Senin, 06 Agustus 2012

Rumus Usaha dari Sang Guru Fisika


Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga Hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi.

Kali ini memoriku dilempar lagi ke kelas 3 SMA, di sebuah kelas saat pelajaran Fisika 

Cuaca di luar kelas cukup panas. Pak Amin sedang menjelaskan pelajaran Fisika. Kali ini mengenai mekanika. Aku duduk sambil mengantuk mendengarkan penjelasan beliau mengenai gaya, kecepatan, jarak, percepatan,  usaha dan segala hal yg berkaitan dengannya. Kulihat sekilas teman-temanku yang lain, nasibnya tak jauh berbeda denganku, terlihat malas-malasan dan jenuh. Otak kami penat dijejali berbagai mata pelajaran yang harus kami kuasai agar lulus Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari. Belum lagi ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)  yang persaingannya sangat ketat yang waktunya juga tidak lama lagi. Berbagai ilmu harus kami masukkan ke dalam kepala kami untuk kami pahami di sisa waktu hari-hari terakhir sekolah ini.

Lalu tiba-tiba suara Pak Amin menggelegar menghentak kami,.
‘ANAK-ANAKKU!! ‘ Pak Amin mengejutkan kami.


‘Hukum fisika yang sedang kita pelajari sebenarnya berhubungan dengan kondisi yang akan kalian hadapi nanti!!’

‘Tahukah kau tentang rumus Usaha, atau yang biasa dilambangkan dengan W?’

Pak Amin lalu mengambil spidol di mejanya lalu menuliskan sebuah rumus di papan tulis.

W, atau usaha berbanding lurus dengan perpindahan atau jarak yang dilambangkan dengan S. Begitu juga dengan apa yang akan kau hadapi. Usaha yang kau lakukan berbanding lurus dengan perpindahan yang akan terjadi dalam hidupmu. Perpindahan yang dimaksud adalah perpindahan nasib, perubahan masa depan, penentuan hidupmu!’ Pak Amin berkoar dengan berapi-api.

‘Jika kita lihat rumus di papan tulis, apa yang harus kita lakukan agar nilai S menjadi semakin besar? Yak benar sekali, kau harus membuat nilai dari W juga semakin besar! Lalu apa itu F? F adalah gaya. Dalam hidup ini, F adalah rintangan dan pesaing-pesaing yang akan kau hadapi.’

Aku yang semula mengantuk, mulai serius mendengarkan penjelasan beliau. Begitu juga teman-temanku yang lain tampak mulai serius mendengarkan mengenai hukum fisika yang satu ini.

‘Begini anakku. Kau akan menghadapi SNMPTN yang persaingannya sangat ketat. Kau pasti ingin masuk ke universitas-universitas terbaik di negeri ini kan? Mari kita lihat lagi rumus di papan tulis.’

Kami lalu kembali melihat rumus yang tertera di papan tulis. Otak polos kami mencoba memahami apa yang dijelaskan Pak Amin.

S adalah masa depanmu yang kau tuju, cita-cita yang kau impikan. Jika kau menginginkan lulus di universitas terbaik, itu artinya kau menginginkan nilai  S yang besar, dengan kata lain kau menginginkan perpindahan nasib yang besar. Sementara itu, kau juga telah mengetahui untuk mencapai nilai S yang besar itu kau harus menghadapi berbagai macam rintangan dan pesaing-pesaing yang berasal dari seluruh Indonesia yang juga menginginkan kuliah di universitas terbaik. Para pesaing dan rintangan itu dilambangkan dengan F.’

Oke, kali ini rumus tersebut mulai bisa aku cerna. Teman-temanku yang lain tampak mengangguk-angguk tanda mengerti.

‘Dari rumus di atas, apa yang kau lakukan agar mencapai nilai S yang besar tersebut? Apa yang harus kau lakukan agar cita-citamu kuliah di universitas terbaik bisa tercapai?’
‘Kau harus memperbesar nilai W!’

KAU HARUS MEMPERBESAR USAHAMU!!!!’

Kali ini suara Pak Amin menggelegar memantul mantul di ruang dinding kelas dan otak kami. Kami terhenyak, terdiam, tersadar.

‘Kau harus memperbesar usahamu, anakku. Bagaimana bisa kau mencapai nilai S yang besar sementara nila W yang kau beri kecil. Bagaimana bisa kau mencapai cita-citamu yang besar jika usaha yang kau lakukan kecil? Bagaimana bisa kau mengalahkan pesaing-pesaingmu di ujian masuk perguruan tinggi nanti jika usaha yang kau lakukan kecil?’

Kelas menjadi hening. Diam menghinggapi diri kami. Pelan-pelan terasa ada yang bergemuruh dalam dadaku. Otak yang beku kembali menghangat dibakar api semangat. Dinginnya hati karena rasa pesimis dan jenuh mulai berkobar lagi.

‘Kau harus berusaha anakku!! Kau harus memperbesar usahamu!!! Usaha apa yang bisa kau lakukan? BELAJAR!! Belajarlah anakku!! Kuasai ilmu yang kau pelajari! Pahami materi pelajaran yang diberikan guru-gurumu!! Itulah bentuk usaha yang bisa kau lakukan, itulah nilai W! Semakin besar usahamu, semakin besar nilai S yang kau dapat. Semakin giat kau belajar, semakin tinggi cita-cita yang akan kau capai! Semangatlah belajar anakku, waktumu tidak lama lagi sebelum ujian masuk perguruan tinggi datang.’ Pak Amin mengakhiri ceramah motivasinya.

Kami tercenung mendengar nasihat Pak Amin yang sangat menggebu-gebu. Nasihat barusan seolah-olah menghidupkan kembali kobaran api semangat yang selama ini meredup dalam hati kami.

Kini, sudah 2 tahun lebih sejak beliau menyampaikan nasihat itu di kelasku. Nasihat tersebut masih terngiang-ngiang di otakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar