Minggu, 29 Juli 2012

Kuliah untuk Mereka

Assalamu'alaikum saudara saudari. Semoga hidup semakin beriman.

MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi


Entah kenapa tiba-tiba otakku kembali mengingat ke situasi dua tahun lalu. 

Hari itu entah tanggal berapa aku tak ingat. Saat itu aku duduk terpaku di dalam bis kota, baru saja pulang dari sebuah pameran pendidikan. Mataku memandang ke arah luar melihat mobil-mobil melintas sibuk hilir mudik. Para pengendara sepeda motor meliak-liuk di antara mobil dan angkutan lainnya menambah sesak jalanan ibu kota.

Seorang pengamen lalu masuk dengan ukulele di tangannya. Dari garis-garis di wajahnya, aku rasa umurnya sudah kepala tiga, atau mungkin di penghujungnya. Setelah berbasa-basi sebentar, ia mulai bernyanyi sambil memainkan ukulelenya yg juga terlihat sudah berumur. Suaranya serak. Lelaki ini berusaha sekuat tenaga dan jiwanya untuk bernyanyi mengikuti nada pada ukulelenya. Semakin ia berusaha, semakin jauh pula nada-nada suaranya berlarian entah ke mana. Suaranya sayup-sayup terdengar, berusaha mengalahkan suara reot mesin bis kota ini yg juga tak mau kalah dengan suara deru mobil-mobil di luar sana.  Dari sorot matanya aku tahu, ia sangat menjiwai lagu tersebut. Sebuah lagu tentang kesetiaan mencintai seseorang walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Dari lagu yang ia nyanyikan aku bisa menebak, pengamen ini masih lajang. Bujangan tulen.

Mataku kembali memandang ke luar, ke arah jalanan. Hari sudah menjelang malam. Lampu-lampu jalanan mulai dihidupkan. Bis kota ini masih melaju dengan suara mesinnya yg tua. Aku teringat dengan hari-hari kuliahku. Baru sebulan aku menjalani masa kuliah ini tetapi aku sudah merasa bosan dan jenuh. Seminggu terakhir aku merasa berada di titik-titik terendah semangatku untuk kuliah, bahkan sempat terlintas di pikiranku jika kuliah ini tidak ada artinya.

Lalu tiba-tiba aku teringat kembali tentang perjuanganku untuk lulus di seleksi masuk perguruan tinggi dan akhirnya bisa kuliah di kampusku sekarang ini. Aku teringat tentang impian-impianku. Aku teringat kembali jerih payah orangtuaku dan tangis haru kebanggaan mereka ketika aku diterima di universitas ini. Aku teringat kembali tentang teman-temanku yg kurang beruntung yg bahkan tidak mengenal  dan mengecap pendidikan. Aku teringat tentang suara serak si pengamen yg meskipun suaranya mengkhianati nada namun tetap ia paksakan untuk bernyanyi demi mengisi kosongnya perut yg berontak minta diisi. Aku teringat, aku kuliah bukan hanya untukku, tapi juga untuk mereka. SEMOGA

4 komentar: