MARKIMENLAG: Mari Kita Menulis Lagi
Entah kenapa tiba-tiba otakku kembali mengingat ke situasi dua tahun lalu.
Hari itu entah tanggal berapa aku tak ingat. Saat itu aku
duduk terpaku di dalam bis kota, baru saja pulang dari sebuah pameran
pendidikan. Mataku memandang ke arah luar melihat mobil-mobil melintas sibuk
hilir mudik. Para pengendara sepeda motor meliak-liuk di antara mobil dan
angkutan lainnya menambah sesak jalanan ibu kota.
Seorang pengamen lalu masuk dengan ukulele di tangannya.
Dari garis-garis di wajahnya, aku rasa umurnya sudah kepala tiga, atau mungkin
di penghujungnya. Setelah berbasa-basi sebentar, ia mulai bernyanyi sambil
memainkan ukulelenya yg juga terlihat sudah berumur. Suaranya serak. Lelaki ini
berusaha sekuat tenaga dan jiwanya untuk bernyanyi mengikuti nada pada
ukulelenya. Semakin ia berusaha, semakin jauh pula nada-nada suaranya berlarian
entah ke mana. Suaranya sayup-sayup terdengar, berusaha mengalahkan suara reot
mesin bis kota ini yg juga tak mau kalah dengan suara deru mobil-mobil di luar
sana. Dari sorot matanya aku tahu, ia
sangat menjiwai lagu tersebut. Sebuah lagu tentang kesetiaan mencintai
seseorang walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan. Dari lagu yang ia
nyanyikan aku bisa menebak, pengamen ini masih lajang. Bujangan tulen.
Mataku kembali memandang ke luar, ke arah jalanan. Hari
sudah menjelang malam. Lampu-lampu jalanan mulai dihidupkan. Bis kota ini masih
melaju dengan suara mesinnya yg tua. Aku teringat dengan hari-hari kuliahku.
Baru sebulan aku menjalani masa kuliah ini tetapi aku sudah merasa bosan dan
jenuh. Seminggu terakhir aku merasa berada di titik-titik terendah semangatku
untuk kuliah, bahkan sempat terlintas di pikiranku jika kuliah ini tidak ada
artinya.
Lalu tiba-tiba aku teringat kembali tentang perjuanganku
untuk lulus di seleksi masuk perguruan tinggi dan akhirnya bisa kuliah di
kampusku sekarang ini. Aku teringat tentang impian-impianku. Aku teringat
kembali jerih payah orangtuaku dan tangis haru kebanggaan mereka ketika aku
diterima di universitas ini. Aku teringat kembali tentang teman-temanku yg
kurang beruntung yg bahkan tidak mengenal
dan mengecap pendidikan. Aku teringat tentang suara serak si pengamen yg
meskipun suaranya mengkhianati nada namun tetap ia paksakan untuk bernyanyi
demi mengisi kosongnya perut yg berontak minta diisi. Aku teringat, aku kuliah
bukan hanya untukku, tapi juga untuk mereka. SEMOGA
nice post kak :)
BalasHapusMakasih Ali. Haha
Hapustulisannya benar-benar memotivasi..
BalasHapusteruskan karyamu afuza
Makasih Pak Pengacara
Hapus