Rabu, 14 September 2011

Ke Depok Aku Kembali


Assalamu'alaikum saudara saudari sekalian yg saya cintai. Bagaimana kabar anda-anda sekalian? Superrr Sekaliiii.

Oke, MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi. Sebenarnya bingung juga mau nulis apaan. Tetapi ya sudahlah, yg penting menulis saja dahulu, lebih tepatnya mengetik.

Hari ini aku akan kembali ke kota Depok. Kembali akan menjalani hari-hari kuliah penuh tantangan dan rintangan yang kadang tinggi menjulang. Dan kembali harus meninggalkan kota Medan tercinta ini dengan segala kenangan yg ada. Terdengar berlebihan.

Dan sekarang aku sedang sibuk packing. Banyak barang yg harus dibawa. Jangan kau kira aku sedang packing pakaian. Karena yg kulakukan sekarang adalah packing makanan. Yep, Mama tercinta menyiapkan banyak makanan cemilan untukku di kosan nanti. Mulai dari ikan teri goreng kentang yg rasanya gurih dan renyah, ayam goreng untuk makan malam nanti, dan pastinya sisa kue lebaran yg tidak habis. Semua disusun dengan rapi di dalam sebuah kotak. Banyak juga makanan ini, sampai-sampai aku merasa dipersiapkan menjadi relawan yg akan membawa sembako ke Somalia.

Cuaca diluar jendela kamarku tampak mendung. Mungkin langit kota Medan bersedih karena akan kutinggalkan untuk waktu yg lama, yang aku sendiri pun tidak tahu kapan akan kembali. Terdengar berlebihan. Dan di sinilah aku sekarang, menghabiskan saat-saat terakhir di dalam kamar tidurku yg jauh lebih nyaman daripada kamar kosanku. Saat-saat yg melankolis. Kadang sedih juga harus meninggalkan kota kelahiran kita. Tapi hidup itu pilihan. Dan aku sudah memilih untuk pergi dari kota ini dan menuntut ilmu di kota orang yg jaraknya hanya 2 jam dari kota asalku jika kau naik pesawat terbang, itu juga kalau pesawatnya tidak terlambat.

Jika sedih begini, aku langsung teringat penggalan syair Imam Syafi'i yg bunyinya seperti ini

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang


Jika membaca kalimat ini, semangatku tersentak kembali. Kesedihan menghilang. Cerdas nian Imam Syafi'i dengan kalimat-kalimat inspiratifnya. 

Dan semangatku untuk kembali menjalani kuliah jauh dari kota asalku semakin bertambah jika mengingat bahwa ternyata Rasulullah juga 'merantau' atau lebih tepatnya hijrah. Dan hijrahnya beliau berbuah manis dengan berkembang pesatnya agama Islam. Dan itulah yg aku harapkan, semoga 'hijrah' yg aku lakukan juga akan berbuah manis nantinya.

Cuaca di luar jendela kamarku masih mendung, namun hatiku tidak. Aku masih menyimpan harapan untuk bisa kembali ke kota ini, Medan, suatu saat nanti, layaknya kisah kembalinya Rasulullah ke tanah kelahiran beliau, Mekkah.

Yasudahlah. Aku masih terduduk di kamarku ini, di depan layar 14 inch ini untuk berbagi dengan kalian. Aku masih terduduk di kamar ini, menunggu Mama pulang membawa bolu Meranti.

Selamat Menjalani Hidup, jangan lupa lihat kiri dan kanan kalo nyebrang.

1 komentar:

  1. Saya agak merinding bacanya, kak..

    mohon follback blog saya, ya, kak.
    Assalamualaikum..

    BalasHapus