Setelah sekian purnama
berlalu, akhirnya lanjutan cerita berantai Impian Nomor 7, saya lanjutkan
kembali.
Januari
2010
Seorang motivator kondang
yang aku lupa namanya pernah mengatakan bahwa kalau ingin impian anda terwujud,
maka tuliskanlah mimpi-mimpi itu. Maka aku telan bulat dan mentah perkataan
tersebut di siang yang panas ini. Di atas meja makan yang permukaannya dilapisi
kaca yang retak karena kejahilan masa kecil abangku mengetok-ngetok meja dengan
sendok aluminium, aku mulai menulis mimpi-mimpiku pada secarik kertas.
Di baris pertama aku
menuliskan 'Target Hidup'. Lalu aku mulai memikirkan impian apa yang harus kucapai
dalam waktu dekat ini. Sejenak aku merenung. Lalu aku tulis pada nomor pertama
impianku, 'Lulus SMA'. Sederhana bukan?
Ternyata tidak. Kau pasti
tahu teman, Ujian Nasional (UN) menjadi momok yang cukup menegangkan bagi
siswa-siswi SMA se-Nusantara pada waktu itu. Bayangkan saja, lulus tidaknya
murid dalam pendidikan SMA ditentukan dengan ujian tertulis pilihan berganda
yang dilaksanakan hanya beberapa hari. Proses belajar kami di masa
SMA selama 3 tahun ditentukan berhasil atau tidaknya oleh soal-soal pilihan
berganda a,b,c,d,e. Fantastis bukan? Fantastis karena kenyataannya banyak siswa
berprestasi yang tidak lulus karena model ujian semacam ini. Oke, cukup. Ini
hanya pendapatku pribadi.
Baru target pertama yang
kutulis, tapi hati sudah deg-degan hai kawan. Tidak mau berlama-lama, aku tulis
target hidupku yang ke 2. Ini lebih memacu adrenalinku lagi kawan. Karena
selanjutnya yang kutulis adalah menyangkut jenjang pendidikanku setelah SMA,
yang mungkin akan menentukan arah hidupku nanti 4 taun ke depan. Ya, kau benar.
Kuliah.
Menentukan target hidup
nomor 2 ini cukup pelik menurutku, karena sejujurnya aku pun belum tahu ingin
kuliah di mana, di jurusan apa. Kalau merujuk kembali kepada si motivator
kondang, beliau menyarankan dalam menentukan jurusan di perkuliahan nanti,
pilihlah bidang yang sesuai minatmu dan bakatmu. Maka berdasarkan petuah beliau
tersebut, mulailah aku berpikir. Lalu berpikir. Cukup lama.
Nanti kita sambung
lagi...
Kapan disambung lagi mas? Kepoooo 😁✌
BalasHapus