Setiap orang pasti punya mimpi dan impian di masa kecilnya. Begitu juga aku, dan pasti engkau juga. Dan biasanya impian kita saat itu sangatlah tinggi. Lebih tinggi dari langi-langit atap rumah. Namun seiring bertambahnya usia, mimpi-mimpi itu terlihat semakin tinggi sampai-sampai tidak lagi terlihat mata dan akhirnya hilang begitu saja.
Dulu aku punya mimpi. Impian yang besar. Impian yang mungkin kau juga pernah memimpikannya. Aku bermimpi untuk menjadi presiden. Saat itu aku cukup terkesima dengan presiden ke 2 negara ini. Soeharto. Dulu aku sempat mengira Pak Harto adalah presiden seluruh dunia, ternyata aku salah. Aku yang saat itu masih kecil berpikir orang yang setua itu saja bisa memerintah Negara yang sangat besar ini. Kenapa aku tidak? Namun impianku ketika itu langsung berubah. Jatuhnya hegemoni Soeharto membuatku enggan menjadi presiden. Aku yang saat itu masih berada di taman kanak-kanak berpikir menjadi presiden tidaklah enak. Harus mengurus ratusan juta orang dengan wilayah seluas negaraku ini pastilah sulit. Apalagi orang-orang di negaraku ini adalah orang yang lihai mengkritik dan menghujat serta pandai mencari kesalahan orang lain, termasuk aku. Pastilah sulit. Pastilah merepotkan. Pastilah melelahkan untuk menjadi presiden di Negara ini. Namun saat ini aku malah heran. Dengan masalah yang sangat kompleks di Negara ini, orang-orang malah berlomba-lomba untuk menjadi presiden di Negaraku yang masih carut marut ini.
Akhirnya aku mengalihkan impianku untuk bisa menjadi pemain sepak bola. Impian hampir semua anak lelaki saat kecil. Aku terpesona melihat para pemain sepak bola yang lihai menggocek bola lalu menendangnya hingga masuk ke gawang. Aku merasa menendang bola bukanlah perkara yang sulit bagiku. Hanya tinggal menendang, memasukkan bola ke gawang, tidak perlu repot memikirkan nasib orang banyak bahkan bisa mendapat pujian dari penonton. Kalaupun mendapat cacian atau kritikan, toh sepakbola adalah permainan tim, segala cacian dan makian dibebankan kepada seluruh tim, tidak perseorangan, walaupun kadang-kadang cacian terhadap individu terjadi juga. Aku mantap dengan pilihanku. Tapi apalah daya. Kakiku sering keseleo karena sering bermain di lapangan bola yang penuh batu dan pasir. Orangtuaku menganggap aku tidaklah cocok menjadi pemain sepakbola. Tulang kakiku dianggap terlalu lunak.
Akhirnya aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar berhenti untuk memikirkan impian dan cita-cita. Aku lebih memilih untuk serius belajar di bangku sekolah. Masalah impian dan cita-cita, nantilah dipikirkan setelah aku cukup dewasa. Dengan serius belajar di bangku sekolah, aku mendapat hasilnya juga. Aku selalu berada di jajaran 5 besar juara kelas. Prestasi yang cukup membanggakan. Namun aku masih belum mempunyai impian dan cita-cita yang baru.
Hingga kini akhirnya aku kuliah di jurusan Teknik Perkapalan. Ini mungkin impianku, cita-citaku, walaupun ketika kecil aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi insinyur kapal laut. Tapi ya beginilah hidup. Hidup ini pilihan. Aku telah memilih jalanku, impianku. Tapi tahukah kau? Satu hal yang kusadari tentang impian. Apapun mimpi dan impian yang ingin kita capai, haruslah bermanfaat bagi orang lain juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar