi ke universitas-universitas di Eropa.
September 2013
Keputusan besar dalam hidupku baru saja kubuat. Sudah bulat tekadku. Akan kuselesaikan skripsiku semester ini juga. Data-data penunjang skripsiku telah lengkap. Hanya tinggal diolah sedikit saja. Aku lalu menyusun ulang rencana hidupku setahun ke depan. Melanjutkan studi S2 di Eropa yang seharusnya masih beberapa tahun lagi dalam rencanaku, akhirnya kumajukan menjadi....tahun depan.
(Tunggu lanjutannya ya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar