Assalamu'alaikum saudara-saudari
Semoga Hidup semakin beriman
MARKIMENLAG : Mari Kita Menulis Lagi
Mungkin judul posting di atas cukup provokatif. Tapi mungkin inilah hal yang sebenarnya terjadi pada diri kita, lebih tepatnya sebagian besar dari kita, termasuk aku.
Judul di atas hanyalah sebuah kiasan
Tuhan adalah Zat yang menciptakan kita, seisi dunia semesta jagad raya. Semua hal bergantung pada-Nya. Apakah kau percaya? Jika kau beriman pasti kau percaya dan tidak ada masalah bagimu untuk membaca paragraf selanjutnya. Jika kau tidak percaya pada Sang Pencipta maka khatamlah tulisan ini di paragraf ini karena pada paragraf selanjutnya akan kau anggap omong kosong.
Oke pada paragraf sebelumnya kita sudah sepakat akan kekuasaan Tuhan dan kita ini adalah ciptaan-Nya. Pantaskah untuk 'Sesuatu' yang telah menciptakan kita itu membuat peraturan dan mengatur kita sekehendak-Nya? Pasti YA jawabannya. Karena Dia punya hak untuk mengatur, dan sekali lagi jangan lupa Dia punya kuasa atas diri kita.
Lalu lihatlah sekeliling kita, lihatlah diri kita sendiri. Apakah perilaku kita selama ini mengikuti peraturan-Nya? Tanpa sadar kita telah 'membunuh-Nya' dari hati kita, pelan-pelan.
Lihat diri kita, kita campakkan diri ini pada nafsu yang terus menggelayuti. Lihat diri kita, sudah berapa sering kita lebih mementingkan nafsu daripada aturan Tuhan yang tak lekang zaman itu?
Lihat pejabat di sana, pemimpin kita semakin banyak yang tak peduli, sibuk urusan duniawi, entah itu korupsi, menjegal lawan politik, meraup kekayaan negeri. Maka di hati mereka para pengejar harta dan kuasa, Tuhan (mungkin) telah mati.
Lalu lihat anak-anak muda itu (termasuk aku sendiri) sibuk dengan nafsunya sendiri, kita menyebutnya dengan nama 'Cinta'. Saling berangkulan, berpelukan, dan mengumbar kata-kata mesra, lalu mengatasnamakan 'Cinta'. Ah sungguh nafsu telah membutakan mata kita kawan, termasuk aku. Tak tahukah kita tentang peringatan Dia bahwa jangan sekali-kali kita dekati zina? Tak pedulikah kita dengan aturan-aturan di kitab yang takkan berubah sampai akhir zaman itu? Maka di hati kita, para pemuda pemuja nafsu, Tuhan (mungkin) telah mati.
Lalu coba lihat golongan orang-orang yang kurang mampu secara finansial itu. Tak sedikit dari mereka kerja pontang-panting menghidupi keluarga. Berangkat mencari nafkah sebelum beranjak Shubuh, mereka lupa menghadap Tuhan dahulu. Maka di hati mereka yang sibuk dengan dunia, Tuhan (mungkin) telah mati.
Kawan, kita telah 'membunuh-Nya'. Kita mengaku percaya dengan segala kuasa-Nya tetapi bertingkah seolah Dia tidak ada. Kita yang percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian bertingkah seolah tak akan pernah dihinggapi mati.
Aku juga sama sepertimu, 'membunuh' Tuhan diam-diam di hatiku. Ayo kita berubah kawan. Masih ada waktu, tinggalkan semua nafsu kita itu. Hidupkan kembali Allah di hati kita, jangan biarkan Dia mati. Sehebat apapun pencapaian, sebanyak apapun kekayaan semua akan terasa HAMPA saat kita tahu bahwa ternyata milik Dialah itu semua. Lalu ketika akhirnya kita mati dan meninggalkan dunia ini, masihkah ada Allah di hati kita? Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar